Follow Us @soratemplates

Monday, 23 September 2019

Wanita dan Rokok?

September 23, 2019 26 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~


-

"Rokok Membunuhmu"

Sebuah peringatan yang ringkas, padat, jelas gak pake ba bi bu tertulis disetiap bungkus dan iklan rokok.
Tapiii... tapi.... kok masih banyak aja ya yang merokok ?
Heran gak ? Saya sih herman eh heran heheh.

🌻🌻🌻🌻

Rokok saat ini udah gak lagi jadi simbol ke-maco-an cowok tapi kayaknya udah jadi gaya hidup untuk sebagian orang.
Orang yang mana nih yang saya maksud?
Hmmm... mungkin orang yang lagi penat, yang lagi suntuk, yang lagi mencari pengakuan "gw merokok dan gw keren" atau yang menuntut kesetaraan karena merasa dengan rokok mereka bisa mendobrak stigma masyarakat:

"Rokok cuma buat cowok aja cewek gak pantes merokok"

Heeemmmm... padahal banyak bahaya kesehatan yang mengintai mereka dan orang-orang disekitarnya yang (terpaksa) menjadi perokok pasif. Contohnya meningkatkan resiko penyakit jantung koroner dan kanker karena paparan asap rokok yang mengandung berkali-kali lipat zat beracun dibandingkan rokok itu sendiri. Gak usah disebutin lah ya berapa banyak jumlah korban baik perokok pasif dan aktif sebagai akibat dari rokok.

"Mau ngerokok mau enggak, toh nanti juga sama-sama meninggal juga"

Loh iya emang bener. Urusan umur kan rahasia Allah.
Tapi plis atuh laaah~ :") Ibaratnya udah dikasih tau nih didepan ada lubang, masa iya kita tetep aja jalan menuju lubang itu terus jatoh ? Kan bisa kita cari jalan lain biar gak kejeblos... Itu lah mengapa manusia dikasih akal pikiran sama Allah :")

Kalo udah dikasih tau tapi ngeyel, itu namanya apa ?
E.G.O.I.S. dan D.Z.A.L.I.M terhadap diri sendiri dan orang lain.

🌻🌻🌻🌻

Suami dan keluarga saya gak ada yang ngerokok. Teman-teman dekat saya juga bukan perokok. Saya juga jarang sekali hang out ke tempat yang banyak perokok macem cafe-cafe outdoor gitu. Jadi, saya dan inner circle saya adalah golongan orang yang sensitif dengan adanya asap rokok kalo lagi ditempat umum dan berusaha menghindarinya.

Menyesal dengan sempitnya lingkup pergaulan saya ? Enggak. Bahkan saya bersyukur karena didekatkan dengan teman-teman yang sama "lempeng"nya dengan saya hahah

Cerita sedikit, ayah mertua saya dulu adalah perokok berat berdasarkan cerita suami. Tapi beliau udah berhenti merokok bertahun-tahun lalu karena kemalingan motor! πŸ˜‚πŸ˜… Entah apa korelasinya antara berhenti merokok dan kemalingan motor tapi syukur lah karena kejadian tersebut ayah mertua saya stop merokok sampe sekarang heheh...

🌻🌻🌻🌻

Kembali pada judul tulisan.
Karena cupunya, saya dulu agak kaget saat melihat seorang teman cewek saya semasa KKN (bukan KKN di desa Penari loh ya) merokok di rumah pondokan kami saat lagi bosan dan gak ada kerjaan. Kagetnya bukan yang gimana-gimana sih... cuma saya jadi sadar bahwa saya ini naif sekali. Naif karena dulu menganggap rokok cuma buat cowok aja. Ternyata enggak tuh hahah... Cewek juga ada yang ngerokok.

Gak berhenti disitu. Saya makin menyadari kenaifan saya saat pertama kali merantau buat kerja di Jakarta di area perkantoran yang didominasi milenials. Bukanlah hal yang aneh dengan pemandangan cewek berjilbab dan merokok. Tapi pemandangan tersebut cukup bikin saya berkata "wow" dalam hati.

"WOW... this is to the real world"

Masih ada lagi. Kali ini saya udah gak kaget tapi ditahap miris.

