Follow Us @soratemplates

Sunday, 18 April 2021

Alergi Karena Pandemi

April 18, 2021 0 Comments
Assalamualaikum, annyeong! 

Dua hal yang bikin saya sebal karena pandemi saat ini : (1) Bikin ribet kalo mau pulang kampung karena aturan kantor suami yang kudu wajib selalu presensi walaupun sedang libur agar supaya perusahaan tau lokasi karyawan biar tidak pulang kantor zzzz dan (2) Bikin saya punya alergi. 

Template by Canva
Edited and photo by Niklosebelas

Namanya Dishidrosis dermatitis atau dermatitis kontak iritan. Begitu diagnosa yang diberikan dokter spesialis kulit yang saya hubungi secara daring lewat aplikasi.


Asal Mula

Semua ini bermula saat pandemi merebak dan bertepatan dengan saya yang baru melahirkan, akhirnya tugas belanja mingguan diambil alih suami selama beberapa bulan. Tapi kok lama-lama gatel ya pengen belanja sendiri gitu... Biar bisa berimprovisasi saat liat bahan masakan tertentu di pasar.

Tapiii...

Karena diliputi ketakutan dan kewaspadaan, setiap weekly shopping itu saya bawa hand sanitizer (HS) sendiri. Jadi tiap abis mampir ke satu kios, saya akan pake HS. Nah sekali belanja, saya bisa minimal mampir ke 4-5 kios. Belum lagi kalo misal dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mampir ke minimarket atau beli sesuatu. Jadi in total, sekali keluar rumah saya bisa pake 7-8x HS dalam kurun waktu kurang dari 3 jam. Ditambah, saya ada anak bayi yang sedang MPASI. Makin sering lah cuci tangan. Oh iya kerjaan domestik cuci piring dan cuci baju juga belum dihitung. Udah berapa banyak kontak dengan bahan iritan (sabun, detergent, alkohol dll) dalam sehari?

Banyak. 

Gejala

Sekitar akhir tahun lalu, tangan saya mulai protes karena keseringan kontak sama bahan iritan. Punggung dan telapak tangan saya jadi mengkilat glowing shinning shimmering splendid. Sampe rasanya kaya gak punya sidik jari. Ternyata ini adalah tanda awal tangan saya kering kerontang. 

Lama-lama muncul "bruntusan" kasar di kelingking yang pasti muncul hanya tiap weekend setelah grocery shopping tadi dan akan hilang beberapa hari kemudian. Kemudian, bruntusan ini mulai menyebar ke jari lain seiring berjalannya waktu dan waktu munculnya udah bukan hitungan hari lagi tapi jadi mingguan. 

Makin lama gejala alerginya makin bertambah. Dari yang cuma kulit mengkilat aja, lalu nambah ada bruntusan. Lalu tambah lagi keluhannya : perih, kemerahan dan panas. Sensasinya kaya tangan yang diolesin cabe rawittttt. MONANGEZZZZ

Buat IRT yang aktif di dapur seperti saya, keluhan perih panas ini sungguh merepotkan. Apalagi kalo kena bumbu-bumbu dapur. Terutama cabe. Makanya saya kalo makan pakai sambel harus pake sendok atau sarung tangan plastik. Ribet! 

Keluhan gak berhenti disitu. Tiga bulan belakangan, kalo lagi kambuh... Jari yang bruntusan ini jadi super gatal. Gatal sekali sampe rasanya ingin menangis menahan gatalnya. Ingin digaruk tapi saya tau, kalo digaruk bikin lecet dan akan muncul masalah baru : rawan infeksi. 

Setelah saya amati, sensasi gatal yang luar biasa ini muncul bersamaan dengan adanya "gelembung air" dibawah kulit yang tidak teraba tapi keliatan garis batasnya. Saat alerginya lagi calm down, gelembung air tersebut akan mengering dan jadi bruntusan kasar.

Lihat jari kelingking. Kalo di foto emang keliatan gak kenapa-kenapa tapi kalo dipegang ini berasa banget kering ya dan kalo dilihat langsung ini aslinya kemerahan dan banyak gelembung-gelembungnya

Pengobatan

Karena merasa ada yang salah, saya lalu berkonsultasi dengan dokter kulit lewat aplikasi. Dokter yang pertama meresepkan obat Cerini (minum), salep Decubal (oles) dan salep Lotasbat (oles). Tapi karena saya gak disiplin, akhirnya gak ngefek.

Lalu saya konsultasi lagi ke dokter kulit lain dan lagiii... Diberi obat Cetirizine (minum), salep Esperson (oles) dan salep Carmed (oles). Kali ini saya coba untuk disiplin. Obatnya berhasil... Tapi... Bikin kulit kering sekali sampe mengelupas dan pecah-pecah. Ditambah salep-salep ini lumayan merepotkan karena lama menyerap ke kulit mengingat saya ada anak bayi yang mengharuskan saya sering cuci tangan. 

Sudah sampai dititik gak tahan dengan alergi ini, saya akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke RS untuk berobat ke dokter kulit. 

Oleh dokter kulit tersebut, saya diberi cetirizine (minum), salep racikan, sabun cuci tangan khusus (merk Topicare) dan pelembab khusus (merk Topicare+)

Waaaaa... Ini waktu pake sabun cuci tangan dan pelembab tangan tadi rasanya kaya dapet pencerahan huhu sampe terharu. Alergi saya akhirnya bisa dikontrol dalam beberapa hari aja. 

Sabunnya gak bikin kering sama sekali walaupun sering cuci tangan. Pelembabnya juga cepet nyerep ke kulit, jadi gak khawatir saat pegang anak. Gimana gak terharu cobaaaa... Inilah yang aku butuhkan selama ini. 

Pengendalian

Saya tahu betul bahwa yang namanya alergi agak susah untuk sembuh (mungkin bisa tapi butuh waktu lama). Jadi yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengendalikan alerginya. Yaitu dengan: 

1. Sadari dan menerima bahwa sekarang tangan saya high maintenance (kalo inget harga sabun cuci tangan dan Pelembab tadi bikin dompet nangis) padahal sekarang skin care Saya super minimal cuma pake facial wash tok!

2. Meminimalisir kontak dengan bahan iritan, caranya:

A. Pakai sarung tangan silicon saat mencuci piring dan baju. Jujur, ini merepotkan apalagi kalo pas lagi nyuci tau-tau anak nangis. 
B. Cuci tangan dengan sabun khusus. Sebenarnya untuk mandi juga harusnya saya pakai sabun khusus tadi tapi ntar dulu deh... Mandi kan cuma 2x sementara cuci tangan bisa berkali-kali. 
C. Setelah cuci tangan, pakai pelembab. Wajib. Banget. Karena kalo tangan saya kelamaan kering kerontang bakal lebih rentan iritasi. Apalagi saat alergi sedang kambuh dan saya sedang pakai obat salepnya ini kulit telapak tangan saya udah macem ular yang lagi ganti kulit. Super kering sampe mengelupas.
3. Kalo udah kambuh, yaudah banyakin sabar aja nahan diri biar gak garuk-garuk walaupun rasanya pengen bangettttt digaruk sampe puasssss

Total Damage

Total damage yang harus saya keluarkan untuk ke dokter mungkin sekitar 1,5jt huhu belum sabun dan pelembab yang harus rutin saya beli tiap bulan sekitar 250rb. Abis mau gimana lagi, kalo dibiarin aja wadduhhh... Mana tahan :(

Dari alergi ini saya belajar bahwa:
Sesuatu yang berlebihan itu gak baik. 

Sekian dulu tulisan saya kali ini
 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~

๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Wednesday, 3 March 2021

Kunyit, si Komoditas Lokal dengan Beragam Khasiat

March 03, 2021 0 Comments

Template and photo by Canva, edited by Niklosebelas

Assalamualaikum! Annyeong~

Sebagai seorang anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan yang tak jarang banyak keterbatasan fasilitas kesehatan yang memadai, saya sudah familiar dengan pemanfaatan komoditas lokal untuk obat-obatan rumahan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. 

Pasalnya, komoditas lokal seperti kunyit, jahe dan kencur sangatlah murah, mudah diperoleh dan tentu saja gampang untuk digunakan sebagai obat darurat. Selain itu, penggunaan komoditas lokal juga dapat meminimalisir produksi sampah sehingga lingkungan terjaga tetap bersih dan cantik

Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini, komoditas lokal semakin booming karena manfaatnya yang tak hanya sebagai obat saat sakit tapi juga dapat digunakan untuk bahan baku jamu yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Sebuah dampak positif dari pandemi, Semakin banyak orang yang Memberdayakan komoditas lokal untuk sektor kesehatan. Tak cuma masyarakat rural tapi kini sudah merambah ke masyarakat urban. 

Dari sekian banyak komoditas lokal yang dimanfaatkan untuk sektor kesehatan, saya sangat tertarik dengan kunyit! 

