Follow Us @soratemplates

Sunday, 18 April 2021

Alergi Karena Pandemi

April 18, 2021 0 Comments
Assalamualaikum, annyeong! 

Dua hal yang bikin saya sebal karena pandemi saat ini : (1) Bikin ribet kalo mau pulang kampung karena aturan kantor suami yang kudu wajib selalu presensi walaupun sedang libur agar supaya perusahaan tau lokasi karyawan biar tidak pulang kantor zzzz dan (2) Bikin saya punya alergi. 

Template by Canva
Edited and photo by Niklosebelas

Namanya Dishidrosis dermatitis atau dermatitis kontak iritan. Begitu diagnosa yang diberikan dokter spesialis kulit yang saya hubungi secara daring lewat aplikasi.


Asal Mula

Semua ini bermula saat pandemi merebak dan bertepatan dengan saya yang baru melahirkan, akhirnya tugas belanja mingguan diambil alih suami selama beberapa bulan. Tapi kok lama-lama gatel ya pengen belanja sendiri gitu... Biar bisa berimprovisasi saat liat bahan masakan tertentu di pasar.

Tapiii...

Karena diliputi ketakutan dan kewaspadaan, setiap weekly shopping itu saya bawa hand sanitizer (HS) sendiri. Jadi tiap abis mampir ke satu kios, saya akan pake HS. Nah sekali belanja, saya bisa minimal mampir ke 4-5 kios. Belum lagi kalo misal dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mampir ke minimarket atau beli sesuatu. Jadi in total, sekali keluar rumah saya bisa pake 7-8x HS dalam kurun waktu kurang dari 3 jam. Ditambah, saya ada anak bayi yang sedang MPASI. Makin sering lah cuci tangan. Oh iya kerjaan domestik cuci piring dan cuci baju juga belum dihitung. Udah berapa banyak kontak dengan bahan iritan (sabun, detergent, alkohol dll) dalam sehari?

Banyak. 

Gejala

Sekitar akhir tahun lalu, tangan saya mulai protes karena keseringan kontak sama bahan iritan. Punggung dan telapak tangan saya jadi mengkilat glowing shinning shimmering splendid. Sampe rasanya kaya gak punya sidik jari. Ternyata ini adalah tanda awal tangan saya kering kerontang. 

Lama-lama muncul "bruntusan" kasar di kelingking yang pasti muncul hanya tiap weekend setelah grocery shopping tadi dan akan hilang beberapa hari kemudian. Kemudian, bruntusan ini mulai menyebar ke jari lain seiring berjalannya waktu dan waktu munculnya udah bukan hitungan hari lagi tapi jadi mingguan. 

Makin lama gejala alerginya makin bertambah. Dari yang cuma kulit mengkilat aja, lalu nambah ada bruntusan. Lalu tambah lagi keluhannya : perih, kemerahan dan panas. Sensasinya kaya tangan yang diolesin cabe rawittttt. MONANGEZZZZ

Buat IRT yang aktif di dapur seperti saya, keluhan perih panas ini sungguh merepotkan. Apalagi kalo kena bumbu-bumbu dapur. Terutama cabe. Makanya saya kalo makan pakai sambel harus pake sendok atau sarung tangan plastik. Ribet! 

Keluhan gak berhenti disitu. Tiga bulan belakangan, kalo lagi kambuh... Jari yang bruntusan ini jadi super gatal. Gatal sekali sampe rasanya ingin menangis menahan gatalnya. Ingin digaruk tapi saya tau, kalo digaruk bikin lecet dan akan muncul masalah baru : rawan infeksi. 

Setelah saya amati, sensasi gatal yang luar biasa ini muncul bersamaan dengan adanya "gelembung air" dibawah kulit yang tidak teraba tapi keliatan garis batasnya. Saat alerginya lagi calm down, gelembung air tersebut akan mengering dan jadi bruntusan kasar.

Lihat jari kelingking. Kalo di foto emang keliatan gak kenapa-kenapa tapi kalo dipegang ini berasa banget kering ya dan kalo dilihat langsung ini aslinya kemerahan dan banyak gelembung-gelembungnya

Pengobatan

Karena merasa ada yang salah, saya lalu berkonsultasi dengan dokter kulit lewat aplikasi. Dokter yang pertama meresepkan obat Cerini (minum), salep Decubal (oles) dan salep Lotasbat (oles). Tapi karena saya gak disiplin, akhirnya gak ngefek.

