Follow Us @soratemplates

Tuesday, 24 March 2020

Enam Hal yang Perlu Diobrolin dengan Pasangan Sebelum Menikah

March 24, 2020 4 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~



Hallo~ Jumpa lagi dengan saya yang setelah sekian lama baru nulis blog lagi heheh...
Kali ini saya mau bahas soal hal yang banyak di-galau-in orang-orang seumuran saya (mid 20') yaitu soal PERNIKAHAN. Lumayan lah buat refresh dari hiruk pikuk berita Covid-19 yang sekarang ini udah dalam tahap mengkhawatirkan :(

Kebanyakan pada heboh nyiapin acara bachelorette party sewa cafe/kamar hotel yang didekor sedemikian rupa tapi lupa pentingnya pre-marital check up
Pada heboh bikin acara lamaran kekinian tapi menutup mata sama kebiasaan pasangan yang suka maki-maki pelayan restoran didepan umum. 
Pada heboh nyari WO kenamaan, beli banyak bahan seragam bridesmaid tapi lupa ternyata pasangannya/orang tua diam-diam harus menanggung hutang demi resepsi mewah.

Ketika udah yakin untuk menikah, jangan terlalu terlena dengan euforia persiapan resepsi yang sifatnya seremonial, karena pada dasarnya yang HARUS dipersiapkan justru kehidupan setelah pesta resepsi selesai. Itu yang lebih esensial. Ingatlah, resepsi cuma sehari doang. Sementara kehidupan pernikahan yang sesungguhnya sangatlah panjang dan berliku.


BACA JUGA : Mengenal 5 Faktor Resiko Cekcok dalam Pernikahan


Disamping persiapan seremonial pernikahan, alangkah baiknya untuk mendiskusikan beberapa hal berikut dengan pasangan sehingga (akhirnya) kita bener-bener yakin untuk hidup bersamanya. Yakin bahwa he's/she's the one.

1. Sikap/Kebiasaan

Bukan tugas kita untuk merubah kebiasaan/sikap buruk pasangan karena yang bisa merubahnya adalah dirinya sendiri

Beneran deh... jangan banyak berharap sikap dan kebiasaan pasangan akan berubah lewat pernikahan.
Pastikan bahwa (setidaknya) kita mampu untuk mentolerir sikap dan kebiasaan pasangan dalam jangka panjang saat udah menikah nantinya. Karena apa ? ya itu tadi... yang bisa merubah sikap seseorang ya cuma dia doang yang bisa.

Sama seperti potongan ayat QS. Ar-Ra'd:11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,”

Maksudnya gini, saat kita udah menikah dengan seseorang... itu artinya kita siap dengan "lu lagi lu lagi" mulai dari bangun tidur sampe mau tidur. Pertanyaan, udah siap apa belum berurusan dengan orang dan hal yang sama berulang-ulang ?

Ehtapi biasanya, seiring berjalannya waktu... suami dan istri akan saling berubah untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya. Demi rumah tangga yang harmonis, maka keduanya harus saling berusaha... gak bisa cuma ngandelin salah satu pihak aja. 

Contohnya, awal-awal menikah saya sering marah ke suami karena dia gak peka dan cuek. Gara-gara salah masakin mie Samyang aja saya bisa ngamuk seharian. Karena capek maramara mulu xD sy kemudian membuka ruang diskusi sama suami kalo saya maunya gini, kamu maunya gitu mari kita perbaiki sama-sama. Akhirnya saya berusaha untuk jadi inisiator dan membiarkan suami jadi eksekutor dengan arahan yang saya kasih. Karena percayalah... jalan pikiran laki-laki sama perempuan itu buedaaaa banget hahah

Lalu...
Kebayang gak kalo ternyata pasangan kita aslinya gak "sebagus dan sesuai harapan kita" pas pacaran/pdkt ? Pasti kecewa. Inget aja, apa yang ditampilkan pasangan saat pacaran/pdkt adalah the best version of her/him sementara ketika sudah menikah bakalan ketauan "belang-belangnya" deh. 

Maka dari itu, penting banget untuk tau kebiasaan dan sikap dari pasangan. Terutama sikap dan kebiasaan ketika dia marah dan masalah kejujuran dalam segala hal.

Kenapa 2 hal tersebut penting ? karena:

1) orang lagi marah bisa diluar kendali dan biasanya yang jadi sasaran kemarahannya adalah orang terdekatnya
2) Jujur adalah kunci dalam komunikasi dan komunikasi adalah kunci langgengnya sebuah hubungan.

Contohnya, kalo pasangan suka main tangan/ngata-ngatain ketika dia lagi marah... ya kemungkinan besar pas udah menikah juga bakal kaya gitu lagi. Kalo bisa terima dengan hal tersebut... go ahead

Atau sekali ketauan selingkuh, terus minta maaf dan dimaafin... terus ketauan lagi... dimaafin lagi. Nah kalo udah 2x begitu... itu hobi apa doyan ? hahahah

Emak Bapak kita ngurus dan besarin kita dengan sekuat tenaga, ngejaga dan ngerawat kita dengan sebaik-baiknya... masa pas udah nikah dengan "gampangnya" dipukulin gitu sama suaminya ? alasannya khilaf lah emosi lah... preeetttt dutttt. Jangan percaya. Itu sih emang udah tabiatnya aja suka main kasar. 

Cara yang paling gampang untuk ngukur tempramen pasangan salah satunya adalah dengan memperhatikan gimana dia memperlakukan pelayan/kasir/tukang parkir/OB kantor karena dia gak punya kepentingan apa-apa dengan mereka kan ? Berbeda dengan kita sebagai pasangannya. Dia punya kepentingan tertentu kepada kita yaitu ingin menjalin hubungan jadi sebisa mungkin dia akan menunjukan yang baik-baiknya aja depan kita. Bener gak ?

Kalo ternyata sama pelayan/kasir/tukang parkir/OB kantor aja diperlakukan semena-mena dengan "sok" mending bye bye aja deh... Kemungkinan ketika dia sudah mendapatkan kita (berarti kepentingannya telat tercapai) maka kita juga akan "disemene-menakan" apalagi kalo posisi kita powerless

Etapi itu cuma contoh aja sih hehehe... berdasarkan pengalaman pribadi hihi.

2. Keuangan


Sebelum benar-benar yakin mau menikah dengan seseorang, harus pake banget diskusi mengenai keuangan. Pada bagian ini keterbukaan adalah kuncinya karena kalo gak didiskusikan sejak awal, masalah keuangan bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan aja.

Hal utama yang perlu diketahui pasangan adalah soal hutang dan tanggungan biaya untuk keluarga (inget, setelah menikah seorang lelaki masih harus bertanggung jawab dengan keluarganya terutama ibu dan saudari perempuannya) biasanya konflik dalam rumah tangga bisa muncul karena 2 hal tersebut. 

Ketika sudah menikah maka:

"Uang suami adalah uang bersama dan uang istri adalah uang istri"

Makanya perlu diomongin kira-kira sebelum menikah ada kewajiban bayar hutang apa aja (contoh: KPR rumah, mobil) lalu  kalo sebelum menikah biasanya ngasih orang tua sekian nah kalo udah menikah ngasih orang tua dan mertua berapa. Bila perlu bikin daftar pengeluaran dan pendapatan masing-masing lalu dikolaborasikan supaya ketika udah menikah gak kaget-kaget amat gitu.


BACA JUGA : Strategi Mengelola Uang Bulanan


3. Karir


Masalah dilema karir ini biasanya terjadi dipihak istri karena berurusan dengan rumah dan anak. Diskusikan apakah setelah menikah istri akan berhenti kerja fokus dirumah atau tetep lanjut kerja. Jika istri fokus dirumah, maka perhitungkan kembali soal pemasukan dan pengeluaran rumah tangga (poin sebelumnya) mengingat hanya ada pemasukan dari suami. Jika istri tetap bekerja, maka bagaimana pengaturan pekerjaan rumah tangga dan urusan anak. Apakah perlu sewa ART ? Perkirakan juga apakah ada kemungkinan LDR karena pekerjaan atau enggak. Jika ya, lalu gimana solusinya. 

Sudah siap apa belum jarang ketemu suami/istri ? LDR suami istri itu lebih menyiksa dari LDR pacaran loh hihi

4. Tempat Tinggal


Ngontrak dulu ? Ngekos dulu ? atau langsung beli rumah ? Tunai atau KPR ? Kalo KPR ngambil tenor berapa tahun ? Atau tinggal dengan mertua ? Berapa lama ?