Kandungan Kunyit

Tanaman dengan nama ilmiah Curcuma domestica atau juga dikenal sebagai turmeric merupakan tanaman yang banyak dijumpai diwilayah Asia Tenggara. Mengutip dari website Cancer Chemoprevention Research Center Universitas Gadjah Mada kandungan zat-zat kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah sebagai berikut :

a. zat warna kurkuminoid yang merupakan suatu senyawa diarilheptanoid 3-4% yang terdiri dari Curcumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin.
b. Minyak atsiri 2-5% yang terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana turmeron
c. Arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin dan dammar
d. Mineral yaitu magnesium besi, mangan, kalsium, natrium, kalium, timbal, seng, kobalt, aluminium dan bismuth

Beberapa manfaat kunyit untuk kesehatan:

Sebagai Anti Inflamasi

Zat aktif yang dimiliki kunyit disebut dengan kurkuminoid. Kurkumin adalah zat bioaktif yang penting yang banyak digunakan dalam bidang  kesehatan salah satunya sebagau agen anti inflamasi karena kurkumin terbukti dapat menekan kerja molekul yang menyebabkan inflamasi dalam tubuh pada level molekular. 

Meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh

Radikal bebas dipercaya merupakan penyebab terjadinya penuaan. Radikal bebas ini juga sangat berbahaya karena langsung menyerang materi genetik tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan zat antioksidan untuk menangkalnya. Salah satu antioksidan yang potent adalah kurkumin yang banyak dijumpai pada kunyit. Tak hanya menyangkal radikal bebas secara langsung, kurkumin juga membantu stimulasi enzim antioksidan tubub. 

Meningkatkan fungsi otak dan menurunkan resiko penyakit otak


Dalam menjalankan fungsinya, otak memerlukan salah satu jenis hormon pertumbuhan yang dikenal dengan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Pada beberapa penyakit otak seperti Alzheimer's ditemukan adanya penurunan level BDNF. Setelah dilakukan penelitian, ditemukan bahwa kurkumin mampu meningkatkan hormon BDNF, sehingga kurkumin diyakini mampu meningkatkan fungsi otak dan melawan penyakit degenerative pada otak. 


Menurunkan resiko penyakit jantung


Adanya efek antioksidan dan anti inflamasi yang dimilikinya, kurkumin juga ternyata bermanfaat untuk menurunkan resiko penyakit jantung karena mampu meningkatkan kerja endothelium pada sistem sirkulasi darah. Sebagaimana yang kita ketahui, disfungsi endothelium adalah penyebab utama dari penyakit jantung. 


Begitu banyak manfaat yang dimiliki kunyit. Sudah gampang diperoleh, murah, mudah dan berkhasiat pula. 
 

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~

๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Monday, 25 January 2021

Tuan Gan.Gan Masuk RS karena Cicak?!

January 25, 2021 0 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

Template by Canva, photo by Niklosebelas

Hi welcome back again! 
Setelah sekian lamaaaa hiatus nulis blog (lebih dari 2 bulan kayaknya heheh), akhirnya kini saya memaksakan diri menulis sesuatu lagi disini. 

Sebelumnya, saya mau cerita dikit alasan vakum lama adalah karena saat itu saya lagi stress dengan fase GTM (Gerakan Tutup Mulut) anak saya. Rasanya dari 24 jam waktu yang saya punya dalam 1 hari 30 jam (lebay sih ini wkwkw) saya pake untuk berpikir keras gimana caranya supaya anak mau makan... Menu apa yang harus saya buat supaya anak mau buka mulut... Tapi at the end, nothing works :( sedih, capek, kecewa, pusing. Sampe BB anak saya mulai seret, gak naik dan bahkan turun dalam 2 bulan. Tapi kisah per-GTM-an ini saya tulis lebih rinci di tulisan lain aja karena drama GTM masih on going wkwkw

OK, kali ini saya mau nulis pengalaman ngurus anak yang sedang rawat inap di RS. Pengalaman yang bikin hati potek huhu. 

Suatu sore di awal tahun 2021, badan tuan Gan.gan (nama panggilan anak saya hihi) agak anget. Saya pikir ah ini sih paling karena dia kurang minum soalnya emang lagi GTM juga. Menjelang malam hari kok makin panas ya badannya, saya cek suhu masih 37°C. Masih tenang. Lalu jam 10 malam makin panas badannya, gelisah dan ada mencret (berlendir cair). Mulai panik. Saya kasih obat penurunan panas. Turun deh tuh demamnya terus bisa tidur.... 

Satu jam kemudian dia terbangun lalu nangis kaya yang pengen tidur tapi gak bisa tidur karena ada yang bikin gak nyaman. Saya kasih ASI terus, bisa tidur bentar eh terus nangis lagi karena mencret dan demam lagi. Panik... Panikkk.... Jam 4 pagi kaya gitu lagi. Rewel, gak bisa tidur, panas tinggi dan mencret. Saya udah g bisa tidur tuh... Udah kepikiran mau ke UGD tapi pas Jam 6 pagi udah mulai turun panasnya, dia juga gak rewel tapi keliatan lemes banget dan masih mencret lagi. Total udah 4x mencret dari tengah malem ke pagi. Akhirnya memutuskan ke dokter di Poli RS aja nanti jam 8 karena tuan Gan.gan udah keliatan baikan.

Bagian menyedihkan dan menyayat hati dimulai dari sini. 


Saya nekat ke RS sendirian bawa tuan Gan.gan karena suami gak bisa izin dari kantor. Waduuuhhh... Gak nyangka dan belum pernah terjadi sebelumnya, anak saya nangis histeris mulai dari meja pendaftaran, cek BB TB sampe ketemu dokter. Nangis sejadi-jadinya, sampe keluar urat. Dikasih ASI abis itu nangis lagi. Kasih cemilan gak mempan. Kasih YouTube cuma mempan sebentar. Pas ketemu dokter, katanya anak saya sudah dehidrasi karena nangis terus dan matanya cekung jadi harus segera rehidrasi (infus) dan opname. 

Yampun waktu itu saya udah pengen nangis aja rasanya (dan beneran nangis dong, udah bodo amat diliatin orang-orang juga) Kasian liat anak kesakitan, gak nyaman, ketakutan, ditambah sy harus urus administrasi opname sendiri sampe tuan Gan.gan sy titipin suster dulu saking bingung ya huhu tapi yang paling nguras emosi saya adalah pas PASANG INFUS!!!! 

Kaki... Tangan... Kanan... Kiri... Dipencet-pencet, diusap-usap, ditusuk jarum berkali-kali buat nyari urat untuk pasang infus tapi gagal terus. Dua dokter UGD, 1 perawat UGD g ada yang bisa. Mana mereka jutek ke anak saya, g ada tuh ajak ngobrol kek apa kek. Anak saya nangis histeris lageeee full nonstop sekitar 1 jam. Hiiihhh. Ujungnya bisa pasang infus sama suster Poli yang ramah huh. 

Emang ya kayaknya suster poli lebih terampil handling anak-anak karena tiap hari ketemu, beda sama dokter dan perawat UGD. 

Nih ya gara-gara proses pasang infus yang "mengerikan" itu anak saya jadi trauma! Dia gak mau ditidurin di kasur sendiri... Mungkin dikepalanya kalo tidur dikasur = mau disuntik. Liat suster masuk kamar inap langsung nangis kejer mungkin inget pas proses pasang infus td. 

Hari pertama di RS adalah yang terberat karena anak saya sama sekali gak mau turun dari gendongan. Posisinya saya sendirian saat itu, suami cuma ijin bentar dan harus balik ke kantor lagi, gak ada keluarga yang bisa bantuin karena kebijakan RS (keluarga sy jg diluar kota semua). Saya pun kesusahan karena gak bisa gendong bebas. Gendong sambil diem aja kan cuaapek banget yaaa... Harus sambil gerak-gerak jalan sana sini untuk ngurangin pegelnya tapi mau gerak juga susah kehalang selang infus huhu

Saya mau makan pun susah... Mau sholat pun susah... Minta tolong suster g mungkin karena dia liat suster aja nangis... Mau nyebokin tuan gan.gan yang masih mencret (diagnosa dokter kena diare) juga susaaaahhhh... Saat itu rasanya hayang ceurik wae lah ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญSatu-satunya solusi ya nunggu suami saya pulang kantor.

Moment yang membesarkan hati saya yang saat itu lagi capek, pusing karena nangis dan laper berat (baru makan malemnya) adalah pas suami saya bilang gini ke tuan gan.gan :

"tangan kamu kaya tangan robot Gan! Keren deh. Sekarang tangan robotnya dicharge dulu ya" 


Hari kedua opname, saya paksa suami saya ijin dari kantor karena jujur gak sanggup kalo sendirian. Alhamdulillah tuan gan.gan sudah mulai baikan walaupun masih diare (karena bakteri, confirmed lewat hasil cek lab) tapi demam nya sudah mulai turun. Anaknya juga udah keliatan seger dan mau tertawa sama paparnya. Sebelumnya mah hiiii... Surem bangetttt gak ada senyum-senyumnya (yaiyalaaaa wong lagi sakit) 

Hari ketiga opname, tuan gan.gan udah mulai berenergi hihi sudah mau merayap-merayap pegangan di sofa, sudah mau main sama buku ceritanya, udah mau ngemil juga. Tapi sama dokter belum dikasih izin untuk pulang karena perlu evaluasi ulang lewat cek laboratorium. 

Hari ke empat, tuan gan.gan sudah boleh pulang yeaaayyy... Diare sudah berhenti. Pup sudah berampas, tidak demam, sudah mau makan, ceria dan hasil lab juga OK. 

Kalo ditanya apa penyebab diare nya? 