Lalu saya konsultasi lagi ke dokter kulit lain dan lagiii... Diberi obat Cetirizine (minum), salep Esperson (oles) dan salep Carmed (oles). Kali ini saya coba untuk disiplin. Obatnya berhasil... Tapi... Bikin kulit kering sekali sampe mengelupas dan pecah-pecah. Ditambah salep-salep ini lumayan merepotkan karena lama menyerap ke kulit mengingat saya ada anak bayi yang mengharuskan saya sering cuci tangan. 

Sudah sampai dititik gak tahan dengan alergi ini, saya akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke RS untuk berobat ke dokter kulit. 

Oleh dokter kulit tersebut, saya diberi cetirizine (minum), salep racikan, sabun cuci tangan khusus (merk Topicare) dan pelembab khusus (merk Topicare+)

Waaaaa... Ini waktu pake sabun cuci tangan dan pelembab tangan tadi rasanya kaya dapet pencerahan huhu sampe terharu. Alergi saya akhirnya bisa dikontrol dalam beberapa hari aja. 

Sabunnya gak bikin kering sama sekali walaupun sering cuci tangan. Pelembabnya juga cepet nyerep ke kulit, jadi gak khawatir saat pegang anak. Gimana gak terharu cobaaaa... Inilah yang aku butuhkan selama ini. 

Pengendalian

Saya tahu betul bahwa yang namanya alergi agak susah untuk sembuh (mungkin bisa tapi butuh waktu lama). Jadi yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengendalikan alerginya. Yaitu dengan: 

1. Sadari dan menerima bahwa sekarang tangan saya high maintenance (kalo inget harga sabun cuci tangan dan Pelembab tadi bikin dompet nangis) padahal sekarang skin care Saya super minimal cuma pake facial wash tok!

2. Meminimalisir kontak dengan bahan iritan, caranya:

A. Pakai sarung tangan silicon saat mencuci piring dan baju. Jujur, ini merepotkan apalagi kalo pas lagi nyuci tau-tau anak nangis. 
B. Cuci tangan dengan sabun khusus. Sebenarnya untuk mandi juga harusnya saya pakai sabun khusus tadi tapi ntar dulu deh... Mandi kan cuma 2x sementara cuci tangan bisa berkali-kali. 
C. Setelah cuci tangan, pakai pelembab. Wajib. Banget. Karena kalo tangan saya kelamaan kering kerontang bakal lebih rentan iritasi. Apalagi saat alergi sedang kambuh dan saya sedang pakai obat salepnya ini kulit telapak tangan saya udah macem ular yang lagi ganti kulit. Super kering sampe mengelupas.
3. Kalo udah kambuh, yaudah banyakin sabar aja nahan diri biar gak garuk-garuk walaupun rasanya pengen bangettttt digaruk sampe puasssss

Total Damage

Total damage yang harus saya keluarkan untuk ke dokter mungkin sekitar 1,5jt huhu belum sabun dan pelembab yang harus rutin saya beli tiap bulan sekitar 250rb. Abis mau gimana lagi, kalo dibiarin aja wadduhhh... Mana tahan :(

Dari alergi ini saya belajar bahwa:
Sesuatu yang berlebihan itu gak baik. 

Sekian dulu tulisan saya kali ini
 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~

💗Salam hangat dan have a good day💗

Wednesday, 3 March 2021

Kunyit, si Komoditas Lokal dengan Beragam Khasiat

March 03, 2021 0 Comments

Template and photo by Canva, edited by Niklosebelas

Assalamualaikum! Annyeong~

Sebagai seorang anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan yang tak jarang banyak keterbatasan fasilitas kesehatan yang memadai, saya sudah familiar dengan pemanfaatan komoditas lokal untuk obat-obatan rumahan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. 