Senyaman-nyamannya tinggal dirumah mertua, lebih enak tinggal sendiri karena bisa melatih kita untuk hidup mandiri dan indpendent terutama masalah mendidik dan mengurus anak.

Sering banget kan denger konflik antara mertua-menantu karena berbeda paham soal ngurus rumah, suami dan anak. Tentu pihak yang paling bingung adalah suami karena bingung harus memihak siapa... Makanya masalah tempat tinggal adalah salah satu hal penting yang perlu dibahas sebagai salah satu aspek persiapan menuju kehidupan rumah tangga.

5. Anak


Setelah menjalani hubungan halal lewat pernikahan, maka (sebagian besar) pasangan akan mengharapkan kehadiran seorang anak. Hadirnya seorang anak tentu ada konsekuensi yaitu bertambahnya kebutuhan keuangan dan tanggung jawab mental dan moral untuk menjadi orang tua. Kalo sebelumnya hanya ada "aku dan kamu" maka selanjutnya menjadi "kita".

"Anak kan ada rezekinya sendiri"

Iya bener, bahkan cacing dalam tanahpun bisa hidup karena Allah emang udah menyiapkan rezekinya. Tapi lebih baik untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencukupi kebutuhan anak yang.... seringnya kebutuhan anak itu harganya bisa lebih mahal dari kebutuhan orang tuanya hahaha. Tunjukan kepada Allah, kalo kita memang sudah mampu secara lahir dan batin untuk punya anak. Jangan cuma ngarep "ah nanti juga ada rezekinya".

Iyaa ada rezekinya udah disiapin sama Allah. Tapi masalahnya rezeki kan harus dijemput

Makanya perlu banget diskusi soal anak. Apakah mau langsung hamil atau mau menunda dulu karena merasa perlu waktu untuk persiapan. Menunda punya anak bukanlah sebuah dosa kok. Dosa itu kalo buru-buru punya anak tapi setelah lahir malah ditelantarkan. 

Biarin aja orang mau julid "kok belum hamil aja sih ? KB yah? Kok nunda sih?" toh mereka gak ikut patungan biaya buat gedein anak kan ? toh kalo lagi susah, mereka kadang suka tutup mata kan ?

Belum lagi tanggung jawab mental untuk jadi seorang orang tua. Berat!
Pernah denger soal baby blues dan post partum syndrome ? Itu juga perlu dipersiapkan. Masalah pembagian tugas rumah tangga setelah punya anak juga perlu didiskusikan dengan pasangan karena pasti kehidupan suami istri akan berubah 180 derajat setelah punya anak.

Dan yang paling perlu untuk didiskusikan adalah pertanyaan "gimana kalo dalam jangka waktu sekian lama ternyata belum dikasih sama Allah ?". What will we do ?

Menikah itu bukan cuma hidup bersama dalam waktu senang tapi susah juga

6. Kesehatan


Mungkin gak banyak orang yang aware mengenai korelasi kesehatan dengan kehidupan rumah tangga setelah menikah. Termasuk saya. Padahal kesehatan adalah hal yang perlu juga diobrolin dengan pasangan sebelum menikah.

Kalo perlu, lakukanlah pre-marital check up yang sudah banyak disediakan oleh klinik laboratorium seperti Prodia, Pramita dll. Harapannya, dengan dilakukan pre-marital check up, kita bisa mengetahui status kesehatan kita dan pasangan kita sehingga kedepannya dapat dilakukan tindakan-tindakan preventif

Misalnya, setelah cek darah ternyata pasangan kita kadar kolesterolnya tinggi. Berarti kita sebagai pasangannya perlu memperhatikan asupan makanannya. Perlu mengatur pola hidupnya gimana.

Kita dan pasangan juga perlu menceritakan riwayat kesehatan keluarga masing-masing karena ada beberapa penyakit yang faktor resiko diturunkannya tinggi seperti diabetes dan beberapa penyakit kardiovaskular.

Misalnya, ayah kita merupakan penderita diabetes. Maka kita sebagai anaknya punya faktor resiko terkena diabetes lebih tinggi dibandingkan orang yang gak punya riwayat diabetes dikeluarganya. Makanya kita perlu mengatur pola makan dan gaya hidup untuk meminimalisir resiko tersebut.

Masalah kesehatan juga erat kaitannya dengan masalah keuangan.
Kalo sewaktu-waktu sakit perlu berobat kan... atau kalo hamil juga perlu rutin kontrol ke dokter.
Maka dari itu persiapkan pula rencana-rencana penanganan hal tersebut. Apakah akan mendaftar asuransi kesehatan secara mandiri atau ada asuransi kesehatan dari kantor atau mengandalkan emergency fund atau buat tabungan khusus untuk kesehatan. Diskusikanlah dengan pasangan.


Waaahhh ternyata banyak ya hal yang perlu didiskusikan dengan pasangan sebelum menikah...
Iya, saya juga kaget hahaha karena dari sekian banyak yang saya tulis diatas hanya beberapa poin saja yang saya diskusikan dengan suami sebelelum menikah karena minimnya pengetahuan kami soal rumah tangga wkwkw.

Semoga tulisan ini membantu buat kawan-kawan yang sedang mempersiapkan pernikahan.



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Wednesday, 12 February 2020

Berencana untuk Umroh ? Jangan Lupa Bawa Barang-barang Berikut ini

February 12, 2020 22 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

-

Haii~
Kali ini saya mau nulis sedikit pengalaman saya saat Umroh. Pasalnya, saya merasa ada beberapa barang yang saya bawa dari Indonesia yang ternyata sangat berguna untuk menunjang ibadah selama di tanah suci.

Ibadah Umroh merupakan ibadah yang sangat memerlukan kekuatan fisik.
Apalagi buat orang Indonesia yang terbiasa tinggal di iklim tropis dengan 2 musim (Kemarau dan Penghujuan), iklim gurun di negara Arab Saudi adalah tantangan tambahan dalam menjalankan ibadah di tanah suci. Karena perbedaan iklim tersebut tak jarang menyebabkan menurunnya stamina para jemaah, jadi kita harus pintar-pintar menjaga ketahanan tubuh supaya optimal dalam beribadah.

Selain pakaian, alat ibadah dan perlengkapan pribadi seperti obat-obatan, skincare dan alat mandi... alangkah baiknya membawa beberapa barang berikut ini sebelum berangkat menjalankan ibadah Umroh demi kelancaran ibadah. Ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi ya..

Jaket (dan sarung tangan)

Iklim di negara Arab Saudi adalah iklim gurun yang kalo siang panas terik tapi kalo malem bisa dingin banget. Tapi tergantung kondisi badan juga sih... Apalagi di Madinah. Beberap hari pertama di tanah Arab Saudi, saya merasa kedinginan saat waktu isya dan pagi hari. Mungkin badan saya masih beradaptasi kali ya dan lagi capek karena perjalanan Indonesia-Arab Saudi yang lumayan jauh... jadi tiap keluar hotel saya selalu bawa jaket, bahkan kalo ada pake sarung tangan heheh.

Belum lagi kalo kebagian tempat sholat yang deket AC masjid. BBBRRRRR~ makin dingin aja. Jadi perlu banget untuk bawa jaket, gak perlu yang tebel-tebel kok... sweater atau jaket rajut udah cukup menghangatkan badan.

Botol Semprot dan botol minum

Ini adalah benda yang menurut saya paling jenius yang saya bawa saat Umroh heheh.

Fungsinya apa sih ?
Pertama botol minum itu kita bawa untuk kita isi dengan air zam-zam untuk persediaan selama di hotel. Biar makin puas minum banyak air zam-zam...

Botol minum sekaligus botol semprot
Beli di Tokopedia harganya 60-70an K ukuran 600 mL

Kedua botol semprot (botol yang ada sprayer-nya) itu fungsinya sebagai air wudhu darurat dalam masjid. Gak perlu yang gede kok... ukuran 100 mL udah cukup.

Tau kan masjid Nabawi dan Masjidil Haram itu luasnya kaya apa ? Kadang-kadang kita dapet tempat sholat yang jauh dari tempat wudhu yang kalo jalan kaki itu lumayan banget.

Apalagi kalo jarak antara hotel dan masjid lumayan jauh... daripada bolak-balik hotel-masjid mendingan diem aja dalam masjid sambil nunggu waktu sholat berikutnya. Misalnya waktu sholat Ashar-sholat Magrib-sholat Isya. Nah waktu jeda antarsholat ini kan kadang kita pakai untuk tidur (tapi lebih baik buat dzikir atau ngaji sih). Kalo udah tidur brati wudhunya batal. Atau kita kentut pas lagi dzikir... Berarti harus wudhu lagi kan pas mau sholat tuh... tapi tempat wudhu-nya jauh, biar praktis bisa wudhu 'darurat' pake botol semprot ini.