Waktu saya dan keluarga liburan ke Jogja bersama anak-anak, terus kami lagi nunggu pesenan makan siang di salah satu restoran berkonsep outdoor-tradisional di area Kaliurang, datanglah segerombol ibu-ibu paruh baya dan anak-anaknya duduk disebelah meja kami. Kayaknya mau reuni apa arisan.

Apa yang bikin saya gemezzz ? Dua orang ibu-ibu (satu berkerudung dan satunya enggak) merokok dengan santainya. 

Saya gak pernah mempermasalahkan soal wanita-berjilbab-merokok.
Saya paham bahwa gak ada korelasi antara rokok, moralitas seseorang dan kerudung apalagi menyangkut tingkat keimanan. Kerudung adalah urusan ibadah manusia dengan Allah dan kita gak ada hak samasekali untuk menghakimi urusan ibadah orang lain. Sementara rokok adalah urusan gaya hidup masing-masing dan moral seseorang tentu saja gak dibentuk oleh sebungkus rokok tapi lebih ke didikan keluarga.

Pas KKN dan kerja di Jakarta, saya juga gak pernah bermasalah dengan cewek-cewek yang merokok karena mereka kalo merokok juga jauh-jauh dan di area khusus ngerokok juga. Itu hak mereka kokSaling jaga privasi aja intinya. Kecuali saya yang nyari "penyakit" dengan sengaja duduk-duduk di area merokok tersebut. Itu sih sama aja saya secara sukarela masuk ke kandang singa wkwkw.

🌻🌻🌻🌻

Apa yang bikin saya gusar soal "wanita dan rokok" dan bikin saya pengen nulis disini? 
Yaitu... soal ibu-ibu di restoran yang ngerokok dekat anak-anak. Anak-anaknya sendiri dan anak-anak orang lain.

Boleh kalo mau merokok ditempat umum asal telan asapnya. Bisa gak ? Enggak kan ?
Nah makanya, jadilah perokok budiman kalo kata temen saya 😁 eh tapi lebih baik gak ngerokok ya!

Whatever lah ya soal kesehatan dia kan udah dikasih peringatan kalo "Rokok Membunuhmu".
Tapi...
Apakah mereka gak memikirkan dampak buruk perokok pasif? 
Apakah mereka gak mikirin kesehatan anak-anaknya yang (pasti) banyak terpapar asap rokok dari ibunya? 
Emang gak bisa ya untuk gak ngerokok deket anak-anak?

Mereka ini egois.
Ingin kesenangannya terpenuhi tapi merenggut hak orang lain untuk menghirup udara bersih.

Sebagai orang yang sering dikelilingi anak-anak kecil, deep down saya sedih ngeliat hal tersebut. Gregeeettttan tau liatnya...

Apakah saya menganggap perokok cewek = cewek nakal? 


Kita gak bisa ngecap seseorang baik/buruk hanya lewat kebiasaan merokok aja. Mungkin orang-orang dari generasi bapak ibu kita masih banyak yang berpikiran kolot bahwa:

"yang ngerokok pasti nakal... Suka ini... Suka itu... Jangan berteman sama dia karena dia ngerokok nanti ketularan ngerokok nanti kebawa-bawa jadi nakal"

Itu sih urusan prinsip aja wkwkw 
Kalo orangnya penasaran mah gak ditawarin juga pasti nyobain sendiri. They will find the way hahah
Untuk generasi "now" yang relatif lebih terbuka, pikiran kolot tersebut udah gak relevan deh...  dan saya  juga setuju bahwa rokok bukan cerminan mutlak sifat seseorang. Masih banyak faktor lain yang membetuk sifat seseorang.

Tapi yang jelas rokok itu gak baik buat kesehatan. Mau cewek mau cowok ya sama aja.

Bukan kah seorang ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya? 


Kalo mau anak-anak kita "baik" maka kita juga harus "baik". Yaaa... Seenggaknya baik didepan mereka deh karena anak-anak adalah peniru ulung. 