Pasalnya, komoditas lokal seperti kunyit, jahe dan kencur sangatlah murah, mudah diperoleh dan tentu saja gampang untuk digunakan sebagai obat darurat. Selain itu, penggunaan komoditas lokal juga dapat meminimalisir produksi sampah sehingga lingkungan terjaga tetap bersih dan cantik

Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini, komoditas lokal semakin booming karena manfaatnya yang tak hanya sebagai obat saat sakit tapi juga dapat digunakan untuk bahan baku jamu yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Sebuah dampak positif dari pandemi, Semakin banyak orang yang Memberdayakan komoditas lokal untuk sektor kesehatan. Tak cuma masyarakat rural tapi kini sudah merambah ke masyarakat urban. 

Dari sekian banyak komoditas lokal yang dimanfaatkan untuk sektor kesehatan, saya sangat tertarik dengan kunyit! 

Kandungan Kunyit

Tanaman dengan nama ilmiah Curcuma domestica atau juga dikenal sebagai turmeric merupakan tanaman yang banyak dijumpai diwilayah Asia Tenggara. Mengutip dari website Cancer Chemoprevention Research Center Universitas Gadjah Mada kandungan zat-zat kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah sebagai berikut :

a. zat warna kurkuminoid yang merupakan suatu senyawa diarilheptanoid 3-4% yang terdiri dari Curcumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin.
b. Minyak atsiri 2-5% yang terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana turmeron
c. Arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin dan dammar
d. Mineral yaitu magnesium besi, mangan, kalsium, natrium, kalium, timbal, seng, kobalt, aluminium dan bismuth

Beberapa manfaat kunyit untuk kesehatan:

Sebagai Anti Inflamasi

Zat aktif yang dimiliki kunyit disebut dengan kurkuminoid. Kurkumin adalah zat bioaktif yang penting yang banyak digunakan dalam bidang  kesehatan salah satunya sebagau agen anti inflamasi karena kurkumin terbukti dapat menekan kerja molekul yang menyebabkan inflamasi dalam tubuh pada level molekular. 

Meningkatkan kapasitas antioksidan tubuh

Radikal bebas dipercaya merupakan penyebab terjadinya penuaan. Radikal bebas ini juga sangat berbahaya karena langsung menyerang materi genetik tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan zat antioksidan untuk menangkalnya. Salah satu antioksidan yang potent adalah kurkumin yang banyak dijumpai pada kunyit. Tak hanya menyangkal radikal bebas secara langsung, kurkumin juga membantu stimulasi enzim antioksidan tubub. 

Meningkatkan fungsi otak dan menurunkan resiko penyakit otak


Dalam menjalankan fungsinya, otak memerlukan salah satu jenis hormon pertumbuhan yang dikenal dengan brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Pada beberapa penyakit otak seperti Alzheimer's ditemukan adanya penurunan level BDNF. Setelah dilakukan penelitian, ditemukan bahwa kurkumin mampu meningkatkan hormon BDNF, sehingga kurkumin diyakini mampu meningkatkan fungsi otak dan melawan penyakit degenerative pada otak. 


Menurunkan resiko penyakit jantung


Adanya efek antioksidan dan anti inflamasi yang dimilikinya, kurkumin juga ternyata bermanfaat untuk menurunkan resiko penyakit jantung karena mampu meningkatkan kerja endothelium pada sistem sirkulasi darah. Sebagaimana yang kita ketahui, disfungsi endothelium adalah penyebab utama dari penyakit jantung. 


Begitu banyak manfaat yang dimiliki kunyit. Sudah gampang diperoleh, murah, mudah dan berkhasiat pula. 
 

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~

💗Salam hangat dan have a good day💗

Monday, 25 January 2021

Tuan Gan.Gan Masuk RS karena Cicak?!

January 25, 2021 0 Comments

Assalamualaikum! Annyeong~

Template by Canva, photo by Niklosebelas

Hi welcome back again! 
Setelah sekian lamaaaa hiatus nulis blog (lebih dari 2 bulan kayaknya heheh), akhirnya kini saya memaksakan diri menulis sesuatu lagi disini. 