Tutorial wudhu dengan botol semprot bisa dilihat disini: Cara Ambik Wuduk Guna Botol Spray Dengan Syarat2 Tertentu (bahasa Malaysia)

Ohiya, wudhu darurat ini bisa juga dipraktekan saat kita lagi di pesawat loh...
Jadi kita gak perlu tayamum karena kita punya sumber air yang bisa dipakai untuk wudhu.


BACA JUGA : Umroh dan Obat Penunda Menstruasi

Lip balm

Iklim gurun yang kalo panas bisa terik banget dan kalo dingin bisa dingin banget tentu akan mempengaruhi kondisi kulit terutama bibir. Makanya penting banget untuk bawa lip balm saat Umroh. Takutnya kalo bibir udah kering, terus mengelupas lalu bikin luka pasti bikin bibir perih... akibatnya bikin gak enak makan. Kalo udah susah makan tentu akan mempengaruhi kekuatan dan daya tahan tubuh kita selama menjalankan ibadah umroh.

Saya sarankan bawa lip balm Vaseline Lip Therapy karena mantul banget bikin bibir lembab terus. Tapi gak enaknya adalah bentuk kemasannya yang kaya balsem jadi kurang higienis menurut saya karena harus dicolek-colek pake jari. Kalo mau yang praktis, beli aja lip balm yang bentuknya kaya lipstik.

Cemilan

Ibadah Umroh dilakukan di kota suci Mekkah dan Madinah. Jarak kedua kota tersebut lumayan jauh yaitu sekitar 7 apa 6 jam perjalanan dengan bus *CMIIW. Saya pernah ngalamin delay yang lumayan lama pada saat perjalanan Madinah-Mekkah ini.

Ceritanya rombongan saya berangkat dari Madinah ba'da Dzuhur dengan perkiraan jadwal : sholat Ashar di Bir Ali sekalian ambil miqat terus lanjut perjalanan sampai Mekkah ba'da Isya, dilanjut makan malam dulu di hotel, sholat isya dikamar hotel masing-masing abis itu langsung menjalankan serangkaian ibadah utama Umroh yaitu Thawaf, Sa'i dan Tahalul. 

Diluar rencana, dalam perjalanan bus yang kami naiki kena tilang polisi πŸ˜… gak tau apa sebabnya. Terus kami digiring ke kantor polisi setempat yang letaknya ditengah gurun antah berantah hahah. Dari perkiraan sampai Mekkah sekitar jam 7 atau 8 malam... ternyata kami baru sampai Mekkah sekitar jam 12 malam dengan kondisi perut kosong, kafetaria hotel sudah tutup dan harus segera menjalankan Umroh karena kami sudah sudah berihram.

Nah gunanya cemilan adalah untuk kondisi-kondisi darurat seperti yang pernah saya alami. Cemilan ibaratnya seperti pertolongan pertama supaya kita tetep berenergi dan menjaga kebugaran tubuh.

Sepengalaman saya juga, selama kita di tanah suci, pihak travel akan selalu menyediakan cemilan kok. Tapi kadang cemilannya gak masuk untuk lidah sebagian orang Indonesia terutama yang picky eater seperti saya heheh. Seringnya sih pihak travel ngasih cemilan berupa kacang-kacangan, maamoul atau roti croissant yang ketiga-tiganya saya gak doyan jadi mau gak mau harus selalu sedia cemilan yang saya bawa dari Indonesia deh. 

Cemilan yang saya bawa biasanya coklat bar gitu soalnya gak makan tempat tapi cepet nge-boost energi. Kalo biskuit kan ukurannya agak bulky ya heheh...
Oiya bawa cemilannya disesuaikan sama kebutuhan, misal untuk sehari perlu 2 coklat bar... brati untuk ibadah selama 9 hari kita perlu 18 bungkus coklat bar.

Extra (foldable) bag, Lakban dan Spidol

Seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, saat bepergian ke suatu tempat... beli oleh-oleh untuk dibagikan ke sanak saudara adalah sebuah kebiasaan. Ya kan ? Bener kan ?
Nah gak jarang oleh-oleh yang kita beli itu suka gak muat dalam koper. Inilah fungsinya bawa extra bag (bahkan ada yang sengaja bawa extra koper kecil loh).

extra bag yang saya bawa saat Umroh. Ini foldable jadi gak makan tempat dalam koper tapi pas dibuka bisa muat banyak.
Beli di ACE Hardware atau di Online shop juga banyak yang jual
Sumber : AliExpress.com

Biar extra bag tersebut gak "nyasar" makanya kita perlu untuk bawa spidol dan lakban bening untuk bikin label di tas tersebut. Sebenernya kalo mau simple sih kita tinggal bawa name tag koper aja... cuma kadang-kadang name tag koper itu kan kecil ukurannya... berasa kurang noticeable jadi mendingan bikin label sendiri karena bisa kita tulis besar-besar biar terpampang nyata!

Sebagai informasi tambahan, berikut ini saya bikin list barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat berangkat Umroh (versi Wanita) :
  • ID card dari Travel yang harus selalu dipake dimanapun kemanapun
  • Uang cash Real dan Rupiah secukupnya (kalo perlu bawa ATM, beberapa Bank Indonesia udah ada yang kerjasama dengan Bank di Arab Saudi. Menurut saya gak perlu bawa dompet yang biasa kita pake di Indonesia yang banyak macem-macem kartu ini itu... cukup bawa 1 dompet khusus yang isinya uang cash, KTP, Paspor dan ATM aja) *Pssssttt... banyak toko-toko yang terima pembayaran dengan Rupiah loh
  • Pakaian ganti (jangan lupa kaos kaki dan kaos tangan untuk Ihram)
  • Alat mandi dan skincare (walaupun dihotel pasti disediain amenities sih)
  • Obat-obatan pribadi (tolak angin is a must! kalo khawatir menstruasi, bawa juga pembalut)
  • Alat Ibadah (termasuk buku doa dan tuntunan Umroh)
  • Extra bag (foldable travel bag)
  • Sandal jepit (swallow for lyfe wkwkw)
  • Jaket
  • Botol semprot
  • Cemilan
  • Lakban dan spidol permanent/name tag koper tambahan
  • Charger

Sekian dulu tulisan saya kali ini.
Semoga membantu yaaa



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Saturday, 11 January 2020

Pregnancy Story : Kehamilan Pada Trimester Kedua

January 11, 2020 22 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~


I don't know is it good or bad idea to share about my pregnancy story.


Satu sisi saya ingin berbagi cerita bahwa ini loh orang hamil tuh begini... orang hamil tuh begitu... biar gak melulu cerita "muntah-muntah" aja yang beredar seputar kehamilan. Karena jujur, awal-awal saya hamil itu udah takut duluan, padahal kan ya hamil itu sesuatu yang normal dan wajar banget buat perempuan. Harus disambut dengan menyenangkan, iya gak ?

Tapi...
Disisi lain saya ada perasaan gak enak sama temen-temen yang masih berjuang diluar sana. Saya pernah merasakan ada posisi mereka, ngerasa baper liat update sosial media soal anak, soal hamil, soal mamah-mamah muda dll. Belum lagi saya punya ketakutan soal overexcitement terhadap sesuatu. Contohnya, saat saya membagikan tautan tulisan Pregnancy Story : Kehamilan Pada Trimester Pertama di halaman Facebook saya beberapa waktu lalu, banyak temen-temen yang mengucapkan selamat gitu... I don't know, saya ngerasa kaya jadi tukang pamer jadinya πŸ˜” That's why saya publikasi tulisan tersebut agak lama hehe...

Tapi lagi, I have to choose, right ?
Sembari mengisi waktu luang, saya memutuskan untuk nulis di blog aja.
Kenapa ? karena sekarang ini gak semua orang baca blog wkwkwk so I think blog is safer.

BACA JUGA : Pregnancy Story: Prolog dan Cerita tentang Kista


Melanjutkan cerita kehamilan pada trimester pertama, kali ini saya akan berbagi mengenai pengalaman kehamilan pada trimester kedua yang kata banyak orang adalah fase "enak"nya orang hamil. Masa sih ?

