Follow Us @soratemplates

Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Thursday, 29 November 2018

Dunkirk/Action-Drama-History/2017

November 29, 2018 2 Comments
Sumbernya dari sini
Main cast: Fionn Whitehead, Aneurin Barnard, Tom Hardy, Harry Style dll.
Rate Imdb: 7,9/10
Director: Christopher Nolan
Movie Ratings Guide: PG-13
Comment:

They need to send more ships. Every hour, the enemy pushes closer
--Captain Winnant--
Dunkirk provide me a 1 hrs 42 mins of never ending tension and teach us that "there was a glimmer of hope in the midst of despair". Sebuah film yang membagi dua kubu penonton: (eeeh bukan ceb*ng dan kam*ret yaaa) penonton yang suka bangetttt atau enggak bangeet. Kalo dari cerita menurut gw biasa aja malah cenderung membingungkan kalo gak pay attention on the detail, cuma kalo dari segi teknis...bagus banget!

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Pada pembukaan gw udah bilang kan kalo Dunkirk ini ekstrim banget sampe bikin orang suka banget atau gak suka banget. Kenapa karena ini adalah film dengan penampilan berbeda yang pernah gw tonton. Ini film sejarah tapi kemasannya out of the box. Oooo jelas, pak Christoper Nolan yang nge-direct ๐Ÿ‘ ingat film Interstellar ? Nah itu salah satu garapan beliau. Udah kebayang kan kira-kira Dunkirk ini gimana ? 

Mirip dengan Interstellar yang baru gw akui kualitasnya setelah 3x nonton. Dunkik baru bisa gw bilang bagus setelah 2x nonton dan baca sejarah aslinya gimana. Pada saat pertama kali nonton, gw bingung hampir setengah jalannya film. INI FILM MAUNYA GIMANAAAA SIHHHH?! ๐Ÿ˜‘ otak gw rasanya kaga nyampe menjangkau kecerdasan pak Nolan. Ntar cerita prajurit-prajurit darat. Ntar cerita bapak-bapak berlayar. Ntar cerita 3 pilot pesawat tempur ๐Ÿ˜ต yang keliatannya gak berhubungan. Tapi setelah gw baca sejarahnya Dunkirk dan re-watch lagi barulah gw paham maksud dan tujuannya pak Nolan mau gimana.


Dunkirk menceritakan proses penyelamatan ratusan ribu tentara Inggirs dan Perancis yang terdesak oleh pasukan musuh di pantai Dunkirk, Perancis tahun 1940 (Perang Dunia ke-2). Para tentara tersebut harus segera dievakuasi dengan cara menyebrang ke Inggris. Masalah muncul ketika kapal perang untuk evakuasi terus-terusan diserang pihak Jerman lewat serangan udara dan laut. Nasib para tentara diujung tanduk. Antara hidup dan mati. Lalu keajaiban muncul dengan adanya ratusan kapal-kapal penduduk yang dengan sukarela berlayar dari Inggris ke Dunkirk untuk membantu proses evakuasi. 

Secara garis besar, ini bukan film tentang kisah heroik seorang prajurit. Jadi gak perlu capek-capek nginget-nginget nama-nama karakternya ๐Ÿ˜‹ Ini film visualisasi salah satu sejarah perang dunia ke-2 lewat 3 sudut pandang yaitu : di darat, di laut dan di udara dengan 3 durasi waktu berbeda, 1 minggu untuk bagian di darat, 1 hari untuk bagian di laut dan 1 jam untuk bagian di udara. Ketiganya ditampilkan lewat editing yang yahud secara bergantian dan saling bersinggungan untuk membangun alur cerita. Keren banget sih ini idenya. Gak heran Dunkirk banyak menang di berbagai awards untuk kategori best editing, sinematografi, efek suara dan directing.
Gampangnya Dunkik adalah materi pelajaran sejarah tentang perang dunia ke-2 yang ditranskripsi ke media audiovisual

Karena fokus utama film ini bukan seorang karakter, makanya disini gak ada pengembangan karakter. Ada sih subplot survival beberapa prajurit yang berusaha selamat dari serangan-serangan musuh di laut. Tapi tetep aja gak ada satu pun karakter yang didapuk untuk membangun emosi penonton karena balik lagi, emosi dan suasana disini emang mau dibangun lewat keseluruhan bagian film terutama musik. Padahal sayang banget disini ada Tom Hardy loh.

Seperti biasa, gw suka banding-bandingin film ๐Ÿ˜†
Awal-awal nonton dan denger efek suara di Dunkirk, (sebelumnya gw gak tau siapa director-nya) gw udah menduga ini pasti director yang sama di film Interstellar karena musik dan efek suara keduanya mirip. Kemiripan lainnya adalah ini film sama-sama bikin puyeng kalo cuma sekali nonton. Interstellar puyeng karena istilah yang dipake berat, sementara ini puyeng karena pake 3 sudut pandang.

Kemudian gw membandingkan Dunkirk dengan Pearl Harbor(2001) yang sama-sama berlatar perang dunia ke-2 era 1940an dan bergenre action-drama-history. Kalo bandingin dari segi teknis, jelas Dunkirk diatas angin. Kalo dari segi cerita dan pengembangan karakter, Pearl Harbor is better, cuma bumbu cinta segitiganya kebanyakan ๐Ÿ˜’ Bagian action (perang) di Pearl Harbor juga lebih greget karena lebih fokus pada satu bagian: bombing, beda dengan Dunkirk yang actionnya emang banyak tapi kaya kurang garem dikit gitu hihi lah iya jelas, pan ceritanya pihak Inggris-Perancis udah gak berdaya gak bisa balik nyerang lagi. Apalagi kalo dibandingin sama bagian perang-perangan di film Saving Private Ryan (1998) beuhhhh~ jauh. Saving Private Ryan lebih rame, brutal dan berdarah-darah parah (banget) sampe gw mual liatnya ๐Ÿ˜ฑ


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

As final conclusion,
Dunkirk adalah salah satu film dengan visualiasasi dan editing terbaik. 
Ini bukan tentang seseorang. Ini tentang serangkaian peristiwa sejarah. 