Sebelumnya, saya mau cerita dikit alasan vakum lama adalah karena saat itu saya lagi stress dengan fase GTM (Gerakan Tutup Mulut) anak saya. Rasanya dari 24 jam waktu yang saya punya dalam 1 hari 30 jam (lebay sih ini wkwkw) saya pake untuk berpikir keras gimana caranya supaya anak mau makan... Menu apa yang harus saya buat supaya anak mau buka mulut... Tapi at the end, nothing works :( sedih, capek, kecewa, pusing. Sampe BB anak saya mulai seret, gak naik dan bahkan turun dalam 2 bulan. Tapi kisah per-GTM-an ini saya tulis lebih rinci di tulisan lain aja karena drama GTM masih on going wkwkw

OK, kali ini saya mau nulis pengalaman ngurus anak yang sedang rawat inap di RS. Pengalaman yang bikin hati potek huhu. 

Suatu sore di awal tahun 2021, badan tuan Gan.gan (nama panggilan anak saya hihi) agak anget. Saya pikir ah ini sih paling karena dia kurang minum soalnya emang lagi GTM juga. Menjelang malam hari kok makin panas ya badannya, saya cek suhu masih 37°C. Masih tenang. Lalu jam 10 malam makin panas badannya, gelisah dan ada mencret (berlendir cair). Mulai panik. Saya kasih obat penurunan panas. Turun deh tuh demamnya terus bisa tidur.... 

Satu jam kemudian dia terbangun lalu nangis kaya yang pengen tidur tapi gak bisa tidur karena ada yang bikin gak nyaman. Saya kasih ASI terus, bisa tidur bentar eh terus nangis lagi karena mencret dan demam lagi. Panik... Panikkk.... Jam 4 pagi kaya gitu lagi. Rewel, gak bisa tidur, panas tinggi dan mencret. Saya udah g bisa tidur tuh... Udah kepikiran mau ke UGD tapi pas Jam 6 pagi udah mulai turun panasnya, dia juga gak rewel tapi keliatan lemes banget dan masih mencret lagi. Total udah 4x mencret dari tengah malem ke pagi. Akhirnya memutuskan ke dokter di Poli RS aja nanti jam 8 karena tuan Gan.gan udah keliatan baikan.

Bagian menyedihkan dan menyayat hati dimulai dari sini. 


Saya nekat ke RS sendirian bawa tuan Gan.gan karena suami gak bisa izin dari kantor. Waduuuhhh... Gak nyangka dan belum pernah terjadi sebelumnya, anak saya nangis histeris mulai dari meja pendaftaran, cek BB TB sampe ketemu dokter. Nangis sejadi-jadinya, sampe keluar urat. Dikasih ASI abis itu nangis lagi. Kasih cemilan gak mempan. Kasih YouTube cuma mempan sebentar. Pas ketemu dokter, katanya anak saya sudah dehidrasi karena nangis terus dan matanya cekung jadi harus segera rehidrasi (infus) dan opname. 

Yampun waktu itu saya udah pengen nangis aja rasanya (dan beneran nangis dong, udah bodo amat diliatin orang-orang juga) Kasian liat anak kesakitan, gak nyaman, ketakutan, ditambah sy harus urus administrasi opname sendiri sampe tuan Gan.gan sy titipin suster dulu saking bingung ya huhu tapi yang paling nguras emosi saya adalah pas PASANG INFUS!!!! 

Kaki... Tangan... Kanan... Kiri... Dipencet-pencet, diusap-usap, ditusuk jarum berkali-kali buat nyari urat untuk pasang infus tapi gagal terus. Dua dokter UGD, 1 perawat UGD g ada yang bisa. Mana mereka jutek ke anak saya, g ada tuh ajak ngobrol kek apa kek. Anak saya nangis histeris lageeee full nonstop sekitar 1 jam. Hiiihhh. Ujungnya bisa pasang infus sama suster Poli yang ramah huh. 

Emang ya kayaknya suster poli lebih terampil handling anak-anak karena tiap hari ketemu, beda sama dokter dan perawat UGD. 

Nih ya gara-gara proses pasang infus yang "mengerikan" itu anak saya jadi trauma! Dia gak mau ditidurin di kasur sendiri... Mungkin dikepalanya kalo tidur dikasur = mau disuntik. Liat suster masuk kamar inap langsung nangis kejer mungkin inget pas proses pasang infus td. 