How I feel

Physically


Semakin hari napsu makan bertambah dan mulai out of control :( lavar every time. Akibatnya ? badan mulai melar cyiiinn... and voila... muncul lah stretch mark. Ya gimana gak jadi stretch mark, dari sebelum hamil sampe 25w aja udah naik 15 Kg haduuhhhh tuluunggg~

Keluhan seperti pusing dan mual udah jauh berkurang banget, mungkin karena ada suplemen tambahan dari dokter kali ya yang sebelumnya saya cuma konsumsi asam folat aja sekarang ditambah suplemen penambah darah, kalsium dan suplemen kompleks. Tapi kalo cepet capek dan makin gampang engap sih masih ada apalagi dengan kondisi perut yang udah makin mblendung.

Kondisi mukanya gimana ?
Bruntusan ? Masih bangettttt. Udah gitu ditambah ada jerawat pustula (ada mata berupa nanah) di pipi kanan dan kiri yang timbul tenggelam yang awalnya dari jerawat nodul yang merah, besar, nyut-nyutan dan meradang (tanpa ada mata). Jerawat-jerawat ini tempatnya sama terus dan kaya bikin siklus: jerawat nodul >>> jerawat pustula >>> kering >>> sembuh tapi berbekas hitam >>> jerawat nodul lagi dst. Gitu aja terus huhu

Terus jerawatnya diobatin gak ? Enggak.
Biarin aja deh. Saya masih was-was pake macem-macem skincare pas lagi hamil gini. Cukuplah sabun cuci muka dari Clear n Clear aja.

Mendekati akhir trimester kedua dan seiring makin besarnya perut, gerakan saya makin terbatas. Maksudnya saya udah gak bisa tidur telentang dan gak bisa bebas guling-guling kanan kiri... jadi punya bantal hamil adalah sebuah keharusan atau pake banyak bantal untuk menyangga tubuh, kalo sholat juga harus pelan-pelan banget apalagi gerakan dari sujud ke berdiri itu sebuah perjuangan untuk saya sekarang. Pakai celana, kaos kaki dan gunting kuku kaki juga udah mulai susah hehe. Udah kaya kura-kura gak sih hahahah

Frekuensi pipis juga jadi makin seriiinggg bangetttt, baru juga pipis eh 15 menit kemudian udah kebelet lagi. Selain itu, kaki jadi gampang kesemutan juga jadi gak bisa berdiam diri dalam 1 posisi yang sama.

Pada trimester 2 ini, saya juga ngerasa jadi lebih banyak keluhan dan menurunnya daya tahan tubuh. Misalnya pas usia kandungan 4 bulanan, gigi geraham saya mendadak sakit nyut-nyutan gitu padahal gak pernah sakit walaupun emang udah berlubang sebelumnya jadi ya mau gak mau harus ditambal di dokter gigi supaya gak makin parah. Contoh lain juga jadi gampang batuk pilek dan sembelit. Yang jadi masalah adalah karena orang hamil kan gak boleh sembarangan konsumsi obat... jadi mau gak mau harus konsultasi ke dokter Obgyn dulu. Sebenernya bisa aja pake obat-obatan tradisional sih tapi saya cari aman aja lah pake obat dari dokter sekalian.

BACA JUGA : Pregnancy Story : Kehamilan Pada Trimester Pertama


Mentally

Kalo di trimester pertama saya banyakan galau dan parnoan apalagi soal makanan, ditrimester kedua ini saya jadi lebih santai. Mau makan apa aja hajarrr asal bersih, matang sempurna dan tau batasan. Tapi justru karena hal itu lah kenaikan BB saya mulai kelewatan :( bikin kepikiran takut overweight.

Bagian yang menyenangkan ditrimester kedua ini adalah saya sudah mulai merasakan gerakan janin sejak usia kandungan 20 mingguan dan pas kontrol ke dokter dibulan ke-4 udah bisa denger suara detak jantungnya! It really something for me. Susah dijelasin :") karena awal-awal hamil saya ngerasa ya biasa aja gitu kaya g hamil... tapi sekarang udah ada yang gerak-gerak dalam perut. Terutama pas mau tidur... kadang-kadang pas bangun tidur juga. Seru deh.

Tapi, ada hal yang bikin saya insecure memasuki trimester kedua ini.
Karena badan saya mulai melar sehingga muncul stretch mark, bikin insecure di depan suami karena penampilan saya. Takut suami jadi gak suka... takut suami jadi kurang tertarik lagi... walaupun sebenernya suami udah bilang gak masalah dengan perubahan bentuk badan saya yang sekarang. Tapi kan tetep aja ya... nama cewek pasti ada lah rasa-rasa mindernya. Sering banget saya nanya ke suami:

"aku kaya pinguin ya ? kamu bosen gak sama aku kalo aku lebar gini ? kalo badanku gak balik kaya sebelum hamil gimana ?"

Pada tahap ini juga saya udah mulai cari-cari informasi soal persalinan dan ASI supaya saya gak clueless-clueless amat lah ya. Soalnya saya udah mulai dapet ultimatum "mitos" dari ibuk nih. Contohnya:

  1. Dipaksa bawa guntung kuku kalo keluar rumah malem-malem
  2. Abis melahirkan nanti gak boleh makan protein hewani (telur, ikan, daging) sampe 40 hari 
  3. Gak boleh berurusan sama kegiatan jahit menjahit

Haduuuhhhh πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
Mau dibantah nanti jadi panjang urusannya, kalo saya tanya alasannya mesti jawaban pamungkas ibuk saya "Kamu nih daikasih tau orang tua jawab mulu. Kamu kan belum pernah melahirkan"
iya-in aja dulu deh biar cepet wkwkw

Sekian dulu ya cerita saya soal pengalaman hamil di trimester dua ini.
Semoga membantu :)


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Tuesday, 31 December 2019

Target Tahun 2019 ? Sudahkah Tercapai ?

December 31, 2019 24 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~



Sejak memutuskan untuk (berusaha) rajin nulis blog, apalagi udah pake TLD, tadinya saya pengen rutin nulis achievement tiap bulan biar blog saya terus ada isinya heheh. Tapi terus niatnya jadi kendur, dari yang tiap bulan jadi tiap 3 bulan gitu. Lalu makin kendur lagi... jadi tiap 6 bulan sekali. Padahal baru niat doang hahah... belum nulis.

Bagian paling sulit adalah memulai


Sampe akhirnya dipenghujung tahun 2019, saya bertekad harus ada 1 tulisan yang saya dedikasikan untuk tahun tersebut. Itung-itung buat ngereview diri sendiri.

Tapi tidak semudah itu Ferguso...
Niat nulis saya agak terbentur dengan jadwal liburan sekolah huhu.
Lha hubungannya apa ? Hubungannya adalah... Saya jadi makin riweuh karena ibu, kakak dan keponakan saya pada liburan dirumah saya hahah.

So here I am, menulis disela-sela liburan sekolah keponakan.

Hmmm... mulai darimana ya enaknya ? 
Oh iya! Awal tahun lalu saya sempet ikut 30 Day Blog Challenge. Dua tema diantaranya adalah target personal dan blogging untuk tahun 2019
Baiklah... saya mulai dari sana ya.

Gimana hasilnya ? Apakah semua goal tercapai ?

Blogging Target

🌸 Ganti Domain
Horeeee... Dalam 2 bulan setelah terjun kedalam dunia per-blog-an, saya (dengan full support dari suami) langsung memutuskan untuk beli domain sendiri. Tujuannya supaya saya bisa pake nama Niklosebelas.com instead of adekpunyacerita.blogspot.com yang rasanya kepanjangan heheh

🌸 Layout Improvement
Kalo masalah domain dan daftar AdSense jadi urusan suami, maka personalisasi tampilan blog adalah otoritas penuh saya dan menurut saya tampilan yang sekarang adalah tampilan yang aku-banget: simple, cute tapi masih berwarna.

🌸 Konsisten Nulis
Awal 2019 saya menargetkan untuk menerbitkan tulisan minimal 2 tulisan/minggu (8 tulisan/bulan) dan fokus pada tema film, personal experience dan life style. Realitanya adalah... Cuma 6 bulan yang hampir mendekati target, at least setiap minggu ada 1 tulisan yang terbit. Sisanya ? Bisa nerbitin 1 tulisan aja udah Alhamdulillah banget.

Dari 3 tema yang saya targetkan, untungnya 2 tema bisa terpenuhi. Untuk tema film (review) kayaknya mau saya fokusin nulis di Twitter aja deh. Jangan lupa main ke Twitter saya @niklosebelas ya 😁😁 Udah ada beberapa review film yang saya tulis.