Gimana mau mengkampanyekan pedidikan soal bahaya rokok kalo dari kecil aja anak-anak ini udah terbiasa dan termaklumi dengan pemandangan orang tuanya lagi ngerokok ?
I mean, pendidikan terbaik dan paling basic dan paling gampang diterima anak-anak bukan dari sekolah formal loh. Justru dari keluarga inti.

Sebagai orang tua, sepatutnya kita (berusaha) mengajarkan kebaikan kepada anak-anak. Berusaha menjadi role model yang baik. Kita kasih asupan yang bergizi untuk menjaga kesehatannya. Kita sekolahkan untuk menambah pengetahuannya. Kita ajarkan bersedekah untuk belajar konsep berbagi dengan sesama dsb. Tujuannya apa ? Biar anak-anak jadi lebih baik dari orang tuanya kan?

Memang... rokok bukan ukuran sifat dan moral seseorang Tapi, dimata saya, seorang perokok (apalagi wanita... apalagi seorang ibu) adalah orang yang tidak bisa menjaga amanah dari Allah.

Dikasih tubuh sehat kok malah sengaja dimasukin "racun" sih?

Terlebih lagi, seorang anak adalah amanah dari Allah bagi orang tua.

Dititipin amanah kok malah gak dijagain sih?

Bukan kah hal tersebut adalah contoh yang buruk yang rasanya kurang pantas diperlihatkan depan anak-anak ? Pengen anaknya jadi lebih baik, tapi orang tuanya aja malah ngasih contoh yang kurang baik... gimana ceritanya coba ? Sering kali orang tua nuntut anaknya jadi lebih baik dari segala aspek tapi lupa bahwa orang tua juga harus terus belajar jadi baik.
Kita sebagai orang tua harus banyak (dan sering) bercermin

Punya anak itu emang susah. Terutama pada bagian "membesarkan dan mendidik" karena sama seperti pernikahan, raising kids is a never ending ibadah :')

Jadiiii... teruntuk para orang tua (terutama ibu-ibu) yang merokok, please... seenggaknya jangan merokok deket anak-anak. Kasihan kan, anak-anak itu berhak atas udara bersih loh~ 

Ehhh gak cuma buat orang tua yang merokok ding... BUAT SEMUA PEROKOK, TOLONG LIAT SIKON kalo mau merokok ya. Bukan cuma kalian aja yang ingin dihargai haknya, kami juga!


Sekian dulu tulisan julid saya kali ini. 
Semoga bermanfaat.



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—

Friday, 13 September 2019

Bubur Sura, Nasi Bogana dan Longsong: 3 Hidangan Penuh Makna

September 13, 2019 14 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

-


Budaya irim-irim (dari kara "kirim") mungkin terdengar asing untuk masyarakat yang tinggal di area perkotaan. Tapi, untuk masyarakat di desa saya... irim-irim adalah sebuah rutinitas yang sudah turun temurun dilakukan. Irim-irim ini adalah sebuah kegiatan berbagi makanan ke tetangga dan sanak saudara sekitar dalam rangka tertentu

Sebetulnya, irim-irim bisa kapan aja dan makanan yang dikirim juga bisa apa aja sih. Tapi seringnya irim-irim ini dilakukan pas ada acara syukuran/selamatan dan pada hari-hari tertentu dengan menu makanan tertentu pula. Beberapa menu khusus tersebut adalah bubur sura, nasi bogana dan longsong.

πŸ“œBubur Sura/Suro


Pada sistem penanggalan jawa... ada bulan yang namanya bulan Suro/Sura kan ? Nah, pada bulan ini orang-orang (yang mampu dan mau*) di desa saya biasanya pada irim-irim bubur Sura yang ternyata (setelah saya googling) bertepatan dengan bulan Muharram dalam sistem penanggalan Islam, sehingga saya berasumsi irim-irim bubur sura adalah kebiasaan di desa saya untuk menyambut tahun baru Islam. Saya pernah denger juga ada filosofi lain dari bubur sura yaitu untuk tolak bala (penangkal hal-hal buruk).