Rate (1-10): 7,5/10
Recommendation (yes/no): Yes

Hope you enjoy my review ya! ๐Ÿ˜Š

๐ŸŽฌSalam Hangat,
Dari yang suka komentarin film

Friday, 9 November 2018

Bajrangi Bhaijaan/Action-Comedy-Drama/2015

November 09, 2018 0 Comments
Sumbernya dari sini
Main cast: Salman Khan, Kareena Kapoor, Nawazuddin Siddiqui
Rate Imdb: 8/10
Director: Kabir Khan
Movie Ratings Guide: NA

Comment:

Gw gak terlalu banyak nonton film asia. Paling beberapa film Korea... Thailand dan yang paling banyak gw tonton adalah India. Gw makin tertarik sama Bollywood karena makin kesini tema-tema yang diangkat makin out of the box dan kadang mengangkat tema yang sensitif contonya film PK yang ngebahas tentang agama yang dikombinasikan dengan alien-alien-an ๐Ÿ˜ Nah kalo Bajrangi Bhaijaan lebih ektrim lagi. Mereka ngebahas soal keberagaman beragama di India ditambah konflik India-Pakistan! Soal keberagaman beragama ini menurut gw sangat relate sama kehidupan di Indonesia yang orangnya macem-macem. Dari yang kulit putih sampe gelap. Dari Islam sampe Hindu. Dari Sabang sampe Merauke. Dari appearance aja udah beragam, pasti isi kepalanya lebih beragam kan. 


Gak usah lah ngerasa jadi yang paling superior jadi yang paling bener jadi yang paling suci yang lain penuh dosa. Toh diatas langit masih ada langit lagi.

Spektrum kita tuh luas banget loh. Gak cuma melulu hitam dan putih aja

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Oke, cukup orasi dari gw ๐Ÿ˜
Mari bahas film ini.

This is good movie, must and worth to watch. Selain kedalaman moral value yang disampaikan, lagi-lagi gw tidak hanya dihibur melalui ceritanya tetapi juga lewat pemandangan alam, sinematografi dan kemeriahan set film.

Film ini film yang cocok banget buat ditonton satu keluarga pas liburan. Dari anak-anak sampe oma opa bisa nonton film ini karena menurut gw ini filmnya seimbang antara bagian drama yang sedih-sedihan sama bagian lucu-lucunya. Ya gak heran sih film ini dirilis pas libur lebaran ya ๐Ÿ˜Š 

karena ini adalah family movie, maka alur ceritanya gak berbelit-belit.
Ceritanya simpel. Tentang perjuangan Pawan Kumar Chaturvedi (Salman Khan) untuk mulangin anak kecil yang bisu, Shahida (Harshaali Malhotra) dari India ke keluarganya di Pakistan. Dalam perjalanan nekatnya itu, Pawan ketemu sama jurnalis Pakistan Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui) yang tadinya cuma mau ngeliput berita tapi karena tersentuh sama ketulusan Pawan, akhirnya dia bantuin Pawan walaupun jelas-jelas berbahaya buat dia.

Selama gw nonton ini film 2 jam 40an menit (lama ya filmnya ๐Ÿ˜…), gw gak ngerasa bosen sama sekali. Lah iya gimana mau bosen, dari credit awal aja mata gw udah dijejelin pemandangan deretan gunung es sama padang rumput. Kaya di Swiss gitu deh...padahal gw kira Pakistan itu negara yang tandus dan kering. Ternyataaaa, indah!



Secara garis besar, set film ini dibagi 2. Bagian di India dan bagian di Pakistan. Untuk bagian di India, gw disuguhkan dengan scene-scene yang meriah! meriah dari tone warna yang kontras dan ceria. Meriah dari lagu-lagu dan koreografi tarian yang ditampilkan. Set lokasi yang dibikin ditengah pemukiman padat penduduk, adanya perayaan-perayaan a la India dan pemilihan kostum yang warna-warni juga makin menambah kemeriahan film ini. Seneng deh bawaanya udah kaya tiap hari itu malam takbiran aja deh ๐Ÿ˜ Yang nyenengin lagi disini adalah sinematografi dan editingnya gak monoton. Gak cuma nge-shoot gambar dari depan atau ngikutin gerakan si aktor. Ada scene yang diambil a la pake drone gitu. Ada juga yang a la-a la lagi swafoto. Keren deh.



Bagian di India ini juga merepresentasikan agama Hindu sebagai agama mayoritas dinegara tersebut. Keliatan dari dominasi warna-warna merah dan kuning. Sementara untuk bagian di Pakistan lebih didominasi warna-warna hijau mengingat negara ini kan mayoritasnya emang muslim (Sumbernya dari sini dan ini ) Dari pemilihan warna aja udah jelas mengambarkan soal diversity. It's okay to be different kan ? Toh masalah agama itu masalah kepercayaan. Percaya silahkan, enggak percaya ya udah. Gak usah dipaksa: Eh lu kalo muslim kudu begini. Eh lu kristen kok begitu. Eh...ehh... dan eehhh ehhh lainnya ๐Ÿ˜‘ 

Yang penting saling menghormati dan menghargai ibadah masing-masing

Back to movie. Secara keseluruhan scene-scene di Pakistan gak semeriah di India karena emang lokasi yang dipake daerah perbatasan yang sepi dan tandus. Mirip banget sama daerah-daerah middle-east yang berpasir. Tapi mendekati akhir cerita, middle-east berubah jadi scene Eropa! Hamparan padang rumput dengan gembala domba dan kambingnya. Adem bener deh liatnya~

Konflik dalam film ini terjadi dengan adanya bumbu sejarah konflik India-Pakistan yang udah berlangsung lama. Kalo pernah nonton film Veer Zaara (2004) bakal relate juga sama film ini karena sama-sama bawa-bawa sejarah konflik India-Pakistan cuma bedanya Veer Zaara lebih dikemas dengan bumbu romantisme dan perjuangan HAM (hak asasi manusia) lewat pengadilan sementara Bajrangi Bhaijaan dikemas dengan bumbu komedi. FYI, setelah Inggris caw dari tanah Hindustan, orang-orang India sama Pakistan ini bikin negara masing-masing. Tapi terus ada rebutan wilayah yang namanya Kashmir (yang disebut surganya dunia). Nah gara-gara rebutan ini lah akhirnya memicu konflik berkepanjangan antar dua negara ini (Sumbernya dari sini dan ini). Keliatan banget disini gimana susahnya Pawan dan Shahida mau ke Pakistan lewat jalur yang legal mengingat Pawan ini adalah orang yang agamis dan idealis banget. 
Niat baik harus dengan cara yang baik!
Katanya, lebih susah ke Pakistan daripada ke Amerika ๐Ÿ˜†