MUNGKIN.... mungkin ini mah ya... Berdasarkan cocoklogi saya aja... Diare tuan gan.gan disebabkan karena kejadian sehari sebelum dia dibawa ke RS. 

Waktu itu hari minggu. Tiap weekend tuan gan.gan banyak main sama papanya sementara saya akan sibuk ke pasar, di dapur dan cuci setrika untuk keperluan seminggu kedepan. Mainan tun Gan.gan sengaja gak pernah saya bereskan, saya biarkan terhampar di ruang TV tempat dia main. 

Lalu papanya waktu itu ajak main dia dikamar sambil bawa 3 board book ke kasur. Main lah mereka... Gak tau ya ini mereka main berdua atau anaknya main sendiri sementara bapaknya sibuk main HP ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก *sering terjadi Buk Ibu... Nitipin anak ke Pak Bapak, anaknya ngapain... Bapaknya ngapain* 

Siangnya, mereka masih main tuh di kasur. Saya ikut gabung. Saya mau bacaan 1 board book eh pas saya buka itu board book ternyata ada cicak kecil mati kegencet buku itu!!!! Langsung saya lempar itu buku saya buang langsung. Nah disini nih keteledoran kami sebagai orang tua. Saya curiga tuan gan.gan duluan yang nemuin hewan sialan itu terus mungkin tangannya masuk-masuk mulut (ini saya bayanginnya aja merinding) terus bakterinya bikin tuan gan.gan sakit. Daaannn... Bener aja mulai sorenya dia demam. 

Saya teledor karena gak bersihin dan beresin mainan yang berhamburan di ruang TV. Papanya teledor karena gak memperhatikan apa yang anaknya mainin. 

Yha well udah telat juga kalo mau main salah-salahan... Yang penting kami belajar banyak dari kejadian ini. 

Inget, jadi orang tua itu susah. Tapi bukan berarti gak mungkin selama mau belajar dan terus belajar berkembang bersama anak. 

Sekian tulisan saya kali ini, semoga ada manfaatnya untuk yang membaca :') 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Friday, 20 November 2020

Dramamama : Titik Balik Perjalanan MPASI (part 2)

November 20, 2020 0 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~


Template by Canva, Photo by Niklosebelas

Welcome back to my blog!
Kali ini saya mau melanjutkan cerita drama MPASI baby G yang diblog post sebelumnya udah kepanjangan jadinya harus dibuat jadi 2 bagian hahah. Untuk tulisan bagian pertama bisa baca disini: Baru MULAI MPASI kok Mama Udah Down (part 1) 

The Strategy 

Layaknya jenderal perang, kepala saya berusaha menyusun strategi tempur dengan goal : Baby G secara suka rela senang hati membuka mulutnya kalo disuapin makan. Itu aja dulu. Saya gak muluk-muluk maksain Baby G habiskan makanan nya. 

Strategi awal yang kepikiran sama saya :
  1. QnA lagi dengan teman dan saudara (ini kaya mundur ke step sebelumnya), harapan nya dengan mundur 1 langkah saya tau salahnya dimana. 
  2. Baby G makan dengan papanya karena biasanya baby G lebih happy kalo sama papanya (ini bukan berarti mamanya serem ya... Bayi kan mengasosiasikan papa = main sementara mama = makan)
  3. Kalo cara 1 dan 2 gak berhasil, saya udah siap mengungsi ke rumah mamah untuk minta diajarin mpasi
  4. Kalo sampe cara no 3 gagal juga, au ah pusing! Kayaknya mau ke dokter terus minta dikasih suplemen buat nafsu makan

Besoknya saya mulai QnA dan konsultasi sama temen dan saudara yang dulu saya tanyain itu. Sampe ada 1 temen yang bilang "Waktu itu kan saya udah bilang mulai dari menu tunggal" ini tuh rasanya kaya mak jleb bangettttt ya Allah kayaknya dia tau saya ngeyel terus kena batunya hahah. Saudara saya yang tinggal di Jepang juga sejak awal udah nyaranin untuk ngasih puree buah dulu untuk perkenalan tapi saya justru keukeuh mau mulai dengan bubur instan. 

Selama sesi konsultasi tersebut, saya akhirnya sadar bahwa saya terlalu egois maksain kehendak  dan segala aturan sekaligus ke anak tanpa step by step. Ibaratnya pengen naik tangga, bukannya berpijak ke anak tangga paling bawah satu per satu tapi saya malah loncat ke anak tangga teratas, hasilnya ya kejedut. Sakit.

Saya lupa bahwa sejak dia lahir, dia cuma kenal ASI yang bentuknya cair yang tinggal glek aja. Saya lupa bahwa harusnya saya gak terlalu berekspektasi tinggi dulu. Saya lupa kalo semua butuh waktu untuk berproses, baik baby G berproses untuk mengenal makanan dan cara menelan maupun saya berproses untuk belajar memberi makan.

Saya harus mengakui kesalahan saya dulu. Saya harus mengikhlaskan bahwa seminggu kemaren saya gagal dan salah start. 

Setelah itu saya bertekad untuk sabar dan tidak terburu-buru dalam fase mpasi ini. Sabar untuk ngenalin macem-macem rasa, sabar untuk ngenalin macem-macem tekstur dan sabar untuk mendampingi baby G belajar makan.

Sudah tau kesalahan paling fatal asalnya dari saya, sekarang waktunya saya cari tau kesalahan teknisnya dimana. 

Welcome to the game

Waktu seminggu pertama yang sangat melelahkan dan penuh drama itu, ada suatu malam waktu papa Baby G lagi makan mangga, terus dia iseng kasih 1 potong mangga ke mulut baby G dan dia mau dong!  Disini titik baliknya.

Mulutnya mau ngecap-ngecap buah mangga. Melihat respon positif itu saya langsung buatkan puree buah mangga 5 potong dan hampir dia habiskan. Besoknya saya kasih puree buah naga juga dia mau buka mulut. Walaupun gak seantusias waktu dikasih mangga.

Ketemu masalahnya : Salah tekstur. Mpasi yang saya kasih ke baby G terlalu kental dan kayaknya dia lebih suka makanan dengan rasa manis. 

Belajar dari kesalahan kemaren, kali ini saya mau coba saran temen dan saudara untuk mulai kasih mpasi single food dulu (Secara teori ini belum tepat ya. Harusnya sejak awal mpasi sudah menu lengkap. Kuncinya saya salah ditekstur sejak awal jadi baby G agak trauma dan nolak semua makanan karena makanan pertama yang masuk mulutnya belum sesuai sama mau dia). 

Saya pilih bikin puree jagung + asip selama 3 hari (sekali makan 1-2 SDM, asip=asi perah). Saya juga mulai dengan strategi no. 2 baby G makan sama papanya dan gak saya pakein slabber/celemek. Hasilnya waw diluar dugaan. Baby G bisa ngabisin puree jagung nya. For the first time. Berbunga-bunga lah hati mamanya ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒน๐ŸŒท

Ketemu masalahnya: Slaber dianggap mainan. Tiap dipakein celemek, Baby G pasti pengen masukin ke mulutnya. Jadi untuk ngurangin gangguan tersebut, saya gak pakein baby G slaber dulu. Biar deh baju kotor kena makanan, biar deh cucian numpuk asal anak mau makan.

Oh iya, saudara saya juga nyaranin baby G dipangku dulu waktu makan biar gak nangis. Make sense sih. Selama ini kan dia kalo mimik pasti deket mamanya... Dengan dipangku dia ngerasa nyaman juga jadi berasa gak dilepas sendiri gitu aja di booster seat nya.

Tiga hari puree jagung + asip diterima dengan baik, saya tambah dengan unsalted butter (UB) untuk tambahan lemaknya. Ya kadang habis kadang enggak... Tapi at least baby G mulutnya gak serapet minggu lalu. 

Apalagi waktu papanya ngasih ide untuk kasih air putih selama makan. It was good idea!!! Waduh lahap betul dia makan kalo sambil disuapin air putih. Saya gak kepikiran untuk kasih air putih karena takutnya baby G kenyang duluan sama air jadi makanan yang masuk sedikit, eh justru kebalikannya.

Yaiyalah... Orang gede aja kalo makan gak pake minum ya seret apalagi anak bayi yang sebelumnya cuma kenal ASI, A untuk AIR. Ya wajar aja dia makin lahap kalo ada air. 

Ketemu lagi masalahnya : Baby G mau air putih (saya pernah iseng ganti air putih dengan asip disendokin, ditolak dong wkwkw). Pemberian air putih hanya selama waktu makan ya... kalo kebanyakan air diluar jam makan nanti kembung malah gak mau makan/minum susu.

Kebetulan awal minggu kedua mpasi baby G waktunya imunisasi, sekalian aja saya konsultasiin ke dokter soal mpasi baby G. Beliau juga menyarankan untuk mulai dengan single food berupa bubur susu yang dibuat dari tepung beras selama 2 minggu untuk pemanasan dan katanya bisa makan 6 sendok bayi itu udah bagus. Berarti langkah saya untuk 'mundur dulu ke single food' udah tepat. Legaaa~ tadinya saya sempet khawatir takut salah langkah... 

Dipertengahan minggu kedua, saya iseng kasih teluh puyuh 2 biji yang saya saring terus kasih air untuk cemilan atas saran dari temen. Eh habis dong. Berarti saya bisa mulai tambah protein hewani untuk mpasi.