🌸 Rajin Blog Walking
Targetnya sih tiap hari minimal BW 5-10 blog, tapi ya rencana tinggal rencana. BW cuma dari kunjungan balik doang :( Padahal selain gabung Blogger Perempuan Network, saya juga gabung di komunitas 1 Minggu 1 Cerita, HARUSnya sih bisa makin rajin BW-an huhu

🌸 Meningkatkan Traffic
Saya agak bingung sih target meningkatkan traffic ini sebenernya udah tercapai apa belum. Soalnya, kalo saya tengok overview statistik versi Blogger, pageviews per hari udah hit di angka > 60. Tapi ya gak tau itu orang beneran atau bot :( karena audience-nya dari luar negeri dan di jam-jam tengah malem huhu

🌸 Belajar Ilmu Blogging
Target yang ini bener-bener zero! Gak tersentuh sama sekali. Buat ngurusin perpanjang domain aja saya nyuruh suami heheh Maybe next time ?


BACA JUGA : Blogging Target Tahun 2019

Personal Target

πŸ“‹ OMOB (One Month One Book) 
Tim wacana... mana suaranyaaa ????
Tim beli buku terus bacanya enggak... mana suaranyaaa ????
Aku... aku... !
Jadi... ya sudah dipastikan target 1 buku 1 bulan tidak terpenuhi deh :(

πŸ“‹ More Serious with Blogging and Crocheting 
Setelah beli domain sendiri dan daftar AdSense diawal 2019, seenggaknya saya udah mulai menunjukkan keseriusan saya untuk lebih rajin ngeblog heheh. Dalam setahun saya menghasilkan 72 tulisan termasuk tulisan yang saya ikutkan dalam challenge komunitas tapi tidak termasuk tulisan ini. Jadi rata-rata tiap bulannya ada 6 tulisan setiap bulan atau minimal 1 tulisan per minggu. Lumayan produktif gak sih untuk ukuran pemula yang moody-an kaya saya 😁

Sementara untuk hobi saya yang lain, crocheting atau dalam bahasa Indonesia artinya merajut dengan menggunakan hook/hakpen, setidaknya ada 3 proyek besar yang udah jadi (taplak meja, shawl dan hand bag besar) dan 1 proyek yang masih on going karena belum saya putuskan mau dibikin apaan.

Lumayan~

Taplak meja doily yang saya buat 1 per 1 lalu saya susun sampe jadi seukuran meja tamu
Bahan : Benang poliester 

Proyek yang masih on going, bentuknya persegi dengan motif granny square
Bahan : Benang katun biasa

Shawl request mamake gara-gara liat orang Turki pada pake syal pas Umroh, bentuknya segitiga dengan motif granny square
Bahan : Benang katun susu

Hand bag ukuran besar request mamake lagi karena sebelumnya beli tas rajutan tapi ukurannya kekecilan jadi minta anaknya aja suru buatin padahal ini pertama kalinya saya bikin tas sebesar ini
Bahan : Tali kur

πŸ“‹ Reduce Coffee 
Berkat hamil, saya mau gak mau harus membatasi asupan kafein yang asalnya dari coklat, kopi terutama teh. Iyaaa, saya mah gitu lebih gampang dibikin deg-degan sama teh dibanding kopi heheh jadi kalo dalam sehari udah minum kopi maka saya gak boleh minum teh dan harus meminimalisir makan coklat. Soalnya selama hamil saya gak cuma makin baperan aja tapi juga makin sensitive soal makanan.

πŸ“‹ Re-activate home exercise 
Targetnya adalah rutin Zumba atau Yoga demi flexibility.
Alhamdulillah baru terealisasi sejak hamil, itupun baru beneran serius sekitar bulan November-Desember hehehe. Gak apa-apa lah ya telat daripada gak mulai sama sekali.
Durasi latihannya dari seminggu sekali, naik jadi seminggu 2x dan sekarang udah pada tahap seminggu 3-4x Yoga dengan durasi 30-60 menit. Selanjutnya saya menargetkan untuk prenatal yoga setiap hari minimal 1 jam.

πŸ“‹ Managing The Emotion 
Awal-awal hamil emang saya jadi super baperan banget. Gampang kesulut emosi dan jadi melodrama abis. Tapi di 2019 ini saya juga mulai belajar untuk membiasakan diri jadi "bodo amat" sama orang-orang yang gak terlalu signifikan dalam hidup saya. Toh saya bukan manusia super yang bisa menyenangkan semua orang. I'm just ordinary people. Hasilnya ? I'm more relaxed than before. Lebih chill karena masih ada hal lain yang lebih penting untuk saya pikirin ketimbang orang-orang yang bisanya cuma bikin huru-hara aja :")

BACA JUGA : 5 Personal Goals in 2019


Kalo temen-temen gimana target di tahun 2019 ? Apakah semuanya sudah ter-✅ ? Yuk bagi ceritanya lewat kolom komentar dibawah ini, gratis kok hehehe πŸ˜‚

Sekian dulu tulisan saya hari ini yang saya tulis super ngebut
Semoga menghibur hihih



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Saturday, 7 December 2019

Pregnancy Story : Kehamilan Pada Trimester Pertama

December 07, 2019 16 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~




Pada tulisan sebelumnya, saya udah cerita soal kista coklat di indung telur kiri.
Karena saya udah tau punya kista, saya jadi makin aware sama jadwal dan intensitas siklus menstruasi. Saya gak pernah lupa untuk catat tanggal awal dan akhir menstruasi dan keluhan apa aja yang saya alami tiap bulannya lewat aplikasi di handphone. Supaya in case kalo kenapa-kenapa, saya bisa lacak disitu.

BACA JUGA : Pregnancy Story: Prolog dan Cerita tentang Kista


Pernah siklus saya mundur 3 hari. Dalam 3 hari itu, saya becandain suami "hun, jangan-jangan aku hamil..." terus dia cuma senyum aja sambil jawab "Aamiin doong....". Tapi ternyata dihari ke-4  saya menstruasi. Dari situ saya mulai ngerasa sedih dikit-dikit karena becandaan saya beneran jadi candaan semata :( Sejak tau saya punya kista dan 'ditakut-takuti' dokter, saya mulai berharap untuk segera "isi", mana timeline sosmed saya juga kebanayakan isinya aktivitas mamah muda beserta bayinya.

Sebaik-baiknya pengharapan, hanya kepada Allah

Mungkin saya kurang kenceng usaha dan doanya. Saya pernah sedih dan nyalahin diri sendiri "kok belum (hamil) aja, jangan-jangan bener apa kata orang soal..." belum selese saya ngomong, suami saya langsung motong "udah dek, jangan dibawa pusing ya. Santai aja"

JADIII BUAT YANG SUKA NANYA "KAPAN HAMIL? KAPAN HAMIL?" PLISSS STOP NANYA-NANYA BEGITU. BIKIN STRESS TAU! Sekali dua kali ditanya begitu masih oke aja, kalo udah berkali-kali ya dongkol juga~

Sampe akhirnya dibulan Agustus, menstruasi saya telat 5 hari gak kaya biasanyanya yang paling lama telat 3 hari dan saya merasa ini bukan karena kista. Tapi anehnya saya juga ngerasain tanda-tanda kaya mau menstruasi sejak seminggu sebelumnya kaya sakit badan dan PD kencang. Kan jadi bingung... hamil atau telat mens karena kista ? hamil atau enggak ?

Saya gak mau lagi becandain suami soal hamil kaya sebelumnya.
Daripada tebak-tebakan, saya minta suami untuk belikan 3 testpack yang beda merk. Tapi cuma dapet 2 yasudah. Testpack tersebut baru saya pake pas siang-siang. Karena takut salah cara pakenya dan waktu pengujiannya kurang tepat, saya test lagi pas baru bangun tidur (walaupun sebenernya testpack itu bisa dipake kapan aja gak harus pagi hari).

Dan hasilnya 2 garis merah pada kedua testpack tersebut.
Alhamdulillah.



Gimana rasanya liat hasil tersebut ? 
Honestly, agak bingung, "ini beneran nih saya hamil ? Serius ?" sekaligus takut.
Saya gak mau overexcited dulu sebelum dikonfirmasi dokter kandungan. Takut kecewa.
Beberapa hari kemudian, saya ke dokter kandungan.

Dan... alhamdulillah, kehamilan saya terkonfirmasi oleh dokter lewat pemeriksaan USG. Waktu itu janinnya belum kelihatan karena yang baru kelihatan masih berupa kantong kehamilannya aja. Saya juga gak lupa untuk konsultasi soal kista. Takutnya kista ini bakal mengganggu kehamilan nantinya.