Hari pertama di RS adalah yang terberat karena anak saya sama sekali gak mau turun dari gendongan. Posisinya saya sendirian saat itu, suami cuma ijin bentar dan harus balik ke kantor lagi, gak ada keluarga yang bisa bantuin karena kebijakan RS (keluarga sy jg diluar kota semua). Saya pun kesusahan karena gak bisa gendong bebas. Gendong sambil diem aja kan cuaapek banget yaaa... Harus sambil gerak-gerak jalan sana sini untuk ngurangin pegelnya tapi mau gerak juga susah kehalang selang infus huhu

Saya mau makan pun susah... Mau sholat pun susah... Minta tolong suster g mungkin karena dia liat suster aja nangis... Mau nyebokin tuan gan.gan yang masih mencret (diagnosa dokter kena diare) juga susaaaahhhh... Saat itu rasanya hayang ceurik wae lah 😭😭😭😭Satu-satunya solusi ya nunggu suami saya pulang kantor.

Moment yang membesarkan hati saya yang saat itu lagi capek, pusing karena nangis dan laper berat (baru makan malemnya) adalah pas suami saya bilang gini ke tuan gan.gan :

"tangan kamu kaya tangan robot Gan! Keren deh. Sekarang tangan robotnya dicharge dulu ya" 


Hari kedua opname, saya paksa suami saya ijin dari kantor karena jujur gak sanggup kalo sendirian. Alhamdulillah tuan gan.gan sudah mulai baikan walaupun masih diare (karena bakteri, confirmed lewat hasil cek lab) tapi demam nya sudah mulai turun. Anaknya juga udah keliatan seger dan mau tertawa sama paparnya. Sebelumnya mah hiiii... Surem bangetttt gak ada senyum-senyumnya (yaiyalaaaa wong lagi sakit) 

Hari ketiga opname, tuan gan.gan udah mulai berenergi hihi sudah mau merayap-merayap pegangan di sofa, sudah mau main sama buku ceritanya, udah mau ngemil juga. Tapi sama dokter belum dikasih izin untuk pulang karena perlu evaluasi ulang lewat cek laboratorium. 

Hari ke empat, tuan gan.gan sudah boleh pulang yeaaayyy... Diare sudah berhenti. Pup sudah berampas, tidak demam, sudah mau makan, ceria dan hasil lab juga OK. 

Kalo ditanya apa penyebab diare nya? 


MUNGKIN.... mungkin ini mah ya... Berdasarkan cocoklogi saya aja... Diare tuan gan.gan disebabkan karena kejadian sehari sebelum dia dibawa ke RS. 

Waktu itu hari minggu. Tiap weekend tuan gan.gan banyak main sama papanya sementara saya akan sibuk ke pasar, di dapur dan cuci setrika untuk keperluan seminggu kedepan. Mainan tun Gan.gan sengaja gak pernah saya bereskan, saya biarkan terhampar di ruang TV tempat dia main. 

Lalu papanya waktu itu ajak main dia dikamar sambil bawa 3 board book ke kasur. Main lah mereka... Gak tau ya ini mereka main berdua atau anaknya main sendiri sementara bapaknya sibuk main HP 😡😡😡😡 *sering terjadi Buk Ibu... Nitipin anak ke Pak Bapak, anaknya ngapain... Bapaknya ngapain* 

Siangnya, mereka masih main tuh di kasur. Saya ikut gabung. Saya mau bacaan 1 board book eh pas saya buka itu board book ternyata ada cicak kecil mati kegencet buku itu!!!! Langsung saya lempar itu buku saya buang langsung. Nah disini nih keteledoran kami sebagai orang tua. Saya curiga tuan gan.gan duluan yang nemuin hewan sialan itu terus mungkin tangannya masuk-masuk mulut (ini saya bayanginnya aja merinding) terus bakterinya bikin tuan gan.gan sakit. Daaannn... Bener aja mulai sorenya dia demam. 

Saya teledor karena gak bersihin dan beresin mainan yang berhamburan di ruang TV. Papanya teledor karena gak memperhatikan apa yang anaknya mainin. 

Yha well udah telat juga kalo mau main salah-salahan... Yang penting kami belajar banyak dari kejadian ini. 

Inget, jadi orang tua itu susah. Tapi bukan berarti gak mungkin selama mau belajar dan terus belajar berkembang bersama anak. 

Sekian tulisan saya kali ini, semoga ada manfaatnya untuk yang membaca :') 


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wassalamu'alaikum and see ya~
💗Salam hangat dan have a good day💗