Besoknya saya ganti puree jagung dengan ubi supaya baby G kenal karbohidrat lain sambil saya tambah telur puyuh juga karena kemaren kan dia mau makan telur puyuh. Hasilnya? Ditolak mentah-mentah. Di sembur. Dilepeh

Saya down lagi. Apa yang salah, ubi kan manis. 

Heuuu ternyata... Teksturnya gak masuk cyiiinnn. Ubi itu KERING. Berbulir-bulir gitu. Bahkan setelah ditambah air juga gak bisa larut. Akhirnya besoknya saya balik lagi ke puree jagung + UB dan alhamdulillah, Baby G mau buka mulutnya. Teraharu akutu huhu

Ngeliat respon makan Baby G yang makin oke, saya pelan-pelan nambahin volume makan dan bahan lain kedalam makanannya. Dari puree jagung 2 SDM ⇒ puree jagung + asip ⇒ puree jagung + asip + UB ⇒ puree jagung + asip + UB + Bayam ⇒ bubur beras putih + UB + Bayam + fillet ikan kakap sampe sekarang (Baby G usia hampir 8 bulan) Baby G sudah bisa konsisten konsumsi menu lengkap yang terdiri dari Karbohidrat, lemak, protein dan sayur serta buah sebagai makanan selingan. Tinggal saya jaga konsistensi kekentalan nya aja supaya gak terlalu cair atau terlalu kental.

Bagaimana teknik pemberian mpasi versi saya ?

Diawal saya udah sebutkan pemberian mpasi dengan cara dipangku dulu dan berhasil. Memang kelihatannya kaya sedikit 'memaksa' anak untuk makan, udah gitu lebih nguras tenaga mamanya karena mamanya harus berusaha gimana caranya posisi baby G stabil duduk tegak gak klojotan kemana-mana. Tapi dengan begitu baby G bisa semakin mau buka mulut kalo disuapin makanan. Cara ini saya lakukan gak lama, paling 1 mingguan abis itu saya udah bisa lepas baby G di booster seat.

Waktu didudukin di booster seat, awalnya dia gak betah lama-lama disitu. Mungkin merasa terkekang gitu apalagi kalo pake seat belt... Untuk itu saya siasati dengan kasih mainan dimejanya. Pemberian mainan saat makan ini cuma efektif beberapa hari aja soalnya abis itu dia lebih suka mainan tangannya, megangin tangan saya yang lagi pegang mangkok makanan atau ngetuk-ngetuk meja. Tapi kadang sesekali saya kasih mainan juga sih kalo dia udah mulai rewel. 

Demi menjaga mood baby G, tiap waktunya makan mulut saya gak diem. Biasanya saya sambil nyanyi, baca surat-surat pendek, baca doa sehari-hari atau ngobrol sama baby G tentang tayangan TV. Dengan saya berceloteh juga menjaga mood saya biar gak ambyaaarrr kalo suatu waktu baby G ngajak "berdrama" lagi haha.

Sayangnya ada satu feeding rules yang masih saya langgar secara konsisten huhu, saya nyuapin baby G sambil nonton TV (ini bukan karena saya sengaja kasih screen time ke baby G tapi karena saya dirumah cuma berdua baby G kalo siang jadi berasa sepi banget kalo TV gak nyala hehe) Apalagi kalo pas Upin & Ipin wah seneng banget dia. Suasana makan jadi menyenangkan. Tapi konsekuensi nya adalah Baby G jadi lebih fokus ke TV bukan saya. Jangan dicontoh ya. Seharusnya, saat menyuapi makan itu idealnya tidak ada distraksi apapun supaya anak fokus pada makanannya (*UPDATE: Saat ini saya sedang proses mengurangi screen time Baby G saat makan dengan cara makan diruang tamu hihi) 

Dengan teknik tersebut alhamdulillah baby G sudah bisa konsisten menghabiskan 60-90 mL bubur bertekstur lumat dengan ± 40 mL air putih setiap makan dengan durasi makan kurang dari 30 menit. Frekuensi makan sudah 3x sehari dengan 1-2x snack berupa buah atau biskuit bayi. 

Sebetulnya kunci anak makan lahap dan cepet adalah ngasih jarak makan minimal 2 jam sebelum dan sesudah makan itu jangan kasih susu/cemilan. Malah dokter nya Baby G nyaranin jeda 3 jam. Rumus simpelnya :

2.30.2
Maksudnya jangan beri susu/cemilan 2 jam sebelum dan 2 jam sesudah makan serta durasi maksimal makan adalah 30 menit

Nah tapi yang jadi kendala adalah Baby G masih suka ngerengek minta susu apalagi kalo udah deket jam tidurnya. Udah deh luluh hatiku... Mau tega-tegaan tapi belum tega huhu

Paling PR itu ngatur jam tidur, jam minum susu dan jam makan nya. Kuncinya ada di jam tidur, jangan sampe waktu makan mepet ke jam tidurnya...

Waduh itu bisa nangis-nangis deh gak akan bisa disuapin makan. Jadi berdasarkan kebiasaan baby G, minimal jaraknya 1 jam antara jam makan dan jam tidur terus 2 jam untuk jarak jam makan dan jam minum susu.

Secara teori gitu, tapi kenyataannya ? super fleksibel banget hahah sampe sekarangpun saya masih meraba-raba pola makan dan tidur baby G supaya semua match. Makan oke, tidur oke, susu pun oke. 

Kadang suka gini... pola makan udah terbentuk, eh tau-tau jam tidur siangnya hari ini bergeser. Otomatis jam makan pun ikut bergeser. Malah sering banget jam makan selingan itu terlewat karena tidur. Yeaaah, itu lah seni dalam mpasi. Dinikmati aja deh...

Current Situation

Baby G hampir 8 bulan. Artinya sudah mau 2 bulan jalan mpasi. Tantangan 2 minggu pertama adalah mengenalkan apa itu makanan, bagaimana proses makan, bagaimana rasa dan bentuk makanan dll. Setelah badai pertama tersebut terlewati, proses mpasi baby G seperti jalan tol wuzzz...wuzzz...wuzzzz lancar jaya! Sekali makan pernah bisa hampir 100 mL wow

Tapi tida semudah itu Pulgoso. Seperti kata pepatah, laut yang tenang tidak menjadikan pelaut menjadi handal. Ya kira-kira seperti itu lah situasi mpasi saya dan baby G saat ini.

Drama terbaru: Naik tekstur + GTM! alias Gerakan Tutup Mulut. Penyebabnya adalah tumbuh gigi untuk pertama kalinya

Dua minggu ini mendadak baby G mulutnya mengunci rapat lagi. Ngerengek kalo disuapin makanan tapi lahap kalo disuapin air putih. Akibatnya durasi makan jadi lebih lama atau makanan gak habis. Bisa ngabisin 30 mL aja udah syukur banget padahal biasanya 80 mL. Hiksss yakin deh ini pasti berimbas ke kenaikan BBnya huhu

Sampe saya minta suplementasi zat besi ke DSA baby G karena khawatir, ta-tapi... Tiap diminumin suplemen ini baby G sering kaya mau muntah bahkan 2x muntah beneran. Saya makin pusing~ haaaaaa

Drama mpasi ini sungguh menguras emosi emaknya ya bund. Pantesan dulu liat orang-orang kok seheboh itu sama GTM. Ternyataaaa... Memang se su a tu! 

Sekian dulu cerita saya kali ini bund ^^
Semoga bermanfaat untuk kita semua
Jumpa lagi ditulisan selanjutnya yaaaa
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Friday, 16 October 2020

Baru MULAI MPASI kok Mama Udah Down (part 1)

October 16, 2020 4 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

Template by Canva. Edited by Niklosebelas


Haaaaa udah lama banget gak nulis hihi
Tepatnya udah 5 minggu lebih sejak tulisan terbaru saya terbit. Soalnya sekarang lagi 'menikmati' masa menjadi seorang ibu dari anak lelaki berinisial G. Apalagi baby G baru aja mulai MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) yang... waduh gak kalah heboh dramanya.

Lagian kapan sih saya gak drama ? wkwkwk hamil ada dramanya... melahirkan ada dramanya... menyusui juga ada dramanya... jadi ya gak heran sih kalo fase MPASI juga ada dramanya.

Kalo drama waktu hamil, melahirkan dan menyusui mostly just about me, kalo MPASI ini melibatkan Baby G yang bener-bener menguras kesabaran dan kewarasan mamaknya huhu. Ini baru sepenggal cerita awal mulai MPASI ya.
A-W-A-L
fiuhhh~ gimana ntar ya kalo drama MPASI duet sama darama tumbuh gigi, drama GTM (gerakan tutup mulut), drama tantrum ?

Okedeh, sekarang saya mau cerita drama awal MPASI aja dulu ya yang baru aja saya lewati. Drama yang lain masih 50:50 wkwkw


PERSIAPAN MPASI

Sebagai orang yang well prepared, idealis dan sangat berpegang teguh pada teori sebagai landasan sebelum bertindak, tentu saya banyak melakukan persiapan sebelum mulai mpasi. Biar gak buta-buta amat soal mpasi.