BACA JUGA : Cuma di Kampung : Rame-rame Dimanapun Kemanapun


Bubur sura ini warnanya kuning dengan campuran bulir jeruk Bali dan diberi toping berupa irisan telur dadar, kacang kedelai goreng, kelapa parut yang disangrai dll. Rasanya agak aneh menurut saya hahah soalnya buburnya sendiri udah "kaya rasa" banget.

*Gak semua orang yang mampu mau untuk irim-irim dan gak semua orang yang mau irim-irim mampu
-
Bubur Suro
Sumber: brilio.net

πŸ“œNasi Bogana


Pernah dengar makanan yang namanya nasi bogana gak ?
Enggak ya kayaknya ?
Kalo saya ketik "nasi bogana" di Google maka yang muncul adalah : Nasi Bogana khas Tegal.

Nasi Bogana yang merupakan makanan khas Tegal Jawa Tengah

Bukan, bukan nasi bogana yang ini yang saya maksud. Kalo nasi bogana khas Tegal ini lebih mirip nasi rames. 

Nasi bogana yang saya maksud adalah nasi yang berwarna kuning (tapi bukan nasi kuning) yang rasanya kaya akan rempah-rempah khas Indonesia dan ada daging didalamnya. Mirip dengan nasi kebuli khas timur tengah. Bedanya sudah pasti pada rempah yang digunakan, tanpa kismis dan pake daging daging ayam bukan daging sapi/kambing


Nasi kebuli
Sumber : blog.tempo.co

Rupanya di desa saya, nasi bogana ini biasanya dibuat khusus untuk acara tertentu aja. Misalnya pada saat baru pindah rumah karena kata "Bogana" berasal dari kata "Boga" yang artinya "Punya" dengan harapan rumah tersebut nanti akan "Kaboga" yang artinya "Dipunyai". Kalo saya gak salah tangkap, dari penjelasan tersebut tujuan irim-irim/bikin nasi bogana saat baru pindah rumah adalah supaya rumah tersebut langgeng dimiliki si tuan rumah dan membawa berkah.

BACA JUGA : Cuma Di Kampung: Majengan, Sebuah Tradisi Dalam Bertetangga

πŸ“œLongsong


Bagaimana dengan longsong ?
Setelah saya Googling dengan kata kunci Longsong, hasil yang muncul malah nama tempat di Melbourne Australia! Jauh bangetttt HAHAH....

Kalo di desa saya, longsong adalah nama makanan. Terdiri dari 2 komponen:

🌻Komponen pertama adalah sayur yang mirip dengan opor ayam yang banyak dihidangkan saat Lebaran. Bedanya kalo opor kan isinya ayam semua ya... nah kalo sayur di longsong itu isinya lebih minimalis, cuma potongan kentang, potongan wortel dan udang kecil. Tapi rasanya mirip opor. Agak pedas dan bersantan.

🌻Komponen kedua adalah karbohidrat dalam bentuk nasi/bubur tim yang dibungkus dengan daun pisang yang dikukus. Mirip seperti lontong/ketupat tapi lebih lembut dan lembek. 

Kedua komponen tersebut harus disajikan bersamaan (maapkeun gak ada gambarnya karena susah dicari dan saya gak ada dokumentasi pribadi)

Sama seperti nasi bogana, longsong ini dibuat untuk irim-irim/sajian khusus untuk acara-cara yang ada hubungannya dengan traveling atau safar dalam kebiasaan umat muslim. Contohnya, acara syukuran sebelum berangkat ibadah haji/umroh. 

Karena menurut penuturan ibu saya, longsong itu asalnya dari kata "los" dalam bahasa lokal di desa saya yang artinya "melepaskan/mengikhlaskan". Maksudnya dengan membuat longsong artinya tuan rumah sudah ikhlas untuk melepas keluarga yang akan melakukan perjalanan tersebut dan sekaligus doa agar perjalanannya lancar.

Kalo di tempat temen-temen ada gak makanan yang punya makna khusus seperti di desa saya ini ?
Yuk kita berbagi informasi lewat kolom komentar di bawah 😁

Sekian dulu tulisan saya kali ini, semoga gak bingung ya heheh



"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Wassalamu'alaikum and see ya~
πŸ’—Salam hangat dan have a good dayπŸ’—