Saya beryukur banget nemu dokter yang gak bikin pasien khawatir. Katanya:

"Tenang aja Bu, kistanya gak apa-apa kok. Jangan terlalu khawatir. Obatnya kista tuh cuma 1: pisau bedah hahah".

How I feel ?

Physically

Awalnya saya masih ngerasa biasa aja. Terus kayaknya pas bulan kedua, saya mulai cari perhatian dengan agak susah makan. Saya tiap hari masak tapi gak mau makan masakan sendiri dan jadi anti untuk goreng ikan sendiri harus suami yang gorengin, terus saya maunya grepfud/gofud terus. Pengen makan makanan yang enak-enak dan nganggep masakan saya gak enak padahal kata suami enak-enak aja. Saya juga gampang banget kembung dan begah padahal makan dengan porsi biasa. Belum lagi mulut bisa mendadak berasa pahit jadi bikin gak mau makan padahal beberapa menit sebelumnya gak kenapa-kenapa. Jadi napsu makan saya naik turun gitu, doyan makan kalo beli makan diluar hahah

Mulai masuk awal bulan ketiga, saya udah bisa makan masakan sendiri lagi. Tapi untuk sarapan saya udah terbiasa gak makan nasi karena efek kembung dan begah di bulan kedua tadi. Biasanya saya sarapan bubur kacang/bubur ayam/granola/sereal jagung padahal sebelum hamil saya selalu sarapan nasi.

Pas masuk minggu ke-12, napsu makan saya mulai melonjak. Rasanya kaya gak ada kenyangnya. Biasanya 1 mangkok bubur kacang kuat nahan laper sampe makan siang, nah tapi saat itu cuma kuat nahan laper sampe jam 10 aja. Terus jam 12 udah harus makan siang eh jam 3 udah laper lagi...

Selain itu perubahan yang saya rasakan adalah jadi gampang capek, ngos-ngosan dan pusing. Pusingnya bener-bener sampe yang nyut-nyutan gitu, rasanya otak saya kaya lagi diplintir-plintir terus diremes-remes. Mirip kaya pusing pas abis sidang Skripsi dulu ahahha.
Tapi untungnya pusingnya gak tiap hari sih, mungkin seminggu 3-4 kali aja. 

Menjelang akhir trimester pertama, saya mulai sakit punggung dan nyeri ditulang ekor kalo kelamaan tidur di karpet huhu. Oh iya sampe lupa, saya selalu kegerahan juga. Biasanya kalo siang saya bisa beraktivitas dalam rumah tanpa didampingi kipas angin, sekarang mah beuh~ kipas angin muter terosss 24 jam sehari + AC dimalam hari. Sampe kipas angin saya yang belum ada 2 tahun akhirnya matot saking digas pol terus wkwkwk

Bagaimana kondisi wajah saya ?
Bruntusan merajalela di area dahi dan dagu :( tapi ini mungkin ada pengaruh dari perubahan skincare rutin saya yang sekarang cuma pake facial wash Clean n Clear doang. Soalnya saya pernah baca katanya skincare untuk jerawat (Salicylic acid, AHA dan BHA) harus dihindari ibu hamil huaaaaa... padahal saya baru banget mulai perawatan jerawat di ERHA. Yasyudah~ bye bye dulu deh sama muka mulus bebas jerawat.

Soal morning sickness ?
Alhamdulillah banget kehamilan pertama ini (so far) saya gak ngalamin muntah-muntah tapi kalo mual-mualnya sih sering. Penyebabnya gak jelas, tau-tau mual aja terus kembung dan gak tentu waktu. Bisa malem-malem, bisa siang-siang. Tapi jarang pagi-pagi.

Mentally 

This is the hardest part of pregnancy.
Tadinya... saya punya rencana untuk mebekali diri dulu sebelum mulai program hamil. Maksudnya saya harus belajar secara teori soal kehamilan. Lalu saya juga harus mempersiapkan tubuh saya dengan healthy lifestyle dan screening kesehatan saya dulu misalnya lewat MCU dan screening TORCH dsb.

Apa mau dikata, rencana tinggal rencana.
Makanya begitu tau saya positif hamil, perasaan yang saya alami pertama kali adalah bingung dan takut. Saya merasa clueless banget soal kehamilan terutama soal asupan makanan. Saya takut dzalim dengan kehamilan pertama ini karena saya masih aja egois selalu mikirin kepuasan pribadi.

Rasanya kaya dipersimpangan jalan. Disatu sisi saya ingin selalu makan makanan sehat yang lengkap gizinya. Tapi disisi lain saya masih pengen memanjakan lidah saya dengan junk food lokal macem sempol ayam, bakso, cilok dkk. Nah loh gimana tuh... 

Jadi agak beban. Mau makan ini takut, mau makan itu takut. Padahallll... kondisi hamil adalah kondisi yang normal untuk wanita, bukan kondisi sakit yang ada pantangan makan ini itu. Cuma ya memang... wanita hamil itu agak sedikit terbatas aja kan ya... maksudnya harus lebih tau batasan untuk konsumsi beberapa jenis makanan dan aktivitas tertentu.

Makanya karena saya yang masih agak bandel soal makanan, suami saya terus mendorong saya untuk rajin minum susu hamil yang mana kebanyakan rasanya coklat tapi disisi lain saya punya negative vibe sama susu coklat. Kenapaaaa... karena saya udah 'kenyang' minum susu coklat terus dari kecil sampe kelas 6 SD. Sehari bisa 4-6x minum susu coklat. Akhirnya pas gede jadi ogah minum susu rasa coklat kalo selain Milo (etapi Milo kan bukan susu ya sebenernya hahah, hanya minuman coklat mirip susu).

Tapi kan saya tetep harus berusaha berjuang demi janin di perut...
Ini lah yang sedang saya perjuangkan. Saya berusaha nge-set mental dan pikiran saya untuk rajin minum susu hamil, rajin makan sayur dan buah dan ngurangin makan makanan yang 'enak'.

Ada lagi.
Bener kata orang yang bilang katanya orang hamil itu sensitif banget perasaannya. Benuuullll. Benar dan Betul. Kalo pas lagi menstruasi saya sering tiba-tiba marah-marah ke suami karena hal sepele. Sementara pas hamil saya sering tiba-tiba nangis dan melow karena mendramatisir suasana.

Misalnya gini, pas sore itu saya udah mau masak untuk makan malam. Saya udah siapin bahan-bahannya tinggal dieksekusi aja menjelang jam makan malam. Tapi tiba-tiba saya lemes atau pusing. Akhirnya batal masak dan makan malam kami pun terselamatkan oleh abang ojol. Nah, saya bisa tiba-tiba nangis sesenggukan gara-gara hal tersebut. Terus suami kaget liat istrinya tiba-tiba nangis wkwkwk

"aku merasa gagal jadi Istri kamu hun. Aku cuma dirumah aja, gak kerja, kamu yang capek cari uang pas pulang kerumah malah gak ada makanan yang bisa dimakan. Masa makan aja harus beli terus, itu juga kamu yang order dan ambil pesenannya ke depan huhuh aku istri yang gak berguna huaaaaaa" (drama banget gak sih ini?πŸ˜…)

Hobi mendramatisir suasana juga terjadi dengan orang lain. Istilahnya saya jadi baperan banget wkwkwk. Saya biasanya lebih milih jadi tipe defender kalo terjadi konflik, artinya lebih suka cari aman aja lah... ngalah, minta maaf duluan. Ehhhh ntah ini bawaan hamil atau gimana ya, saya sekarang jadi lebih gampang ngegas dan berubah jadi attacker dalam sebuah konflik. Bahkan saya pernah ribut hebat sama kakak-kakak saya. Parah emang yaaaa... berasa jadi adik durhaka wkwkwk

Waaahhh gak kerasa udah panjang aja tulisan kali ini.
Intinya, pengalaman hamil setiap orang berbeda-beda, gak akan bisa disama-samain yaaaa.

Sekian dulu deh cerita saya soal pengalaman di trimester 1 kahamilan. See you dicerita pengalaman hamil trimester 2 yaaa...
Semoga menghibur~


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Tuesday, 12 November 2019

Perlu Gak sih Orang Tua Ngatur Pakaian Anak ?

November 12, 2019 26 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~




Haloo~ 
Kali ini saya mau julid (lagi). 
Mungkin akan terdengar sangat judgmental untuk sebagian orang, tapi saya jadinya resah kalo gak saya tumpahkan disini. Jadiii, mohon maap lahir dan batin dulu... we're agree to disagree OK ?