Banyak Baca, Banyak Tanya

Persiapan paling penting dari mpasi bukan belanja perabot masak baru atau alat makan baru. Tapi ILMU! Pengetahuan dasar seputar gizi dan tumbuh kembang anak wajib dipelajari semua ibu. Mau working mom, mau full time mom, semua harus paham. 


BACA JUGA : Menjaga Kewarasan Ibu Menyusui


Sejak Baby G usia 4 bulanan saya udah rajin baca semua highlight Insragram-nya dokter Meta (@metahanindita). Ibuk-ibuk anak IG pasti familiar sama dokMet kan ? Udah selesai baca semua highlight-nya, saya ngerasa masih kurang. Lalu saya baca semua bukunya dokMet yang seri Mommyclopedia (untung dapet hadiah lahiran dari temen kantor suami), terutama yang seri tentang mpasi.

Setelah selesai baca, saya baru paham. Kira-kira intinya (yang jadi concern saya saat ini) : 
  1. Mpasi harus menu lengkap sejak mulai mpasi (terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan sayur/buah sebagai pengenalan) karena ASI aja kan isinya lengkap ada lemak, ada protein dsb.
  2. Mpasi instant is ok karena gizinya lebih terukur dan terfortifikasi terutama zat besi yang sudah tidak bisa dipenuhi dari asi
  3. Patuhi feeding rules: (a) Duduk di kursi khusus makan; (2) Durasi makan 30 menit tapi kalo dalam 15 menit anak menolak makan maka akhiri sesi makan; (3) No TV, Youtube, mainan, odong-odong, jalan-jalan; (4) Perhatikan sinyal lapar kenyang anak; (5) Buat jadwal makan, beri jeda 2 jam sebelum makan dan sesudah makan itu no susu/cemilan.
  4. Tekstur awal memulai mpasi: lumat artinya tidak langsung jatuh saat sendok dimiringkan.

Secara teori memang saya paham. Tapi praktiknya ? nol besar! 
Saya belum kebayang gimana teknik memasak mpasi supaya enak walaupun tanpa bumbu penyedap, penyimpanan makanannya, menejemen stok bahan mpasi. Secara saya belum pernah bikin bubur sama sekali. Pernah sih bikin bubur sumsum tapi bukannya jadi bubur sumsum yang lembut dimulut, malah jadi kaya lelehan marsmellow gak jelas wkwkw

Kemudian saya bertanya ke temen-temen dan saudara yang anaknya sudah mpasi. Karena experience is the best teacher.

Dari 4 orang yang saya tanya, semua memulai dengan mpasi menu tunggal. Ada yang mulai dengan bubur beras aja, ada yang mulai dari puree buah dulu. Alasannya ada yang karena anaknya punya riwayat alergi, ada yang karena teknik mpasi di Jepang tempat saudara saya tinggal memang dimulai dengan menu tunggal dulu beberapa hari dan ada yang memang karena ingin mengenalkan rasa-rasa makanan satu per satu,

Karena ke-sok-tau-an, saya cuma iya-iyain aja saran dari mereka. Saya nganggep saran tersebut gak sesuai dengan teori yang saya baca. Lalu saya bertekad:

"apapun yang orang lain bilang, saya akan mulai mpasi baby G dengan menu lengkap atau mpasi instan yang gizinya sudah komplit"

Masih belum puas dengan teori teknik mpasi yang saya dapet dari hasil QnA dengan teman dan sudara, saya akhirnya memutuskan untuk ikut kelas online berbayar via Whatsapp. Kelasnya dimulai 2 minggu sebelum baby G mulai mpasi. Waktu yang sangat cukup untuk persiapan teknis mpasi saya rasa. Saya sama sekali gak ngerasa rugi atau sia-sia ngeluarin uang untuk ikut kelas tersebut karena saya ngerasa ilmu dari kelas itu melengkapi (secara teknis) pengetahuan yang saya baca dari buku dokMet.


Belanja Time

Walaupun saya menolak mentah-mentah saran dari teman dan sudara mengenai menu tunggal, tapi saya bener-bener terbantu dengan saran yang mereka berikan seputar tools dan cara bikin mpasi. Seenggaknya saya beli barang-barang yang penting aja.

Barang yang saya beli khusus mpasi:
  • Set alat makan untuk bayi (sendok, piring, mangkok)
  • Training Cup/Sippy Cup
  • Saringan kawat
  • Gelas blender baru (bukan gelas blender yang besar ya, yang ukuran medium untuk bumbu basah  karena blender bumbu saya takutnya masih bau bumbu)
  • Parutan (karena punya saya sudah berkarat)
  • Talenan (biar gak campur pake talenan masakan ibu bapaknya yang doyan pedes)
  • Wadah-wadah kecil (untuk nyimpen mpasi yang udah jadi)
  • Plastik klip (untuk nyimpen bahan-bahan mpasi)
  • Celemek makan
  • Mangkok stainless (untuk menghangatkan mpasi dengan teknik tim/pake kukusan)
  • Timbangan digital (karena gak punya hihi)
  • Booster seat (ini dikasih sama kakak sih hihi)

Untuk alat masaknya gimana ? Perlu beli slow cooker khusus mpasi ? No gak perlu (kecuali ada yang ngasih masa ditolak). Masak mpasi bisa banget pake alat masak dirumah: panci kecil, spatula, centong dan steamer.

Karena saya pengen tau respon anak kenalan dengan makanan, saya memutuskan untuk ngasih bubur instan dulu untuk 3 hari pertama. Nah karena saya belum tau preferensi rasa baby G, jadinya saya beli 4 macam bubur instan (2 rasa manis, 2 rasa gurih) dan cemilan biskuit bayi. Tapi at the end, semuanya gak dimakan sama baby G wkwkwk.


Meal Preparation

Sudah punya ilmu teori dan praktik mpasi, sudah beli alat-alat mpasi... Kini persiapan terakhir: meal preparation. Belanja bahan makanan mulai dari sayur, buah, daging-dagingan, macem-macem ikan. Sayuran saya simpan dengan metode blansir. Untuk Ati Ayam saya ungkep dulu baru simpan di freezer. Semua daging-dagingan dan fillet ikan saya simpan per porsi masak di plastik klip berlabel. 

Kurang siap apalagi coba untuk mpasi? 




Ekspektasi vs Realita


HAAAAAA TEORI PARENTING ITU NYATANYA TIDAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN GAAEEESSSSSSSS

Teori boleh sama, tapi aplikasinya bener-bener harus liat situasi dan kondisi anak masing-masing. Ada yang begitu diaplikasikan bisa langsung cocok sama anak. Ada yang perlu waktu untuk tahap demi tahap. Ada yang gak cocok sama sekali.

Kalo kata saya sih semua teori parenting itu perlu yang namanya zero expectation dan Trial and Error  lalu amati respon anak.

D-2  dan D-1 saya buatkan baby G bubur instan 1x sehari sebanyak 1 SDM dan biskuit bayi yang dilumatkan pake ASIP. Kenapa pakai bubur instan ? Karena saya pikir awal mpasi pasti baby G belum banyak makan, jadi mending kasih makanan yang gizinya lebih terukur.

Sesuai feeding rules, saya dudukan baby G di booster seat lengkap dengan celemek makan di lehernya. 

Ekspektasi saya ke baby G waktu itu: "pas disodorin sendok langsung mangap lebar lebar... lalu lep lep lep makanan masuk ke dalam mulut dengan senang hati dan sesi makan selesai sebelum 30 menit, baby kenyang mama senang"


HAHAHAH TERNYATAAAA...
Mulut baby G terkunci rapat buk! Bahkan tiap ada sendok mendekat mulutnya, mulutnya ngebentuk emoticon :( bubur instan nya cuma dijilat dikit terus udah, kalo gak dilepeh ya disembur. Dia lebih tertarik masukin celemek makan ke mulutnya dibandingkan makanan dia sendiri. 

Lalu dari the Day sampe D+3 saya coba masak mpasi menu lengkap, mungkin baby G mau makan kalo saya masak sendiri. Respon masih sama: terkunci rapat. Bahkan pernah sampe nangis terus tiap duduk di booster seat

Stress, down, kecewa, sedih, kesal. 

Dari yang nyuapin dengan penuh semangat, bahagia, berbunga-bunga sampe nyuapin dengan muka datar berusaha nahan kesel biar gak meluap waktu ngeliat Baby G nyemburin makanannya. Makanan yang saya masak sendiri. Bukan karena kesel liat makanan terbuang. Bukan juga karena capek masak tapi gak dimakan. Bukan. 

Saya kesal, sedih, kecewa, marah, stress sama diri sendiri. Rasanya kaya gagal jadi ibu, berasa gak guna. Masa ngasih makan anak sendiri aja gak bisa? Masa gak bisa sih lebih sabar ngadepin anak? 

Semakin beban karena khawatir dengan status gizi anak. Takut anak stunting. Takut BB anak gak naik karena kurang kalori. Kalo anak kurus, orang pertama yang disalahin pasti IBUNYA! Bener apa bener? 

Dari makan di booster seat, pindah ke bouncer sampe duduk di stroller, makan di ruang tv, pindah ke teras, pindah ke ruang tamu pun dicoba. Hasilnya sama: mulut terkunci makanan disembur. Cuma cara digendong, keliling komplek sama nonton youtube yang gak saya coba.