Komedi disini ditampilkan bukan cuma dari permainan dialog aja. Tapi juga lewat adegan-adegan simple dengan editing dan back sound yang selaras. Yang paling lucu menurut gw adalah pas adegan Chand dan Pawan (dengan Burqanya) yang pura-pura jadi pasangan suami istri yang kawin lari ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† ohiya ada lagi! Pas adegan Chand lagi berusaha mau liputan suasana lebaran di Stasiun! Dia bolak-balik ngulangi liputannya gara-gara banyak orang sliweran depannya. Ternyata susah ya jadi jurnalis itu ๐Ÿ˜€

Lalu puncak konflik dalam Bajrangi Baijaan adalah terjadinya kucing-kucingan dan putar balik fakta yang dilakukan oknum setempat supaya India-Pakistan tetap tegang. Tau lah ya tipikal politik jahat itu gimana, apapun dilakukan demi kepentingan pribadi. Konfliknya gak cuma itu. Ada juga konflik internal dalam diri Pawan. Pertama konflik yang muncul karena dahsyatnya bonding yang tercipta antara Pawan dan Shahida. Kedua karena idealismenya soal agamanya. Menarik nih! Soal idealisme agama ini gw pernah merasakan sendiri. Tau Candi Borobudur ? Gw pernah dikomentarin gini "kamu ngapain jalan-jalan ke tempat ibadah agama lain?" gara-gara pas liburan kuliah gw kesitu, laaaah.... ๐Ÿ˜… kan gw juga ke situ gak pas lagi ada ibadah dan cuma pengen wisata doang. Yakaliiiii...emang ada yang gara-gara ke Borobudur terus tau-tau pindah agama ? KAN ENGGAAAKKKKKKKK, markonaaahhhh ๐Ÿ˜’ Akutu bingung sama orang yang kaya gitu...

Sumbernya dari sini

Bicara soal akting, wah... big applause lah buat Salman Khan, Harshaali Maholtra dan 
Nawazuddin Siddiqui. Mereka nih kunci dari pembangunan emosi dalam film ini. Apalagi Harshaali yang dia cuma ngomong 1 kalimat doang tapi sukses bikin penonton jatuh cinta dengan ke-imutan-nya tapi sekalinya dia nangis bikin penonton berkaca-kaca. Gak heran mereka dapet banyak award dan dinominasikan dimana-mana. Contohnya Nawazuddin Siddiqui menang sebagai Best Actor in Supporting Role untuk Apsari Film Producers Guild Awards tahun 2016, Harshaali Maholtra menang sebagai Best Child Actor untuk Screen Awards tahun 2016.
Sebagai penutup ulasan gw, film ini mengajarkan kita bahwa:

Humanity gak mengenal SARA
Pokoknya gak akan rugi meluangkan waktu 2,5 jam untuk nonton Bajrangi Bhaijaan karena banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita dapet darinya ๐Ÿ˜Š Happy watching~


Rate (1-10): 9/10
Recommendation (yes/no): Yessssss!!! wajib harus pake banget.

Hope you enjoy my review ya! ๐Ÿ˜Š

๐ŸŽฌSalam Hangat,
Dari yang suka komentarin film

Saturday, 3 November 2018

Catch Me If You Can/Biography-Crime-Drama/2002

November 03, 2018 0 Comments
Sumbernya dari sini
Main cast: Leonardo Di Caprio, Tom Hanks
Rate Imdb: 8,1/10
Director: Steven Spielberg
Movie Ratings Guide: PG-13 

Comment: 

"Catch me if you can"
Kalo denger kalimat itu gw teringat 2 hal:
Pertama: sebagai salah satu lagunya Girl's Generation (SNSD). 
Kedua: It's Di Caprio's film! 

Yang pertama bikin gw ngerutin alis karena ini bukan lagu, music video (MV) ataupun koreografi terbaik dari SNSD. Gak ada yang menarik disitu. Mungkin SM Ent. lagi pengen bikin SNSD in another version tapi menurut gw sih gagal. Sorry SONE ๐Ÿ™ Kalo mau liat gimana MVnya bisa klik link youtube ini

Nah! untuk Catch me if you can sebagai film, bikin gw mesem-mesem ๐Ÿ˜ Babang Leo, waktu muda ternyata kyuuut yeeee~

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Kalo denger dari judulnya, bayangan pertama gw ketika denger (denger doang loh ya tanpa liat trailer sama poster filmnya) judul film "Catch me if you can" adalah perjungan cinta seorang lelaki yang gigih kepada perempuan yang sulit ditaklukan dan filmnya penuh drama-drama percintaan yang akan lovey-dovey gitu.  Tapi deng..dong.. I was wrong. Ternyata ini film cerita kucing-kucingan antara penipu kelas kakap dengan FBI. Ketipu deh gw ๐Ÿ˜† Etenang. Walaupun gw tertipu sama judulnya, tapi setalah sekitar 2 jam 21 menit nonton film ini, gw gak merasa wasting time karena ini film worth to watch. Biarin deh ketipu juga.

Catch me if you can berlatar tahun 1960an, bercerita tentang Frank Abagnale Jr. (Leonardo Di Caprio) seorang anak SMA yang lihai menipu Bank hingga jutaan USD dengan bermodalkan cek palsu hand made-nya. Selain itu, Frank punya modal lain yaitu tampang yang memikat hati dan lambe yang lemes (alias pinter memanipulasi) untuk ngerayu cewek-cewek demi kemulusan rencananya. Selama beraksi, ternyata aksi tipu-tipunya tercium sama agen FBI khusus penipuan, Carl Hanratty (Tom Hanks). Terjadilah kejar-kejaran yang entah gimana malah memunculkan hubungan khusus antara Carl dan Frank, bukan sekeder petugas dan penjahat.

Walaupun film ini dilabeli dengan kategori 'crime', film ini bukannya serem tapi malah berkesan indah dan menyenangkan buat mata dan kuping gw. Sangat mendukung label 'drama'nya. Kenapa ? Coba liat beberapa cuplikan film dibawah ini ⬇⬇⬇⬇⬇ Buat gw ini cakep banget! 