Ceritanya, a couple weeks ago (tapi tulisannya baru saya terbitkan beberapa bulan kemudian heheh) saya dan suami lagi jalan disalah satu mall yang lumayan gede dikota perantauan kami ini. Kebetulan di mall tersebut emang sering banyak event kalo weekend misalnya meet and greet promo film, pameran WO, pameran perumahan atau sekedar baazar biasa dll. Nah waktu itu, event yang sedang berlangsung adalah modern dance competition untuk anak-anak umuran TK-SMP.

BACA JUGA : Pregnancy Story: Prolog dan Cerita tentang Kista


Yaudah, saya dan suami iseng liat bentar gitu yaaaa... 
Everything was fine at the time until...

Satu grup peserta yang terdiri dari 3 orang anak-anak cewek seumuran SMP (mungkin baru kelas 7 SMP deh soalnya masih imut-imut tapi udah agak gede) lagi siap-siap disamping stage. Lalu ada hal yang lumayan nge-trigger saya jadi julidawati.

Kan mereka masih terhitung anak-anak ya, otomatis ada pendampingan dari orang tua (ibu) saat mau perform. Oh iya, sebelumnya saya mau bilang dulu bahwa saya gak ada niat memojokan siapapun dengan atribut apapun ya...

Oke lanjut.
Menariknya... Pakaian ibu-ibu pendamping grup tersebut lumayan tertutup: gamis longgar dan kerudung panjang. Tapi... anak-anaknya pake pakaian yang menurut saya (harusnya) bisa lebih tertutup lagi. Mereka pake rok rampel diatas lutut yang otomatis kalo lagi dance akan "terbang" kemana-mana dan yang paling mengganggu saya adalah baju atasan yang mereka pake: kaos lengan pendek yang terus digulung pada bagian perutnya (model crop tee) dan diikat disalah satu ujung sampe bagian perut dan udelnya keliatan. Literally kelihatan jelas.

Bajunya mirip kaya gini tapi lebih pendek lagi
Sumber: Amazon.com

Ironis...


Saya gak bisa menuntut supaya semua orang harus berpakaian tertutup. Enggak. Saya gak mempermasalahkan kalo ada mbak-mbak jalan di mall dengan baju yang provokatif kaya rok mini dan tank top... bodo amat itu urusan dia mau pake baju apaan.

Yaaa saya juga gak bisa bikin aturan bahwa kalo ibunya pake jilbab terus anaknya harus pake jilbab juga. Enggaaaa... toh waktu saya seumuran mereka juga saya belum pake jilbab kok walaupun ibu saya udah berjilbab.

-
BACA JUGA : Wanita dan Rokok?


Tapi dengan kondisi seperti cerita diatas kok kayaknya agak ironis ya buat saya heheh...
Maksudnya gini, biasanya kalo ibunya pake kerudung lebar anaknya pun bakal (diajarin) pake kerudung juga kalo di tempat umum... Ingat pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" ?
Tapi gak semua harus kaya gitu sih, biasanya.... kebanyakan orang... begitu.

Yaudah lah ya... lagian bukan itu yang jadi concern saya nulis disini.


Masalah UTAMAnya adalah kaos digulung yang sampe ngeliatin udel dan perutnya loh haduuh... Ditempat umum pula!

Ini anak-anak loh. Anak dibawah umur yang masih sangat perlu perlindungan orang tua dari gilanya zaman... dari mata jahat para predator anak-anak!

Terlepas dari gimana orang tuanya berpakaian... (Tapi (harusnya) sih orang tua itu jadi contoh buat anak-anaknya heheh) Jadi, menurut saya... Orang tua itu masih harus dan sangat perlu berperan dalam mengatur pakaian anak-anak dibawah umur. 

Kenapa ?


πŸ’¬Perut, udel, paha adalah beberapa contoh bagian tubuh yang sangat private yang harus ditutup dimuka publik. Kita gak pernah tau apa yang orang lain pikirkan kalo liat bagian-bagian tubuh tersebut terekspos nyata jelas didepan mata. Saya selalu berasumsi bahwa "semua orang itu punya sisi jahat masing-masing. Lebih baik mencegah dan selalu waspada"

Lagian, peserta lain ada kok yang bajunya lebih tertutup kaya pake kaos yang dimasukkan, terus pake jeans panjang and it's enough untuk outfit modern dance.

πŸ’¬Tugas orang tua adalah sebagai protector untuk anak. Anak-anak masih sangat polos masih belum tau kejamnya dunia. Banyak kasus-kasus pelecehan terhadap anak, makanya sebagai orang tua kita gak boleh lengah sedikitpun demi keselamatan anak.

Kalo mereka maksa pengen ikut lomba dance kaya gitu, kan bisa diarahkan untuk pake outfit yang lebih tertutup. Misal pakai kaos tambahan supaya udelnya gak keliatan dan pake legging jugaBukannya malah ikut bantuin gulung kaos mereka πŸ˜‘

πŸ’¬Selain itu, orang tua juga bertugas untuk mengarahkan ke arah yang baik. Salah satunya mengajarkan konsep "menutup aurat" (untuk muslim) sejak dini supaya ketika sudah mencapai usia dewasa, mereka akan sadar dengan sendirinya bahwa ada kewajiban sebagai muslimah untuk menutup aurat atau minimal paham bahwa ada bagian-bagian tubuh yang gak boleh diumbar seenaknya hanya demi pergaulan biar keliatan swag.

πŸ’¬Saya setuju bahwa pelecehan terjadi emang karena otak pelaku yang kurang 1 ons bukan semata-mata hanya karena pakaian minim korban. Saya aja pernah jadi korban catcalling padahal saya pake pakaian panjang yang longgar, kerudung lebar lengkap dengan masker wajah. Tapi sebagai orang yang protective, saya lebih suka konsep : Lebih baik mencegah dan tidak "mengundang" (eh tapi pake baju yang gak "mengundang" aja masih banyak cewek-cewek yang jadi korban pelecehan kan :( ini lah gilanya zaman sekarang).

Gak ada ruginya untuk lebih dulu menjaga bagian-bagain tubuh tetap tertutup agar (minimal) tidak jadi konsumsi mata jahat predator. Apalagi anak-anak.

πŸ’¬ Saya terbiasa dididik dalam keluarga yang konservatif. Artinya selama seorang anak masih dibawah umur, orang tua lah yang berwenang. Termasuk urusan pakaian. Karena saya pikir orang tua lebih berpengalaman urusan asam garam kehidupan. Apa yang orang tua berikan ke anaknya, pasti demi kebaikan anak juga.

*****

Saya sangat menyayangkan sikap ibu-ibu tersebut.
Iya sih bagus mendukung hobi dan pengembangan potensi anak. Tapi gak gitu caranya Bu...
Apa karena masih dianggap anak-anak jadi dibebaskan berpakaian kaya gitu depan umum ?
Jadi nunggu dewasa dulu untuk ngajarin kebaikan ke anak ???

Buk, lebih gampang ngajarin anak-anak saat mereka masih kecil loh.
Kalo udah gedean dikit misal pas SMA itu udah agak susah ngontrolnya~
Kalo gak bangun fondasinya dari kecil, mau kapan lagi ?

Ah sudahlah~
Saya hanya emak-emak kemaren sore heheh
Sekian dulu kejulidan saya hari ini.


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Wednesday, 16 October 2019

Pregnancy Story: Prolog dan Cerita tentang Kista

October 16, 2019 20 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~




Sejak awal menikah, saya dan suami sudah sepakat untuk menunda program kehamilan. Alasan utamanya adalah karena kami berdua merasa belum stabil secara mental dan finansial. Belum ada rumah dan tabungan baru terkuras untuk biaya penikahan walaupun sederhana tetep aja perlu modal kan... Belum lagi suami saya yang merupakan sandwich generation

"Anak kan ada rezekinya sendiri, ngapain khawatir, ngapain nunda hamil sih"

Bukannya meragukan rezeki dari Allah. Enggak sama sekali. 
Tapi kami berdua adalah tipe orang yang harus well prepared untuk segala hal karena kami kurang suka dengan yang namanya "kejutan" dan saya terbiasa dididik untuk berpikiran "Nanti gimana?" (prinsip ini membuat saya terbiasa untuk berjaga-jaga dan lebih waspada untuk setiap kemungkinan dimasa depan) bukannya "Gimana nanti..." (kata Bapak saya, prinsip ini bikin kita jadi males untuk berusaha dan cuma pasrah untuk masa depan tanpa ada usaha masa kini).