Sampai puncaknya saya nangis karena stress. Kaya yang... 
Yampun apa sih yang salah dari cara mpasi saya? Semua udah sesuai feeding rules kok masih susah betul ngasih makan baby G? Salah dimananya?

Saya harus segera menemukan jawabannya. As Soon As Possible. Seminggu pertama boleh gagal, tapi minggu selanjutnya gak boleh gagal. Harus ada progress. 

Cerita selanjutnya saya tulis di blog post selanjutnya ya. Udah kepanjangan soalnya wkwkw.
See you on my next blog post



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Monday, 31 August 2020

Menjaga Kewarasan Ibu Menyusui

August 31, 2020 10 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

.

Kukira bagian yang paling menantang menjadi seorang ibu adalah saat melahirkan... 

Ternyata... Masih ada fase menyusui. 
Nanti ada lagi fase pemberian MPASI. 
Lalu fase-fase lainnya yang gak kalah menantang juga. 

Yaaa... Setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak ada tantangannya masing-masing untuk orang tua. Ada kesulitan dan kemudahannya masing-masing... Yang pastinya akan berbeda antara satu anak dan lainnya. Jadi, stop mom shaming! 

Bicara soal menyusui, terutama pada 2 bulan pertama, adalah waktu-waktu yang berat untuk seorang ibu baru. Apalagi kalo yang melahirkannya lewat operasi sesar dan agak "cengeng" kaya saya heheh

Menjadi Waktu Terberat

Karena:

Pertama, 

Masih dalam proses pemulihan pasca operasi. Jangan kaget kalo tiba-tiba nyeri punggung bawah :') atau sayatan  bekas operasi kadang berasa cenut-cenut. Sering banget badan berasa remuk sampe ke tulang padahal gak ngapa-ngapain.

Kedua,

Jam tidur yang kacau balau. Siang jadi siang, malem jadi siang karena harus begadang sama bayi.

Ketiga,

Ibu dan bayi masih sama-sama belajar menyusui. Belajar gimana perlekatan yang baik. Selama proses belajar ini, gak aneh kalo ngerasain puting nyeri/lecet, PD yang keras dan sakit atau bahkan sampe demam.

Keempat, 

Rasa sungkan minta bantuan orang sekitar karena ngerasa banyak ngerepotin.

Kelima, 

Mental yang masih kaget karena tau-tau sekarang jadi ibu. I swear, tiba-tiba merasa ada beban besar di pundak yang rasanya kaya dipikul sendirian. Berat. Banyak pertanyaan dan ketakutan yang muncul... Bisa gak ya gw jadi ibu... Gw capek nih tapi kesian anak gw... Bisa gak ya gw ngedidik anak gw ntar... Kalo gw gini ntar anak gw gimana... Kalo gw gitu ntar anak gw gimana... Suami gw bisa diajak kerja sama gak ya... Kalo gw begini ke anak ibu/mertua gimana ya reaksinya... Daaaaannn masih banyak yang lainnya. Daaaaannn semuanya melelahkan kalo tiba-tiba muncul dikepala. 


My Story

Dua bulan pertama setelah kelahiran baby G, terutama bulan pertama... Saya sering nangis tengah malam atau dini hari kalo baby G ngajak begadang. Penyebabnya adalah diri saya sendiri. Sampe bikin lelah lahir dan batin. Semuanya pasti diawali dengan 'drama' ngomelin baby G dulu lalu diakhiri dengan tangisan menyesal karena ngomelin anak ditambah rasa bersalah udah ganggu jam tidur ibu (waktu baru abis melahirkan saya LDR dengan suami karena pekerjaan) yang ikutan begadang gantian sama saya. Padahal, Baby G ini anak baik. Kalo begadang jarang bikin heboh cuma agak susah ditidurin aja... Tiap abis nyusu sambil dipangku pasti tidur tapi giliran dipindahkan ke kasur pasti bangun. Terus aja begitu sampe subuh hampir tiap hari dan ibu saya juga gak pernah marah atau capek karena ikut begadang. Kalo udah begitu, ibu saya cuma bilang "Anak kamu tuh pinter gak rewel. Kamunya aja lebay. Namanya juga ngurusin anak... Pasti capek tapi kan bahagia liat anak tuh"

Kalo diinget-inget, ngapain juga ya ngomelin anak bayi wkwkwwkw Untungnya keadaan berangsur-angsur terkendali menjelang bulan ketiga. 

Dengan adanya pengalaman berharga tersebut, kali ini saya mau nulis beberapa hal yang dapat menjaga kewarasan seorang ibu menyusui yang rasanya uwaawww wadidaw wadidaw dah


Menjaga Kewarasan

Pertama dan yang paling utama,

Support system yang kuat. Minimal dari suami. Maksimal dari semua orang yang ada dirumah dan teman-teman. Buat para ayah baru, pasti sebagian besar ngerasa bingung harus ngapain untuk dukung istrinya pas nyusuin kan karena mikirnya "gw kan gak bisa netek-in". Iya sih bener tapi ya gak gitu juga kaliii. Para ayah/kerabat bisa mendukung ibu menyusui dengan misalnya gantian begadang (setelah selesai menyusui), belikan makanan kesukaannya, dengerin curhatnya, kasih pijatan  atau apapun yang bisa bikin mood ibu tetep oke. Buat ibu menyusui tidak merasa sendiri. Jangan sungkan untuk bertanya! Karena ibu menyusui itu sama sensitifnya kaya anak ABG yang lagi PMS hihi.

Kedua yang gak kalah pentingnya, 

Rubah pola pikir. Bayi itu baru kenal dunia luar. Selama kurang lebih 40 minggu dia hidup ditempat yang paling aman dan nyaman. Makan dan minum udah tersedia gak perlu oooeeekkk oeeeekkk dulu kalo laper. Jadi ya wajar aja kalo bayi masih beradaptasi dengan jam tidurnya... Dengan waktu nyusunya... Dengan suasana barunya... Lama-lama juga pasti bayi akan terbiasa dan terbentuk polanya. Jadi idealnya ibu yang menyesuaikan dengan bayi bukan sebaliknya. Banyakin sabar aja ya. 


Ketiga yang juga sama pentingnya,

Turunkan ekspektasi. Bayi tuh penuh kejutan. Satu waktu, saat kita udah ngerasa hapal dengan pola si bayi, eh tau-tau besoknya berubah. Misalnya kita udah ngerencanain ini itu pas bayi lagi tidur... Ternyata rencana tersebut tidak terealisasi karena jadwal tidur yang mendadak berubah. Yaudah deh, apa mau dikata. Ikhlas aja kalo ada rencana yang batal/diundur.  Ibu juga perlu menurunkan ekspektasi ke dirinya sendiri. Gak apa-apa berbuat kesalahan asal tau dimana salahnya dan cara menyelesaikannya. Wajar salah, namanya juga ibu baru. Wajar gak tau, namanya juga ibu baru. Semuanya butuh waktu untuk belajar. 

Keempat,

Selalu sediakan cemilan seperti coklat atau roti untuk bekal begadang tengah malam dan jangan telat makan. Menyusui langsung (DBF: direct breast feeding) tuh bikin cepet laper. Kalo udah laper, bawaannya jadi emosian. Percaya deh... Perut kosong bisa memicu mood jadi drop. Kalo udah moodnya ancur... Salah-salah pelampiasannya ke anak yang gak tau apa-apa. Jangan takut gendut karena ngemil tengah malem, DBF bakar banyak kalori loh. 

Kelima, 

Jangan lewatkan waktu mandi. Saya yang sebelumnya males mandi, sekarang jadi rajin mandi. Soalnya mandi selain bikin badan seger (kalo badan udah seger dan wangi biasanya pikiran juga ikut seger) juga jadi salah satu waktu me time... Waktu dimana kita (sejenak) sendirian. Bisa sambil mikir... Sambil nyanyi-nyanyi juga... (tapi ya jangan kelamaan nanti dicariin bocah hihi) 

Keenam,

Jangan sungkan minta tolong. Ingatlah... Seorang ibu itu manusia bukan super hero berkekuatan super yang bisa ngerjain segala sesuatu seorang diri. Pasti ada kurangnya. Wajar kalo ngerasa capek. Kalo ngerasa ngerepotin orang lain ya gak apa2, toh minta tolong juga sekali-sekali kan. Ntar lama-lama juga seorang ibu pasti bisa menyelesaikan diri sampe nemu ritme yang pas  buat ngurus anak dan suami sendiri. Kalo ada rezeki lebih bisa juga dengan pake jasa ART misalnya. Jangan malu juga untuk minta tolong ke professional (dokter/bidan/psikolog). Biarin deh dikata lebay juga... Karena yang paling tau kondisi kita ya kita sendiri. 

Ketujuh, 

Jangan suka menunda-nunda. Kalo anak lagi tidur sebaiknya ikutan tidur. Kalo lagi ada orang yang bisa dimintain tolong, ya minta tolong. Kalo saatnya makan, cepet makan. Waktunya sholat cepet sholat. Supaya apa? Supaya gak keteteran (keteteran tuh bikin capek pikiran loh karena ngerasa semua numpuk jadi satu dan bikin bingung harus ngapain dulu). Nantinya akan jadi kebiasaan. Kalo dari awal kita udah menciptakan mejemen waktu yang baik, pasti akan ngikut terus dan nular ke anak. 