Keindahan film ini munculnya dari sinematografi dan musik yang diramu lewat editing yang oke. Kadang-kadang kamera zoom-in untuk ngeliatin hal yang detail, kadang-kadang close up untuk ngeliatin ekspresi aktornya, kadang-kadang gerak ngikutin aktornya jalan sana sini biar lebih dinamis. Bikin gak boring deh ๐Ÿ˜€ terus ya dari awal sampe akhir film, backsoundnya itu musik-musik instrumen a la jazz (eh apa blues ya?) yang identik sama era tahun 50-60an. Ngasih sensasi calming dan menyenangkan buat gw. Cuma sayangnya untuk beberapa bagian yang harusnya menegangkan, gara-gara backsoundnya yang begitu jadi kerasa kurang nendang aja. Best part is editing! Suka banget gw sama efek yellowish, blink-blink sama gloomy difilm ini. Efeknya warm gitu deh. Sinkron sama setting tempatnya yang rata-rata emang pake kota dengan cuaca hangat yang punya pesisir pantai kaya California, Miami dan New Orleans. Selain yellowish, ada juga efek bluish disini tapi cuma untuk scene-scene yang kesannya gelap dan kejam. Kaya ini:
Kantor FBI
Penjara di Perancis
Gak heran sih film ini lumayan banyak dinominasikan (beberapa diantaranya bahkan ada yang menang) dibanyak award pada tahun 2002-2003. Contohnya aja :

Academy Awards, USA 2003

Nominee
Oscar
Best Actor in a Supporting Role
Christopher Walken 
Best Music, Original Score
John Williams 

Golden Globes, USA 2003

Nominee
Golden Globe
Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Drama
Leonardo DiCaprio 
BAFTA Awards 2003

Winner
BAFTA Film Award
Best Performance by an Actor in a Supporting Role
Christopher Walken 
Nominee
Anthony Asquith Award for Film Music
John Williams 
Nominee
BAFTA Film Award
Best Screenplay - Adapted
Jeff Nathanson 
Best Costume Design
Mary Zophres 

Nah terus kenapa film ini punya label 'biografi' ? Karena ini film emang based on true story nya Frank Abagnale asli yang sekarang jadi Law Enforcement Consultant Amerika, penulis buku (The Art of the Steal (2001) dan Stealing Your Life (2007)) dan pengajar untuk Akademi FBI. Sumbernya dari sini dan sini 

Kayaknya, film hollywood itu selalu nambahin adegan kissing ๐Ÿ’‹ mau apapun genrenya yaa, sebagaimana orang Indonesia yang masak hampir selalu pake garem. Termasuk Catch Me If You Can. Menurut gw adegan kissing-nya cukup intens (bikin gw deg-degan bok! ๐Ÿ˜) dan sedikit (banget) menjurus kearah 'itu'. Ya menyesuaikan sama rating umurnya yang dikasih PG-13 tapi  kalo untuk di Indonesia kayaknya harus dinaikin lagi ke R (Restricted) deh. Jadi kalo mau nonton ini, make sure gak ada bocah yaaa ๐Ÿ˜„ Kalo mau tau soal ratings guides bisa klik disini

Ngomong-ngomong soal plot dan irama film ini, sejujurnya gw agak ngerasa membingungkan. Maju mundur. Beruntung Leonardo dipakein gaya rambut berbeda untuk 4 masa di film ini jadi lumayan bantu sih. Jadi kalo rambutnya begini pas dia begini. Kalo rambutnya begitu pas dia begitu. Terus, secara umum, gw gak ngerasa ada emosi khusus yang terbangun. Tegang juga enggak. Sedih sampe nangis-nangis juga juga enggak. Exciting yang sampe penasaran dan bikin deg-degan juga enggak. Just okay aja gitu. So so lah~ Tapi bukan berarti film ini jadi film yang lempeng-lempeng aja ya... malah lebih terbangun rasa sedikit kasian sama si Frank sih jadinya. Dan yang pasti gw merasa menyenangkan nonton film ini. Ibarat ombak dilaut, ini jenis ombak yang mendayu-dayu gitu. Gak tenang tapi gak ngagetin juga.

Sans dulu ah~ Sumbernya dari sini
Kalo dibandingkan sama film sejenis, gw akan bandingkan dengan A Beautiful Mind (2001/PG-13/Biografi-Drama). Sama-sama dari kisah nyata seseorang, sama-sama ada dramanya tapi gw merasa lebih tegang dan deg-degan nonton A Beautiful Mind ketimbang Catch Me If You Can padahal gak ada label 'crime'-nya ๐Ÿ˜ƒ Intinya beda pengemasan sih. Kalo suka yang memacu adrenalin boleh tonton A Beautiful Mind kalo suka yang tenang-tenang boleh pilih Catch Me If You Can.

Oiya ada 1 scene yang gw heran itu fungsi dalam filmnya apaan: scene awal banget jadi kaya ada si A, B (Leonardo Di Caprio) dan C ikutan variety show yang mana ada panelis yang harus nebak dari A,B,C itu siapa yang palsu lewat QnA (Ada kok acara TV Indonesia yang kaya gitu, tp gw lupa namanya apa ๐Ÿ˜†) mungkin tujuan scene tersebut untuk ngasih garis besar film tapi gw rasa sih gak perlu. Soalnya latar belakang tiap tokoh dan latar belakang masalah difilm ini udah cukup jelas disajikan sepanjang film. Kalo kitanya ngikutin, gampang kok dipahami ini film arahnya mau kemana.

Kalo ngomongin akting, ya gak usah ditanya gimana totalitasnya Tom Hanks sama Leonardo. Mereka udah kawakan. Kalo orang-orang terkesan sama aktingnya Christopher Walken sebagai Frank Abagnale Sr. sampe dinominasikan dan menang dibeberapa award, gw juga. Apalagi pas scene dia lagi curhat sama anaknya sampe speechless cuma mangap-mangap doang, mata udah berkaca-kaca tapi dia tetep harus pura-pura kuat didepan anaknya. Anak mana yang gak terpotek hatinya liat bapak yang dia kagumi sebegitunya nangis sesedih itu? ๐Ÿ’”๐Ÿ˜ญ

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Oke, final conclusion dari gw:

Seperti yang udah gw jelasin panjang lebar diatas, kalo lagi cari film bertema crime yang gak  kaya biasanya dengan kemasan vintage cantik dengan sensasi menyenangkan dan calming, mungkin Catch Me If You Can bisa jadi pilihan untuk berakhir pekan. Tapi kalo cari film crime yang ada sensasi mendebarkan, film ini bukan jawabannya. 