Saat itu kami berdua memang masih belum siap.
Kami gak mau buru-buru punya anak hanya karena 'tekanan lingkungan' kalo urusan internal berdua aja masih belum beres. Istilahnya nih... kami berdua masih belajar buat berdiri sendiri. Masih sering jatuh-jatuh berdua. Kalo saat tersebut udah ada anak, kami gak mau anak kami ikutan ngerasain jatuh-jatuh sama orang tuanya. Seenggaknya orang tuanya harus udah bisa berdiri yang kuat dulu sehingga harapannya kami bisa jadi garda terdepan buat anak.

Selain itu, ada juga alasan lainnya.
Saya pribadi masih belum berani menghadapi yang namanya hamil dan melahirkan. Rasanya masih ngeri aja kalo bayangin gimana proses persalinan... gimana cerita orang-orang soal kehororan ngurusin bayi mulai dari harus sering begadang, puting lecet belum lagi soal baby blues dan PPD.

Kalo suami saya, alasan lain kenapa dia mau nunda program hamil adalah karena takut nanti tersaingi sama anak. Takut dia jadi tersisihkan. Takut gak diurusin dan gak diperhatikan sama saya.  Aduhhhh rasanya ingin tertawaaaaa HAHAHAH bener ya, punya suami itu ibarat kaya punya bayi besar hahah.

Intinya, kami masih pengen berduaan dulu wkwkw


Kadang saya ngiri sama temen-temen yang baru nikah terus langsung hamil.
Lama-lama, dalam hati perih juga rasanya. Apalagi gak sedikit temen-temen saya rajin update di sosmed soal perkembangan kehamilan/anaknya... nambah tekanan tersendiri buat saya yang baperan ini. Betapa pengecutnya kami, terutama saya. Mereka aja berani dan mampu, kok saya enggak  ?

Sering kepikiran juga apakah saya ini kufur karena (oleh sebagian orang dianggap) menolak rezeki Allah dengan menunda kehamilan... saya juga selalu dibayang-bayangi ketakutan dari cerita orang bahwa kalo nunda kehamilan nanti malah susah hamil beneran. Belum beban mental omongan orang-orang yang selalu bandingin saya dengan kembaran saya yang nikah belakangan tapi langsung hamil.

Jadiii... kalo ada pasutri yang belum ada momongan, PLIS... PLISS... PLISSS..................
Gak usah ditanya kenapa belum hamil... kapan hamil... kapan ngasih adik buat anak pertama. 
Karena sesungguhnya jawabannya hanya Allah yang tau.
Satu pertanyaan singkat tersebut, bisa bikin beban pikiran buat orang lain. 

Melihat istrinya jadi resah dan galau dan murung, suami saya akhirnya turun tangan dengan bilang:

"Dek, punya anak itu juga kan salah satu rezeki dari Allah. Kita belum waktunya aja. Jangan terlalu dipikirin"

Dari situ saya sadar bahwa keberaninan dan dimampukan untuk hamil adalah karunia dari Allah. Semua udah ada bagiannya cuma beda waktu aja. Nyesss~ *nulis ini sambil berkaca-kaca*
Mungkin keberanian tersebut masih otw buat saya saat itu heheh

Setelah setahun lebih pernikahan, kami berdua sepakat untuk mulai program hamil. Program mandiri dulu heheh tanpa melibatkan dokter dan tanpa minum/makan suplemen tertentu (ini karena gak paham sih). Tapi rencana kami berdua agaknya harus tertunda dulu karena dari Januari-April kami berdua harus LDM karena saya harus mendampingi ibu saya pasca meninggalnya bapak. LDM nya masih lanjut karena bulan April saya juga harus nemenin ibu saya ibadah Umroh. Mei-Juni kepotong sama bulan Ramadhan dan saya masih harus LDM karena saya masih harus nemenin ibu jalan-jalan sama cucu-cucunya ke Semarang πŸ˜†

Jadi program hamil kami kayaknya baru serius dan intens sekitar bulan Juli tahun ini.

Tapi sebelumnya, ada hal yang sempet bikin saya drop soal program hamil kami.
Sebelumnya saya udah nyebutin bulan April itu saya Umroh sama ibu, nah karena tanggal keberangkatannya pas dengan tanggal menstruasi saya akhirnya sekitar akhir Maret saya konsultasi ke dokter kandungan untuk "reschedule" jadwal menstruasi lewat terapi hormonal supaya saya fokus ibadah Umroh dulu.

BACA JUGA : Umroh dan Obat Penunda Menstruasi


Dari pertemuan dengan Obgyn tersebut saya baru tau kalo saya ada kista coklat di indung telur kiri saya seukuran ± 4 cm. Pantesan beberapa bulan setelah menikah itu saya sering nyeri (H+2 setelah selesai menstruasi) seperti tertekan sesuatu pada bagian perut bawah kiri. Sakitnya hilang timbul gitu tapi masih bearable kok, gak sesakit kram pas menstruasi yang setiap 2 hari pertama siklus menstruasi itu saya pasti gak sanggup ngapa-ngapain karena: 

Perut bawah nyeri bukan main berasa kaya orang yang meres cucian baju yang sampe diplintir-plintir. Badan anget tapi selalu kegerahan. Pusing terus kaya mikirin utang negara yang ga ada abisnya. Mual kaya lagi kembuh sakit maag. Badan udah kaya abis digebukin gorila. Pinggang sama dengkul kaki berasa mau rontok. Maunya tiduran mulu. Bahkan saya kuat cuma makan sekali doang padahal biasanya saya telat makan bentar aja lambung saya udah perih.

Saya makin gak ngeh tadinya karena kirain nyeri dibagian perut bawah kiri itu akibat efek pasca menstruasi aja... ternyata, kista. Apalagi sejauh pengamatan saya, siklus menstruasi saya termasuk normal dan volume darah yang dikeluarkan juga normal.

Jadi buat para cewek-cewek, harus selalu aware sama siklus, jadwal dan apa aja yang dirasain dan terjadi selama menstruasi. Kalo perlu catat juga biar kalo ada something wrong cepet ketauannya. Oh iya! Jangan takut untuk cek ke dokter juga ya.




Moment pertemuan dengan Obgyn pertama tersebut cukup membekas untuk saya karena Ibu dokter ini ngomong sesuatu yang bikin saya down

"Kalo dengan kondisi seperti ini, Ibu bisa hamil ya... berarti alhamdulillah"


Sebenernya biasa aja sih kalimatnya yaaa... tapi justru saya nangkep kalimatnya jadi gini: "Ibu akan susah hamil karena ada kista" (mungkin saya udah takut duluan kali yaa jadi udah negative thinking duluan)

Awalnya saya gak mau cerita ke siapa-siapa soal kista saya selain suami.
Lama-lama saya gak kuat nahan bebannya apalagi LDM sama suami, yaudah deh akhirnya cerita ke ibu saya. Ibu saya tau kalo saya ketakutan. Ibu saya dengan tenangnya bilang gini:

"Gak usah khawatir. Kista itu biasa dikalangan perempuan. Bukan hal yang aneh lagiii... Itu kakakmu juga dulu ada kista malah langsung divonis dokter bakal susah punya anak... nyatanya sekarang udah 2 buntutnya... yang penting yakin dan banyak berdoa sama Allah. Dokter cuma manusia biasa kan semua Allah yang nentuin"

Ku terharu dengernya. 

Sejak saat itu juga, prioritas kami sedikit bergeser.
Kami berdua jadi lebih santai gak telalu ngoyo dan menggebu-gebu soal anak. Kami belajar untuk ikhlas dan pasarah sama rencana Allah apalagi saat itu saya baru ketauan ada kista. Saya jadi makin aware sama siklus menstruasi, takutnya kista tersebut makin besar.

Ohiya, mau cerita sedikit pengalaman Umroh kemaren.
Saat thawaf, saya salalu gandengan erat sama ibu. Ibu saya lalu bisikin sesuatu dengan nada yang penuh keyakinan tapi agak maksa dan sambil ngeremes lengan saya heheh. Katanya "Minta ke Allah untuk segera dikasih (anak). Bilang ke Allah minta secepatnya jangan di-ntar-ntar". Saya dengernya agak nyesss gimana gitu... diem-diem ibu saya menaruh harapan ke saya. Diem-diem ibu saya pasti kepikiran sama saya yang belum juga dikasih sama Allah. Ibu saya tau diem-diem saya kepikiran soal hal ini... walaupun gak pernah saya curhat-curhatan sama ibu saya.

Waduuwww...
Baru prolog aja ceritanya udah panjang lebar begini yak.
Yasudah lah, cerita lanjutannya saya tulis di tulisan selanjutnya ya heheh

Sekian dulu tulisan saya kali ini.
Semoga bermanfaat



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—