Kedelapan, 

Curi waktu untuk me time atau menjalankan hobi. Suka nonton drama Korea? Bisa sambil menyusui atau pas begadang ya walaupun akhirnya nontonnya banyak jeda ya hahaha tapi ya lumayan. Suka menulis? Nulis lah di HP sambil nyusuin. Suka gambar, bisa pas anak lagi tidur. Doyan belanja? Lewat online bisa. Maskeran... Luluran... Pijit... Pokoknya sempatkan melakukan hal-hal yang bisa bikin kita seneng. Kalo ibu bahagia, anak dan suami juga bahagia. 

Kesembilan,

Jaga kemesraan dengan suami. Penting loh ini... Kalo suami bahagia, istri minta apa aja juga pasti dikasih dah wkwkw Gak melulu soal ena-ena ya, bisa dengan quality time lewat ngobrol santai pas nyusuin, liat video lucu di Instagram, baca twit-twit receh barengan atau sekedar saling elus rambut. Tergantung gimana bahas cinta masing-masing. 

The last one,

Gak perlu dengerin "julidan" orang lain. Mereka cuma penonton yang gak tau luar dalemnya kita dan anak. Karena standar setiap orang tua pasti berbeda. Gak bisa disama-samain. Kita gak bisa menutup mulut semua orang karena tangan kita cuma dua, makanya kita cuma bisa tutup telinga aja. Biar hidup lebih tenang. Kadang susah sih ini dilakukan apalagi kalo oknumnya adalah dari lingkungan terdekat seperti saudara atau bahkan orang tua sendiri. But we have to be strong!


Buat ibu-ibu baru seperti saya yang masih belajar dan berjuang, AYO KITA SEMANGAT!!!
Kuncinya cuma 2: SABAR dan IKHLAS menjalankan peran sebagai Ibu dan Istri juga. 

Sekian dulu tulisan kali ini.
Semoga membawa manfaat untuk yang baca!



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Monday, 20 July 2020

Ibu rumah Tangga yang Baik = Masakan Enak?

July 20, 2020 13 Comments
Assalamualaikum! Annyeong~

Template by Canva, edited by Niklosebelas

Akhir-akhir ini kok jadi sering jadi julid di Twitter sih ya ๐Ÿ˜…

Ya abis gimana ya... Di Twitter tuh rasanya lebih realistis aja. Lebih beraneka ragam isinya. Mulai dari baku hantam antarselebtwit, sindir dan kritik pemerintah, curhat soal kesehatan mental, jual beli, sampe urusan percintaan juga ada. 

Gak kaya Instagram yang menurut saya lebih monoton, isinya "kesenangan" semua. Gak tau kesenangan yang nyata, maya atau semu hahah

Ya intinya, dari Twitter ini saya dapet ide nulis, walaupun julid. Maapkeun~

Kali ini saya mau bahas soal ini :





Jadi, tangkapan layar tersebut saya ambil dari Salah satu akun base makanan. Ceritanya si pengirim (sebutannya sender, nder) ini ngirimin makanan ke pacarnya lalu dibilang gak enak sama ibu pacarnya bahkan saking gak enaknya masakan tersebut lalu dikasih ke kucingpun gak dimakan dan si pacar melarang dia kirimin makanan dan nyuruh belajar masak supaya yakin untuk ngelamar dia. 

Duh dek ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚
Saya numpang ketawa dulu ya : HAHAHAHA

Mari kita bahas buk ibuk~

Pertama

Hal yang paling penting dan moral value dari tweet tersebut adalah MENGHARGAI USAHA ORANG LAIN. Ini anak orang udah bersusah payah masak... Entah berapa uang, waktu dan tenaga yang dia pake untuk masak buat pacarnya yang sebenarnya mungkin aja bisa dia gunakan untuk hal lain yang lebih penting dan produktif. Tapi pada akhirnya GAK DAPET PENGHARGAAN sedikitpun walaupun cuma ucapan terima kasih. Terlepas dari rasa masakannya. 

Sama pacar anaknya aja, gak bisa menghargai usahanya. Gimana sama orang lain?
Baru jadi pacar aja udah tega ngasih hasil masakannya ke kucing. Gimana kalo udah jadi menantu? 
Baru pacaran aja udah dituntut ini itu, gimana ntar kalo udah jadi istri? 
Pikirin baik-baik deh. Apakah siap punya suami seperti itu... Apakah siap punya mertua seperti itu... Karena masalah dalam rumah tangga itu  nantinya kompleks. 
Mumpung masih pacaran~

Masak tuh capek woy ๐Ÿ˜ญ balasan terbaik dari memasak adalah cuma diucapin makasih dan dimakan. Segampang itu. Syukur bisa dimamam sampe habis. Kalo pun gak enak, baru bahas setelahnya. Bahas gak enaknya kenapa... Harusnya gimana... Ngono lhoooo~

Kedua 

Ukuran IBU RUMAH TANGGA YANG BAIK bukan dari seberapa enak masakan kamu... Atau seberapa bersih cucian baju kamu... Karena menurut saya semua itu adalah ukuran untuk cari juru masak atau ART. "Baik" itu relatif. Bisa aja menurut saya A baik tapi menurut kamu gak baik kan? Tergantung nilai yang dianut. 

Lagian emang si mbaknya kalo nikah sama dia bakal jadi Ibu Rumah tangga? Bisa aja dia mau jadi Ibu Bekerja kan? Wkwkwk

Ketiga

Cowoknya GAK PINTER BACA SITUASI. Harusnya dia gak perlu straight to the point bilangin apa yang ibunya bilang atau minimal memperhalus bahasanya. Supaya tetep jaga perasaan ceweknya. Didepan ibunya juga tinggal iya iya aja dulu untuk jaga perasaan ibunya. 

Ingat, cara kerja wanita adalah perasaan buka logika. DAN GAK PERLU BILANG MAKANANNYA DIKASIH KE KUCING! 

Coba deh balik situasinya. 
Misal dia dateng ke rumah ceweknya sambil bawa martabak boleh beli dijalan. Eh sama bapaknya itu martabak dikasihin ke kucing (walaupun kucing juga sebenarnya gak makan martabak kan ya wkwkw). Sakit hati gak? 

Kalo ditanya ceweknya gimana komentar ibunya, kan bisa bilang "kurang cocok dilidah mamah aku soalnya mamah aku bla bla bla". Tujuannya bilang "rasanya gak enak" kan tersampaikan juga walaupun kudu muter-muter dulu... Selain itu, kan akhirnya si cewek juga jadi mikir dan termotivasi untuk belajar masak lagi tanpa harus "diancem" 

Lagian si cowoknya gak tau apa sekarang itu ada jasa layanan antar makanan dari ojek Online? Kalo masak gak enak ya tinggal beli aja~ ruwet amat dah. Perkara rumah tangga gak cuma soal masak aja wooyyy~ masih banyak perkara lain yang lebih penting dipersiapkan sebelum menikah. Misalnya soal menejemen keuangan.

Urusan masak itu bisa belajar sambil jalan. Belajar bareng-bareng pas udah nikah juga bisa. 

Terakhir, menjawab pertanyaan si sender apakah perempuan harus pandai masak dulu untuk pantas dinikahi?

JAWABANNYA ADALAH TIDAK.
Yang paling penting dalam rumah tangga adalah ada atau tidaknya usaha. Usaha untuk terus bertahan, usaha untuk terus jadi lebih baik, usaha untuk menyenangkan suami dll dan lu udah punya itu, nder! Kamu pantas untuk dinikahi. Tapi bukan sama pacarmu yang sekarang wkwkw

Sekian pesan-pesan dari tante-tante beranak satu yang masih harus banyak belajar ini itu. 

Semoga kejulidan sore ini ada manfaatnya untuk orang lain. Aamiin 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—

Friday, 3 July 2020

Recovery Pasca Operasi Caesar Bikin Serangan Panik

July 03, 2020 3 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

Template and picture by Canva, edited by Niklosebelas

Waktu lagi hamil, saya sepet kepikiran untuk langsung 'nyerah' aja mau langsung ambil pilihan persalinan lewat operasi sesar (SC) tanpa mengusahakan persalinan normal. Alasannya simple. Takut bayangin vagina (lebih tepatnya perineum) robek dan dijahit. Cem mana itu rasanya hiiii...

Kepala saya dipenuhi pikiran gimana kalo kebelet pas jahitan masih basah... Gimana kalo ada infeksi... Gimana kalo jahitan gak rapi... Gimana kalo ntar dikomplen suami karena diriku yang dulu bukan lah yang sekarang~... Saya rasa wajar buat newbie kaya saya pengen "shortcut" lewat operasi yang dipikiran saya bakalan lebih minim nyeri karena ada proses pembiusan selama proses persalinan berlangsung.

Hahahaha ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ (menangis dalam tawa) 


Buat saya persalinan adalah sebuah perjalanan yang harus dipersiapkan segala sesuatunya.
Kemudian saya banyak baca-baca story dan feeds Instagramnya @Bidankita yang pro gentle birth, saya termotivasi untuk bisa (dan mengupayakan) lahiran normal. Tapi Baby G memilih jalan lahir lain: "lompat lewat jendela" alias lewat operasi caesar (SC) ๐Ÿ˜‚ Yasudahlah

Apapun jalan lahirnya... Semua wanita pantas disebut IBU


Lahiran lewat SC minim nyeri? 
Lahiran lewat SC biar gak ribet? 
Talk to my hand!!! Ngomongo karo tembok!