Rate (1-10): 7,5/10
Recommendation (yes/no): Yes

Hope you enjoy my review ya! ๐Ÿ˜Š

๐ŸŽฌSalam Hangat,
Dari yang suka komentarin film

Thursday, 25 October 2018

Real Steel/Action-Drama-Family/2011

October 25, 2018 0 Comments
Sumbernya dari sini
Main cast: Hugh Jackman
Rate Imdb: 7,1/10

Comment: 

Real Steel...Baja Beneran Hahahah ๐Ÿ˜† Hoahmm ๐Ÿ˜ช Duh gw tuh bingung gimana mau ngebahas film ini. 
Ini salah satu film yang susah gw bahas karena sejak awal gw udah gak minat nonton ini. Asli ini ngebosenin banget ๐Ÿ˜‘ Tapi gw heran kok banyak yang bilang bagus ya ?

Ini gwnya yang emang gak pay attention ke film ini pas nonton apa emang film ini bukan selera gw ya ? Yeah idk.

Mungkin kalo lu doyan sama robot-robotan, you gonna love this film.
Atau lu sedang mencari film yang bisa ditonton bareng sama anak-anak (apalagi cowok) yang masih usia TK-SD gitu, film ini bisa jadi pilihan lu dan bikin anak-anak terpesona~ kupada pandangan pertama~ ๐ŸŽถ

But for me? Big No.
Kalo film robot-robotan I still prefer Transformers (1-3 only, 4th is ๐Ÿ‘Ž)

Sebagai gambaran, ini film tentang seorang ayah, Charlie Kenton (Hugh Jackman) penggila robo-boxing (main tinju pake robot) yang gak bertanggung jawab sama anaknya yang belasana tahun kemudian si anak Max Kenton (Dakota Goyo) dipaksa untuk spending summer holiday sama si Charlie. Terus mereka berdua yang tadinya saling benci jadi saling membutuhkan karena sebuah pertandingan robo-boxing.

Yah...dari ringkasan cerita diatas aja udah kebayang gimana-gimananya.
Ayah yang troublemaker. Anak yang sok bijaksana. Anak menyadarkan si Ayah. Robot bertarung. Lalu menang. Hore. Udah cuma gitu. Klise.

Bener ya kata review-review Imbd yang kasih rate jelek film ini: PREDICTABLE FILM.
Bahkan gw (yang suka loading) udah menduga alur ceritanya bakal gimana dan akhirnya gimana sejak awal film. It was seriously boring. Udah hoaam...hoamm mulu dah gw selama nonton film ini. Itu juga gw paksain nonton biar si aa gak ngoceh mulu soal Real Steel yang katanya bagus yang katanya lebih epic dari Transformer. Nah ๐Ÿ˜‘
Sumbernya dari sini
Maap ya, gw jadi kubu oposisi dulu sekarang.
Alur cerita yang flat. Gak ada emosi apapun yang gw rasain difilm ini. Sedih enggak. Seneng enggak. Seru enggak. Lucu enggak. Tegang apalagi. ๐Ÿ˜

Yang paling bikin gw makin males sama film ini adalah si Max. Kaya gak realistic aja.
Dialog-dialognya tuh yampun sok orang gede banget  padahal dia baru 11 tahun seumuran Nobita ๐Ÿ˜…
Gw suka geuleuh aja sama anak kecil/remaja yang sotoy dikira idup itu cuma sebatas susahnya PR matematika aja 
Gw masih inget aja ada dialognya yang bikin gw ngoceh:
"Yampun anak kecil kamu tau apa tentang kehidupan yang kejam ini?! Baru 11 tahun aja udah jumawa kau"
Gak masuk akal lagi adalah, dia yang ngutak-atik robot. Yang masang ini itu ke si robot. Seriously?! 11 tahun udah bisa bogkar pasang robot ?
Ada lagi. Masa anak sekutil gitu kuat ngangkat robot gede (yang di gambar pertama) dari bawah lembah keatas lembah seorang diri pas malem-malem dan hujan deras? Situ Limbad apa gimana dah ? ๐Ÿ˜’

Sumbernya dari sini
Padahal difilm ini ada Bailey Tallet (Evangeline Lilly) yang bisa otak atik robot. Tapi justru dia diposisikan sebagai supporting mental system nya si Charlie doang. Hmmmm ๐Ÿ˜’

Coba aja kalo akhir filmnya dibuat begini: "Charlie dan Max udah punya bonding sebagai ayah-anak lalu karena keputusan pengadilan mereka harus terpisah" supaya rada-rada dramatis gitu. Tapi sayangnya enggak tuh ๐Ÿ˜‘ gw lebih ngeliat Chalie dan Max itu kaya pelatih sama atletnya aja. 

Atau diselipin scene Farra Lemkova (Olga Fonda) main curang ke si robotnya Charlie sebelum pertandingan. Misal dipretelin kek atau dibuang ke jurang atau digiles mesin. Kan jadi lebih greget ya. Lah ini mah ya lempeng-lempeng bae ๐Ÿ˜ Gw jadi mempertanyakan sebenernya difilm ini ada bener-bener villain nya gak sih ? 

Ada sih villain yang ngeroyok si Charlie sampe terkapar terus ngambil duitnya. Terus ya udah aja gitu keesokan harinya Charlie sudah sehat walafiat ๐Ÿ˜ coba misal dibikin Charlienya kaga bisa jalan atau masuk rumah sakit jadi si Max yang harus bertanding nemenin si Robot. Terus Charlie muncul pas si robot udah menang dan memandang Max dengan bangga. Kan rada keren gitu ya

Mbok dibikin ada kejutan gitu loh... Hambar pisan lah ini film ketebak semua.

Tadi sempet baca di Twitter, banyak yang ngarep film ini dibikin sekuel.

Me:
Sumbernya dari sini
Tapi gw ini oposisi yang baik kok. Kalo ada yang bagus ya bakal gw sebutin kok.
Untungnya ya...untungnyaaaa... Hugh Jackman-nya ngganteng ๐Ÿ˜dan gak setua pas jadi Wolverine hihi.
Selain itu teknik tinjunya juga ya boleh lah~

Kalo dirangkum dari pengamatan gw dan baca review Imdb,
Ini adalah film Robot-Rocky Bilboa yang membosankan


Sorry to say Hun, rekomendasi film aa yang ini ๐Ÿ‘Ž

Rate (1-10): 5/10
Recommendation (yes/no): No

๐ŸŽฌSalam Hangat,
Dari yang suka komentarin film

Tuesday, 23 October 2018

Bad Genius/Drama-Comedy-Crime/2017

October 23, 2018 0 Comments
Sumbernya dari sini
Main cast: Chutimon Chuengcharoensukying
Rate Imdb: 7,7/10
Comment: 

Ada yang pernah nonton film Perfect Score ? itu loh film taun 2004 yang mainnya Chris Evans sama Scarlett Johannson yang tentang sekelompok anak sekolah yang berkomplot untuk mencurangi SAT biar mereka bisa masuk kampus impian...semacem SBMPTN kali ya kalo disini. Talk about this film, gw dulu nonton ditahun 2008an pas semester akhir kelas 9 SMP. Direkomendasiin temen sekelas supaya pas Ujian Akhir nanti termotivasi 'sukses bersama'. Yeaaaa... that 'sukses bersama' have million meaning ๐Ÿ˜ YKWIM laaa~

Mbak Scarlett masih unyu-unyu ๐Ÿ˜› (Sumbernya dari sini)
Bad Genius ini banyak sedikit satu tema sama Perfect Score. It's all about cheating for some reason.

Let me make it clear first: Cheating is bad. 
Sebagai gambaran, film ini bercerita soal Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) anak SMA super jenius yang memanfaatkan kepintarannya. Awalnya dia cuma mau bantuin temennya. Tapi lama-lama dia lihat ada keuntungan yang bisa dia ambil disitu. Pada puncaknya, dia dan Bank (Chanon Santinatornkul) harus mencurangi STIC (SAT-nya orang asing yang mau kuliah di Amerika) di Sydney, Australia dan mengirim jawaban tersebut ke komplotannya di Thailand.

Mari kita kupas setajam...golok ๐Ÿ˜†

Film ini dibuka dengan scene yang bikin penasaran dan bikin penonton bertanya-tanya. Bikin harus lanjut nonton. Makin ditonton kok makin ngerasa "waduh ini gw banget! Gw pas jaman SMP-SMA nih!". Harus lanjut nonton nih... 

Intermezzo. Gw waktu SMP apalagi SMA bandel banget. Doyan nyontekin orang. Bukan karena gw pinter banget kaya si Lynn tapi lebih karena kepuasan batin aja. Seneng aja bantuin temen. Tapi sayangnya bantuin dalam hal yang gak bener ๐Ÿ˜† Gw pernah sekali ketauan cheating pas SMP. Ujian matematika kelas 8. Gw duduk ditengah. Kiri belakang gw si Virda. How I cheat ? Pake kalkulator yang ditaroh dilaci meja mengingat gw ini payah sekali dalam berhitung ๐Ÿ‘Ž How I caught ? pas lagi ngitung pak kalkulator (tangan gw dibawah meja semua) si Virda manggil-manggil mau nanya rumus. Bodohnya gw terus sibuk ngitung tanpa liat kanan kiri terus nyeletuk "ntar dulu ih. Nanggung lagi ngitung". Ternyata Pak Pengawas (waktu itu Pak Hudaya, guru Biologi terasik sepanjang SMP gw) ada disekitar gw dan langsung nanya "kamu ngitung pake apa? kok tangan dibawah semua?" yah sebagai tersangka gw mah cuma bisa ketawa sama temen-temen sekelas. Untungnya gw gak dilaporin ke guru mata pelajaran heheh cuma disuruh simpen kalkulator aja. FYI, gw udah tobat gak cheating pas ujian sejak kuliah hihi ๐Ÿ˜

Kembali ke laptop~

Semakin ditonton ternyata waduh...ini film kok ya Asia (terutama Indonesia) banget. Selain kecurangan dari sisi murid, juga ada kecurangan dari pihak sekolah.

Konflik yang ditampilin difilm ini tuh enak banget. Bertahap gitu. Dari konflik yang ecek-ecek. Masuk ke yang moderat sampe konflik pamungkas yang jadi inti masalah dalam film ini. Motive kemunculan konflik juga kuat. Ditampilin secara visual yang pasti ya gak cuma 'katanya' seorang tokoh aja ๐Ÿ˜.


shut up your mouth just enjoy the film! (Sumbernya dari sini)

Selain jalan cerita yang alus dan ide teknik nyontek yang gak kepikir sama otak rata-rata gw, gw paling suka sama sinematografinya! Bagus banget.
Here the sneak peek





Music dan backsoundnya juga mendukung ditambah sisipan musik klasik makin makin bmembangun suasana tegang pas lagi nyontek hahah.

Apalagi ya ? oiya. Akting. Gak ada masalah. Two thumb up buat Chutimon dan Chanon. Yang bagus lagi difilm ini make upnya natural. Bener-bener gambarin ini loh anak sekolahan tuh begini...bare face. Kadang kucel kalo keringetan. Anak sekolahan banget kan ?

Ada lagi ada lagiiiii. Untung difilm ini ada si Pat (Teeradon Supapunpinyo) anak konglomerat tapi otaknya terbatas yang bikin film ini renyah karena komedinya. Lebay tapi malah bikin ngakak ๐Ÿ˜

Bukan Iqbaal loh ini

Nah yang bikin gw gusar adalah pada scene terakhir yang udah bikin jantungan tapi tiba-tiba bikin gw rada kecewa karena ada 1 pengawas ujian yang ngejar si Lynn dari lokasi ujian sampe ke Subway cuma buat nyuruh dia balik ke lokasi ujian untuk dimintai keterangan untuk kasus orang lain (๐Ÿ˜•?) Loh emang gak bisa di telpon aja kan pasti ada data-data peserta ujian kan. Rada gak guna sih scene ini.

Kok gak kasih 9 kaya film Dhrisyham ? kenapa yaaa ๐Ÿ˜… soalnya intensitas kengeriannya belum se-wah Dhrisyham heheh
Dari film ini gw jadi kepikiran, "Apakah layak mencurangi kecurangan ?
My answer: Tujuan baik harus dilakukan dengan cara yang baik


Rate (1-10): 8/10
Recommendation (yes/no): Yes. 