BACA JUGA : Oh Begini Rasanya Melahirkan


Ditulisan saya kali ini saya mau coba untuk menggambarkan gimana rasanya abis lahiran lewat operasi SC.

Gak lama setelah keluar ruang operasi, saya menggigil kedinginan sampe harus diselimutin beberapa lapis. Ketidaknyamanan pasca operasi terus meningkat seiring berkurangnya efek obat bius. Setelah berhenti menggigil, perut terasa nyeri banget nget ngettt, kaya diperes-peres abis itu diplintir-plintir. Rasanya kaya keram menstruasi tapi berkali lipat sakitnya sampe saya meringis nangis sambil remes-remes tangan suami ditengah malam.

Dalam hati saya berusaha menenangkan diri dengan ngomong "gak apa-apa, (sakit) ini konsekuensi dari SC. Kalo persalinan normal sakit sebelum melahirkan, kalo SC sakit setelah melahirkan. Sama aja sakit juga"

Pengen teriak-teriak sebenarnya but it's not my style hahah Gak cool! Yaudah kumenangis dalam diam aja lah biar keren hahha

Lagi ngerasain nyeri perut yang wadidaw wadidaw, tenggorokan terasa kering... Haus banget. Tapi kata ibuk gak boleh minum dulu sebelum buang angin atau minimal setelah 3-4 jam setelah operasi. Sekitar jam 1 atau 2 malem saya baru boleh minum, itupun bolehnya 3 sendok aja. Katanya biar jahitan gak bocor (?) wes lah nurut ae sama ibuk yang lebih berpengalaman.

Selama 2 hari di RS saya bener-bener bed rest. Gak turun dari kasur sama sekali. Pipis pun dibantu kateter yang pas dilepas rasanya UWAAWW haha. Baru setelah kateter lepas, saya boleh mulai belajar duduk dan jalan. Selama bed rest, untuk mempercepat proses recovery saya disuruh belajar miring kanan kiri. Buat miringin badan aja saya harus tarik napas dalam untuk ngumpulin tenaga dulu dan itu rasanya beraaatttt banget. 

Long story short, Setelah 3 hari di RS saya dan baby G boleh pulang.

Selama perjalanan pulang yang rasanya kaya nonton film horor alias mencekam, biasanya ditempuh dalam 1 jam, gara-gara saya abis operasi, perjalanan jadi 2 jam lebih dan sepanjang jalan rasanya saya pengen ngumpat orang-orang yang korupsi yang bikin proyek jalan raya berlubang terus padahal perbaikan setiap tahun. Mobil kena lubang dikit aja rasanya perut dan sekujur badan diguncang abis itu diremes sampe ke tulang, nyeriiiii betul.

Iya lah nyeri, wong saya gak pake stagen atau gurita untuk membebat perut saya yang masih 'basah' pasca operasi. Kalo pake stagen atau gurita kan seenggaknya perut dan bekas operasi saya agak ketahan gitu...

Mana lagi ditambah kebelet pipis  yang rasanya gurih gurih enyooyy~ akibat baru lepas kateter. Orang semobil semuanya pada diem gak ada yang berani bersuara dan ikut tegang liat saya nangis meringis kesakitan tiap mobil kena lubang jalan. Padahal waktu itu saya pake adult diapers loh tapi gak tau kenapa malah gak bisa keluar pipisnya padahal kebelet banget sampe keringet dingin.

Sampe di rumah maunya sih langsung lari ke kamar mandi. Tapi... Buat jalan selangkah demi selangkah itu rasanya berattttt banget. Kayak perut saya mau jatoh, badan gemeter dan kaki saya diiket barbel 5kg. Jadi saya harus jalan setapak demi setapak sambil bertumpu di punggung suami.

Yup. Buat saya, proses pemulihan yang paling berat adalah belajar jalan. Bener-bener kaya anak bayi yang baru belajar jalan.

Awalnya saya harus jalan berangkulan sama suami dulu. Terus saya coba beberapa kali latihan jalan sendiri. Disini nih fase yang menyeramkan. Tiap saya mau melangkah rasanya dada saya sesak tercekat tiba-tiba dan nafas jadi tersengal-sengal kaya orang mau tenggelam. Padahal cuma mau jalan beberapa langkah tapi ambil napas dalam berkali-kali dan rasanya menakutkan. Kaya tiap kaki mau menapak ke lantai, kepala saya udah bayangin lagi jalan diatas jembatan gantung yang kayunya lapuk dan kanan kirinya lembah yang dalam dan gelap mengerikan.

Mungkin ini yang namanya panic attack kali ya...

Gara-gara perasaan tidak menyenangkan tersebut, saya jadi takut untuk belajar jalan. Padahal dengan rutin latihan jalan kaki dapat mempercepat pemulihan. Akhirnya saya jadi males latihan jalan... efeknya ya proses pemulihan saya jadi lama.

Hingga sampai pada satu titik dimana saya disadarkan kakak saya:

"kamu dirumah ngapain aja? Diem aja? (udah mau seminggu) masih belum lancar jalan?" 

Lama-lama kesel juga kok saya kalah sama rasa takut untuk jalan sih. Mau cepet pulih berarti saya harus push to the limit. Kemudian saya dikit-dikit paksain latihan jalan walaupun melelahkan karena jadi ngos-ngosan gak jelas dan gemeteran.

Dari yang cuma ke kamar mandi, mulai jalan ke ruang makan... jalan ke teras rumah. Alhamdulillah, sekitar minggu kedua atau ketiga pasca operasi, saya udah lancar jalan (tapi ya gak langsung lari-lari juga heheh) dan perasaan tercekat dan napas tersengal-sengal udah hilang walaupun perasaan "perut mau jatoh" tetep ada sampe hampir sebulan lebih.

BACA JUGA : Pregnancy Story : Kehamilan Pada Trimester Ketiga


Dua hari pertama di rumah sepulangnya dari RS, selain saya harus berjibaku dengan latihan jalan... yampun... lokasi bekas epidural (suntikan di tulang belakang bagian bawah) berasa nyeri banget. Kaya ada jarum mengganjal diantara tulang-tulang belakang saya. Ngilu. Punggung bawah jadi berasa pegel dan panas gitu kalo digerakin. Tapi untungnya sakitnya cuma beberapa hari.

Minggu-minggu awal setelah lahiran via SC, bekas luka operasi masih sesekali berasa. Rasanya perih-perih sedep kaya kena luka gores tapi cuma sesaat. Alhamdulillah pas kontrol pertama pasca persalinan di dokter kandungan, luka saya udah kering dan nyatu dengan kulit.

Tapi jeng... jeng... jeng... ada keloid dibeberapa bagian bekas luka. Yasyudahlah... anggep aja sebagai kenang-kenangan hihi

Saat ini, sekitar 3 bulan lebih pasca operasi, perut saya masih kelihatan buncit :( kayak lagi hamil 4 bulan huhu otot perut saya mungkin agak lama kali ya recovery-nya. Ingin rasanya olahraga biar perut ini cepet balik kaya sebelum hamil tapi belum berani karena belum konsultasi sama dokter. Selain itu punggung bawah (bekas epidural) jadi gampang pegel kaya abis ngangkat karung beras padahal gak ngerjain kerjaan berat.

Intinya proses pemulihan pasca SC itu lebih lama dan lebih painful kalo dibandingkan dengan kembaran saya yang lahiran normal (padahal baby-nya termasuk besar juga diatas 3,5 kg). Kalo saya bisa lancar jalan sekitar 1-2 minggu setelah SC, kalo dia beberapa hari abis lahiran udah lancar jalan.

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

It was a good decision memutuskan lahiran di kampung halaman balik ke rumah ibuk.
Hampir aja saya nekat mau lahiran di kota rantau gara-gara gak mau LDM sama suami. Kalo beneran lahiran berdua suami doang... Yakin deh saya bisa ambyar heheh

Beruntung banget pasca lahiran di rumah banyak yang bantu urus Baby G, saya kebagian nyusuin aja hehe. Saya bener-bener fokus pemulihan tubuh dan belajar mengASIhi baby G.


Mau lahiran lewat pintu atau jendela, semua ada konsekuensi rasa gak nyaman masing-masing dan ingat: incomparable. Karena tekniknya aja beda, operatornya beda dan ambang nyeri tiap orang juga pasti beda kan...


Saya banyak bersyukur dan terima kasih banget sama Allah dan baby G karena saat melahirkan (kecuali pada bagian epidural huhu) saya gak ngerasain nyeri akibat kontraksi atau induksi buatan. Jadi nyerinya sekali aja pasca operasi. Sampe kakak saya bilang gini "anak kamu keren ya gak mau bikin ibunya sakit". Terharu akutu :')))) soalnya banyak kawan-kawan saya yang harus berjuang ngerasain mules-mules kontraksi dulu tapi akhirnya harus SC. Dua kata untuk kalian: Kalian Hebat! 

Sekian dulu tulisan saya kali ini.
Semoga bisa memberi insight mengenai proses lahiran lewat operasi yang kata orang-orang dibilang enak gak sakit. Katanya... 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
๐Ÿ’—Salam hangat dan have a good day๐Ÿ’—