Friday, 19 October 2018

Drishyam/Drama-Crime/2015

October 19, 2018 0 Comments
Sumber gambar
Main cast: Ajay Devgn
Rate Imdb: 8,3/10

Comment: 

Bole chudiyan~ bole kagna ๐ŸŽถ
Haai main ho gayi teri saajna ๐ŸŽถ
Tere bin jiyo lag da main te margaiya ๐ŸŽถ

Siapa yang bacanya sambil nyanyi? ๐Ÿ˜ Berarti kita satu generasi wkwkwk

Kalo jaman gw kecil, film Bollywood identik sama kisah percintaan yang selalu ada Inspektur Vijay dan joget-joget ditengah guyuran hujan. Romantis tapi ya bego juga ๐Ÿ˜ ujan-ujanan apa kaga bikin meriang yeeee ? hahaha
Goyang terus bang (Sumbernya dari sini)
Nah tapi untungnya trend Bollywood sekarang udah bergesar. Gak melulu soal percintaan yang gak disetujui. Gak melulu drama-drama berderai air mata. They have develop into next level! ๐Ÿ˜„Good news for me yang kalo tiap sabtu siang bersemedi dalem kosan cuma buat nonton film India wkwkwk. Bollywood ini ya banyak sedikit sama kaya drama Korea yang sekarang rangenya udah luas banget. Mulai dari drama soal medis sampe drama hukum. Cuma mungkin agak kalah pamor sih ๐Ÿ˜ฅ

Perkembangan film Bollywood ini udah gw rasain sejak jamannya Koi Mil Gaya di tahun 2003 (yang baru gw tonton pas SMA 2008an). Terus dilanjut dengan My Name is Khan ditahun 2010 yang udah mulai ngomongin soal rasisme. Puncaknya ada pada 3 Idiots di tahun 2009 (gw nonton pas kuliah 2011an). They were amazing! Ide cerita, cast, musik dan yang paling penting pesan moralnya keren banget apalagi buat anak sekolahan. Segitu aja cerita sejarah Bollywood gw hahah 

So jangan anggap film India itu cuma joget-jogetan doang yaaa ๐Ÿ˜…

Drisyham. Film drama crime pertama yg gw tonton dari ranah Bollywood! (Thank you kak @hujandisenja  yang sudah merekomendasikan film ini). Ceritanya tentang perjuangan seorang ayah untuk melindungi keluarganya dari kasus pembunuhan yang terjadi diluar dugaan mereka dengan membuat alibi yang detil banget dan celakanya kasus tersebut juga melibatkan salah satu petinggi kepolisian setempat. Simpel tapi rumit juga. mmuach!

Sumbernya dari sini
Akutu sampe bingung mau ngereview gimana biar gak jadi spoiler ๐Ÿ˜ž. Film ini harus dintonton dengan zero expectation (tanpa nonton trailer) biar makin greget hahah. Serius deh. 

Tiga puluh menit pertama agak booring sih (plis bersabarlah ๐Ÿ™) rada lama naiknya. Disini gw rada khawatir kalo filmnya bakalan drama nangis-nangis. Tapi justru disini part yang penting: penggambaran tiap tokoh. Semuanya kuat. Gak cuma berfokus sama tokoh utama Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn) aja. Seteleh 30 menit ini, jantung gw gak habis-habisnya dibikin deg-degan gak karuan berasa gw ada dalem filmnya juga. Intens banget. 

Rasanya kaya lagi nonton Sherlock Holmes (tanpa dr. Watson) vs Dr. Moriarty tapi yang menang Dr. Moriarty hihi ๐Ÿ˜› Holmes cuma kalah 1 langkah aja kok. Tapi faktanya mereka emang sama-sama jenius kan ?

Ide ceritanya sederhana tapi soal pembuatan alibi kejahatanya mind blowing banget ๐Ÿ˜ฑ. Alur ceritanya juga alus banget, pake flashback gitu tapi gak bikin pusing karena maju mundur cantik caantik ๐Ÿ˜ Gak patah-patah. Bahkan selama nonton gw hampir gak ada komentar "kok gitu sih? lah dia kenapa? apaan sih ini?". Gw bener-bener dibawa masuk dalem ceritanya. Beneran dibikin terpaku sama filmnya dan pada scene-scene terakhir adalah Jaw-dropping moment. OUTSTANDING!

(sumbernya dari sini)
Soal akting pemainnya aduh gak usah ditanya. Great! Terutama Meera Deshmukh (Tabu). Yampun dia diem aja udah serem matanya intimidating gitu. Bener-bener nunjukin kalo dia ini petinggi polisi yang heartless sama penjahat yang emang pantes jadi seorang kepala. Tapi dia juga bisa nunjukin sosok keibuannya. Dan jangan lupakan pak Polisi jahat, Gaitonde (Kamlesh Sawant). Aktingnya bikin yang nonton pengen nabok aja bawaanya ๐Ÿ˜

Backsound sama lagu yang ada sepanjang film ini juga pas. Gak too much dan gak ada joget-joget loh ya. Pas secene seneng ya lagunya yang seneng. Pas scene sedih lagunya sedih. Apalagi backsoundnya, makin membantu membangun ke-intens-an film ini. 

Alasan kenapa gw gak kasih 10/10 (selain karena kesempurnaan hanya milik Tuhan) adalah karena the alibi is too perfect. Kok bisa ya ? Ketika ada celah yang bisa dipakai polisi untuk ngorek-ngorek bukti supaya Vijay bisa dijeblosin ke penjara pasti Vijay udah antisipasi duluan. Padahal ceritanya si Vijay ini berpendidikan rendah. Jadi aja sepanjang film gw ngoceh "waduh waduh ketauan nih! waduh kebongkar nih!waduhh...waduhhh..." ๐Ÿ˜ฑ 

Oiya ada lagi yang rada ganggu gw. Seragamnya Meera Deshmukh terlalu ketat woooooyyyy. Masa petugas pelayanan masyarakat baju kerjanya 'macem' itu. Sesak liatnya ๐Ÿ˜“ plis atuh lah

Waduh baju mbaknyah ๐Ÿ˜จ  (sumbernya dari sini)
Lupak! ada lagi. Pas scene pertama, ada Polisi pindahan mau nanya lokasi kantor polisi Pondolem (nama kota) ke pemilik warung... ternyata kantornya pas disebrang warung itu. wkwkwk ๐Ÿ˜‚ Mon maap dia polisi apa Dora The Explorer ya ?

Best scene:
Zoom in dengan aktor yang balik badan 1 per 1. Dramatis banget!

Rate (1-10): 9/10
Recommendation (yes/no): ABSOLUTELY YES!!!!!!  

Monday, 15 October 2018

The Grey/Drama-Action/2011

October 15, 2018 0 Comments


Nemu dari sini . Btw serem amat ya poster filmnya berasa lagi diliatin mulu

Main cast: Liam Neeson
Rate Imdb: 6,8/10

Comment:
“Dek nonton The Grey ya” // “castnya siapa?” // “Liam Neeson, itu yang main di Taken” // “ya baiklah” Segampang itu ya gw meng-acc proposal film dari si aa. Asalkan udah pernah liat film lain yang sebelum-sebelumnya ada si actor tersebut pasti deh gw langsung tertarik walaupun gw gak tau synopsis sama trailer itu film kek mana. Sebelumnya si aa udah ngewarning sih ini film ada dramanya tapi gw keukeuh mau nonton dengan keyakinan ini-ada-Liam-Neeson-gak-akan-sedrama-itu. Karena kalo liat dari film-filmnya Liam kaya Taken 1, Taken 2, The Commuter dan The A-Team semuanya film action walaupun ada beberapa yang ada dramanya tapi tetep action yang menonjol disitu ya ibarat kata dia ini sejenis super human kaya Dwayne Johnson, Silvester Stallone atau Berry Prima hahaha tipe jagoan nu hese paeh na hahaha ๐Ÿ˜ 

dari sini

dari sini

Dan jeng…jeng…Awal film gw udah  dibikin hoahmmmm…๐Ÿ˜ช tapi gw masih tetap dengan keyakinan gw, “paling awal doang ngebosenin gini” hahaha ternyata, keyakinanku akhirnya terpatahkan. Ini unsur dramanya mbosenin sampe akhir dan bikin “apaan sih ni film”. Hmmm apa ya, terlalu filosofis mungkin (?) I don’t like it dan pada beberapa bagian dialognya terlalu puitis. Terlalu berat buat otak gw yang jarang dipake mikir wkwkwk Sepanjang film gue yakin in the end of the film, dia selamat. Ternyata bikin gw “dih kok gitu sih akhirnya”. doeng. ๐Ÿ˜ฎ Sisi actionnya kurang greget sih kata gw mah. Cuma berantem bentar sama seseorang dan sisanya survival sama kawanan Srigala. Dan yang biking gw geli juga adalah serigala disini somehow berasa mereka ini palsu. Ntah karena mata gw yang terlalu sering dimanjakan CGInya MCU yang ok atau karena film yang gw tonton kualitasnya bukan HD atau memang karena ditahun itu CGInya belum secanggih sekarang. Tapi tenang, it much better than naga-nagaan sinetron Indosiar kok ๐Ÿ˜Š

Suasana mencekam creepy spooky similikiti dengan latar tempat di hutan cemara ditengah hamparan salju (dan badai) antah berantah di Antartika sana dengan kawanan srigala yang berkeliaran bebas bikin gue beberapa hari ngerasa takut dan gloomy at the same time. Kalo kata si aa mah “justru film yang bagus itu kalo menyisakan kesan setelah nonton. Ya kaya adek yang takut (liat gunung, salju, cemara)”. 

dari sini

Ini film beneran emang lebih condong ke drama sih. Bikin perasaan putus asa dan kaya diaduk-aduk gak jelas sekaligus. Sampe akhir film gw tetep gak paham sama ini film sebenernya mau gimana. Cerita perjuangan idupnya si Liam ya gak juga. Cerita survival dari kecelakaan pesawat ya gak juga. Cerita survival dari srigala gak juga. Bingung akutu. Tapi kalo menilik dari judulnya “the Grey” mungkin ini film emang mau bikin penonton jadi abu-abu dan nggantung gak puguh heheh yang jelas It's all about human desperationHMMMM ๐Ÿ˜ atau emang otak gwnya yang gak nyampe ya wkwkwk. 


dari sini MIKIR WOY MIKIR ๐Ÿ˜“

 Selain CGI yang wkwkw, penggambaran tokohnya yang ngambang dan bikin gw bingung “ni orang sape sih? ni orang kenapa ya?” (terlalu Liamsentris banget deh) dan ke-gloomy-an dalam film ini, gw ngerasa film ini kok rada gak logic ya ๐Ÿ˜’ Ada scene dimana para survivor tinggal 1 atau 2 mil sampe ke tempat yang ada manusianya *cmiiw gw gak berani nonton ulang* tinggal nyusurin sungai. Etapi kok tiba-tiba ada survivor yang nyerah. Tinggal dikit lagi loh mas'e ๐Ÿ˜”setelah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถkok nyerahnya sekarang ? Ada lagi. Ada scene 1 survivor kejebur ke sungai terus ntah gimana caranya kakinya masuk diantara batuan dan berakhir tenggelam. Lah itu gimana ceritanya kaki bisa masuk tapi gak bisa keluar ๐Ÿ˜‘ada lagi nih. Pas si survivor kejebur, mau diselamatin Liam. Tapi gak selamat kan ? Udah bergulat sama air sungai si Liam nangis guling-guling sambil meraung-raung memohon sama Tuhan. apa yak gak kedinginan ? hipotermia? Alaska loh...terus kejebur sungai....super sekali yaaa. Seenggaknya bibir gemeteran kek ya, Ada lagiiiiiii yang bikin alis gw mengkerut. Ada scene pas 1 survivor loncat dari atas tebing puluhan meter ke atas pohon cemara untuk bikin jembatan tali. Amazingly, ybs tidak terluka ๐Ÿ˜ฑ padahal nubruk pohon woy tanpa pake pelindung kepala dll

dari sini

Soal aktingnya om Liam ini yaudah lah ya udah tau, tua-tua keladi. Makin tua makin jadi. Dia bisa keliatan super menyedihkan tapi bisa langsung jadi jagoan gagah apalagi ditambah suaranya yang bikin makin macho hahah. Oiya, FYI gw nulis review ini Cuma berdasarkan ingatan gw nonton film ini di awal Oktober. Gw gak berani nonton ulang dan gak mau juga heheh. So sorry ya kalo banyak yang miss.
Pesan terkuat dari film ini: Makan - Dimakan ๐Ÿด

Rate (1-10): 6/10
Recommendation (yes/no): yes kalo lu olang mau dibikin beneran ‘abu-abu’ sekelabu hamparan hutan cemara ditengah badai salju kutub utara.